Meyogyakartakan Dunia

share on:
Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM

SECARA budaya, Yogya pernah dikenal sebagai Indonesia mini, atau miniatur Indonesia. Karena hampir semua orang dari Indonesia hidup di Yogya membentuk dan membangun budaya baru Indonesia. Kini, ada kemungkinan Yogya bisa menjadi miniatur dunia, dunia mini. Yogya menjadi dunia yang diyogyakartakan.

BACA JUGA: Relawan PT PLN Berhasil Pulihkan Listrik di 15 Masjid Terdampak Bencana Aceh

Banyak hal melebur di Yogyakarta. Dulu, ada kecemasan kenapa banyak nama tempat, seperti kafe, toko, tempat hiburan, kuliner, pakaian, memakai bahasa asing. Asing di sini maksudnya tidak dari bahasa Indonesia atau Jawa. Tapi, karena fenomena peggunaan bahasa non-Indonesia atau non-Jawa terus membesar, lama-lama ada proses bahasa itu melebur sebagai bahasa baru masyarakat.

BACA JUGA: Momentum HAB 2026: Merawat Kerukunan dan Membangun Sinergitas Umat

Bahasa di Yogya berkembang menjadi bahasa dunia, atau bahasa dunia yang dikontekstualisasi untuk keperluan kekinian dan ke depan. Daya hasrat politik ekonomi tampaknya berhasil menegosiasikan bahasa untuk tidak terjebak pada nostalgia bahasa lokal.

Tentu bahasa lokal Jawa akan tetap bertahan dengan caranya sendiri, terutama untuk keperluan-keperluan “budaya resmi”. Namun, bahasa lokal Jawa Yogya justru memberi keunikan yang menyebabkan dunia diasesori dengan dan sebagai sesuatu yang tetap Yogyakarta.

BACA JUGA: Dwi Manunggal Group Luncurkan 'Jusc dan Mexc', Tingkatkan Target Rp 15 M Setiap Bulan

Selain itu, selalu ada berbagai percobaan yang nyeni, simbol-simbol Jawa-Yogya diintegrasikan dalam ruang-ruang dan tempat yang semakin tersebar dalam skala propinsi. Salah satu ikon yang menonjol tentu saja Malioboro. Malioboro telah memperlihatkan bagaimana simbol dan perwajahan dunia, dulu dan kini telah melebur menjadi khas Malioboro.

BACA JUGA: KPSPAM Tirto Makmur Tempel Penyedia Air Bersih yang Perlu Diteladani

Saya berpikir, seharusnya, pada tataran kota Yogya, banyak jalan dan tempat yang perlu “dimalioborokan” sesuai dengan kekhasannya masing-masing. Perlu dipikirkan jalan apa di bagian utara, selatan, timur, dan barat. Hal tersebut sekaligus untuk menyebarkan kepadatan yang bertumpu di Malioboro dan sekitarnya.

BACA JUGA: Patrapadi akan Selenggarakan Haul ke-171 Diponegoro, Ini Agenda Besarnya

Pada tataran propinsi, hal tersebut telah berjalan secara bertahap. Gunungkidul dengan cepat telah mencuri perhatian banyak orang/wisatawan dengan tempat-tempat dan ruang baru. Bukan saja nama-namanya sebagian menggunakan bahasa asing, tetapi fasilitas yang khas di tempatnya masing-masing menyebabkan suasana Yogya tetap bisa dirasakan.

BACA JUGA: Kejari Bantul Selidiki Dugaan Korupsi di Pemkal Wonokromo, Bupati Serahkan Hasil Audit

Kulonprogo, dengan dan berkat YIH, dengan cepat berbenah dan tidak kalah menarik perhatian. Kontur alam dan geogradi Gunungkidul dan Kulonprogo menyebabkan tempat-tempat dibangun dengan cirinya masing-masing. Kemudahan akses perlu dimaksimalkan karena akan sangat membantu bagaimana masyarakat bisa dengan mudah meyebarkan dirinya untuk ikut menjadi bagian dari masyarakat Yogya-dunia.

BACA JUGA: Tanpa Jarak, Presiden Prabowo Habiskan Malam Tahun Baru Bersama Warga di Posko Pengungsian

Sleman, yang banyak mendapat keuntungan karena berbagai perguruan tinggi besar banyak di Sleman, juga dulu ada Adisucipto, perlu bekerja keras kembali agar tidak ketinggalan oleh Gunungkidul dan Kulonprogo. Demikian pula halnya dengan Bantul, yang perlu berpacu kembali untuk mendukung bagaimana dunia bisa dikemas dengan cara Bantul.

BACA JUGA: Bulan Dana PMI Sleman Tembus Rp 1.163.716.680

Namun, yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan Yogya sebagai tempat dan ruang bertahan, ruang model dan percontohan, ruang strategi, ruang laboratorium dunia. Yogyakarta bisa menjadi model bagaimana Indonesia berkembang ke depan.

Terlepas dari itu, tentu masih sangat banyak agenda yang harus dikerjakan dan dipersiapkan Yogya. Pertama, masalah kepadatan dan kemacetan lalu lintas adalah agenda yang perlu dipecahkan dengan cara yang taktis, strategis, dan yang paling menguntungkan. Di Yogya banyak orang pandai, seharusnya hal ini bisa diatasi dengan baik.

BACA JUGA: Dr Ter Hilmi Rahman: Perencanaan dan Tata Kelola Kunci Efektivitas PMN BUMN

Kedua, masyarakat Yogya harus kompak dan saling mendukung untuk menjadikan tempatnya, lingkungannya, kotanya, kabupatennya, kelurahannya, menjadi bagian dari dunia, atau dunia yang diyogyakartakan. Secara ekonomi, hal ini akan sangat prospektif jika dikelola dengan bersih dan sistematis.

BACA JUGA: Naura Bahri Siap Jadi Ikon Gen Z Multitalenta Indonesia 2026

Ketiga, hindari sikap-sikap eforia, aji mumpung, merasa paling baik dan benar, dan sebagainya, yang tidak kondusif bagi kebaikan dunia. Masyarakat harus gotong-royong untuk menekan, mengurangi hingga ke titik paling rendah hal-hal kriminal. Yogyakarta harus tetap memberi teladan terhadap kehidupan yang waras. Menyogyakartakan dunia adalah menjaga kewarasan itu sendiri. (Penulis: Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM)

 


share on: