Era Digital dan Tuntutan Pola Pikir Multitasking

share on:
Puji Qomariyah SSos MS || YP-Ist

KITA hidup di dunia yang semakin kompleks. Masalah-masalah yang kita hadapi, dari kemiskinan, sampah, hingga kesenjangan digital, tidak datang sendiri-sendiri dengan label milik ilmu ekonomi, atau urusan teknik lingkungan. Mereka datang berjamaah, saling sikut, saling sikat dan membutuhkan solusi yang komprehensif.

BACA JUGA: MilkLife Soccer Challenge Telurkan Bibit-bibit Pesepak Bola Putri Bertalenta Istimewa

Namun dunia pendidikan dan birokrasi kita sering kali masih terpaku pada linearitas. Sebuah konsep yang menuntut kita untuk berjalan pada jalur lurus, fokus pada satu disiplin dan mengunci diri dalam menara gading keahlian. Padahal di luar menara itu realitas sosial berteriak meminta pendekatan yang lebih cair dan kolaboratif.

Multidisiplin adalah multitaskingnya dunia ilmu pengetahuan. Bayangkan Anda sedang bekerja.  Anda menyelesaikan laporan sambil sesekali mengecek email, menjawab chat grup, mendengarkan musik, sesekali ngobrol dengan teman sebelah meja, pesan makanan online atau sambil mendengarkan podcast gossip yang sedang viral? Itulah multitasking, kemampuan mengerjakan beberapa hal sekaligus. Pendekatan multidisiplin adalah multitasking dalam berpikir.  Melatih otak untuk melihat satu masalah dari berbagai kaca mata sekaligus, sosiologi, hukum, ekonomi, teknik dan lain-lain.

BACA JUGA: 30,9 Persen UMKM di Bantul Terkendala Mengadopsi Digital

Ambil contoh sampah di Yogyakarta, pendekatan linier mungkin hanya fokus pada teknologi pengolahan sampah paling mutakhir. Hasilnya? Mesin canggih teronggok karena tak didukung perilaku masyarakat yang sadar buang sampah, regulasi yang tegas dari pemda atau model bisnis daur ulang yang feasible. Sampah tetap menumpuk dan menjadi masalah sampai hari ini.

Dengan multidisiplin kita bisa tanya pada Sosiolog, bagaimana membangun perilaku dan nilai di masyarakat? Ahli Hukum, regulasi apa yang bisa mendorong ekonomi sirkular? Ekonom, bagaimana membuat bisnis daur ulang menguntungkan? Insinyur, teknologi apa yang tepat guna dan terjangkau? Solusinya pun menjadi lebih utuh dan berkelanjutan.

BACA JUGA: Dari Launching 'Anjing Berbukit Kabut', Afnan akan Terus Berteriak

Linieritas itu penting, tetapi tidak cukup. Jangan salah sangka, spesialisasi dan kedalaman ilmu tetap sangat dibutuhkan. Kita butuh ahli bedah yang fokus, programmer yang mendalam, dan akuntan yang teliti. Linieritas memberikan fondasi, tetapi multidisiplin membangun rumahnya.

Lihatlah contoh di panggung politik kita. Ketua Umum Partai Gerindra 2014 adalah Suhardi berlatar belakang kehutanan, tidak linier dengan ilmu politik, berikutnya Prabowo Subianto berlatar belakang militer menjadi ketua umum Gerindra, dan sekarang menjadi Presiden RI dan secara sah dipilih rakyat dan mampu mengintegrasikan berbagai perspektif untuk mengelola kompleksitas negara.

BACA JUGA: Advokat Rizal Bagus Putranto SH Puas Dapat Mendamaikan Dua Pihak Berperkara

Di era AI yang bisa menganalisis data dari berbagai bidang dalam sekejap, apakah kita masih mau bersikukuh pada linearitas sempit?

Salah satu penyakit kronis di dunia penelitian kita adalah hasilnya masuk lemari, bahkan konon kuncinya dilarung di Segoro Kidul sebagai simbol ketiadaan implementasi. Ini terutama terjadi ketika penelitian dilakukan secara monodisiplin dan tidak menjawab kebutuhan riil.

Kolaborasi nyata adalah dengan mengeluarkan penelitian dari lemari arsip Di sini kolaborasi antara kampus (teknokrat) dan Bappeda (birokrat) menjadi kunci. Bappeda tahu persis apa persoalan dan prioritas pembangunan. Kampus punya SDM dan metodologi penelitian. Bayangkan jika hibah penelitian dari Bappeda tidak lagi dikerjakan secara sektoral, tetapi dirancang secara multidisiplin. Hasilnya bukan lagi laporan tebal yang berdebu, tetapi policy brief yang langsung bisa jadi bahan pertimbangan pemda, jurnal multidisiplin yang bisa  terindeks Sinta atau model (prototipe) yang bisa ditawarkan ke industri untuk dikembangkan lebih lanjut. Kita perlu membangun jembatan yang hidup antara menara gading dan kantor pemerintahan.

BACA JUGA: Unjuk Rasa Ratusan Penambang di BBWSSO Yogyakarta, Sempat Diwarnai Blokade Jalan

Tantangan ke depan semakin kompleks, krisis iklim, disrupsi digital dan gejolak sosial ekonomi memaksa kita untuk beradaptasi. Pola pikir dan pendekatan multidisiplin bukan lagi sekadar wacana akademis yang elit melainkan kebutuhan survival.

Sudah waktunya kita melompat dari zona nyaman keahlian tunggal. Mari kita lihat masalah tidak hanya sebagai milikku atau milikmu, tetapi sebagai milik kita yang harus dipecahkan bersama-sama. Mari jadikan ilmu pengetahuan sebagai taman bermain kolaborasi, bukan kuburan linearitas. (Penulis: Puji Qomariyah SSos MS Adalah Dosen Sosiologi dan Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pendidikan-Ilmu Pendidikan SPS UNY)


share on: