MES DIY Ditantang Ikut Mengatasi Kemiskinan di Yogyakarta

share on:
Ketua Perwakilan MES DIY, Drs Heroe MSi (kedua dari kiri) usai Raker MES DIY, Sabtu (21/1/2023)

Yogyapos.com (BANTUL) - Masyarakat Ekonomi Syariah (MES DIY) tertantang untuk ikut mengatasi masalah kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan menggelar raker di Hotel Grand Rohan Yogya, Sabtu (21/1/2023).

“Kita sangat prihatin DIY ditetapkan sebagai provinsi termiskin di Indonesia, walau faktanya dan cara penilaiannya perlu dikaji ulang dan diluruskan,” kata Ketua Perwakilan MES DIY, Drs Heroe MSi saat pembukaan Raker MES DIY.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-seorang-terduga-teroris-diringkus-oleh-tim-densus-88-di-dukuh-jetis-jogopaten-9496

Mantan Walikota Yogya itu mengaku heran, sebab sikap orang Yogya yang sederhana, nrima ing pandum dan tidak neko-neko menjadi acuan penentuan untuk menentukan tingkat rangking kemiskinan.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-edy-prabowo-dukung-penolakan-pemilu-hanya-coblos-gambar-parpol-9489

“Orang Yogya itu biasa banget makan sehari dua kali, bahkan banyak yang menjalankan puasa sunah tetapi bukan berarti ini karena tingkat kemiskinan yang mengkhawatirkan,” kata Heroe Purwadi.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-imlek-26-napi-penganut-konghucu-peroleh-remisi-9493

Heroe menambahkan, kalau bicara soal jurang perbedaan antara yang kaya dan miskin, soal penghasilan dan pendapatan, perlu didiskusikan dan diteliti lebih lanjut, maka MES DIY merasa tertantang untuk mengentaskan dan menanggulangi kemiskinan berbasis riset dan pengembangan UMKM secara Islami. 

Mendapat tantangan bagaimana setiap komunitas masyarakat dapat berperan membantu menanggulangi kemiskinan, beberapa peserta raker semangat memberi solusi, diantara Edi Sunarto Sekretaris Umum MES DIY, kemiskinan sangat tergantung pada etos kerja dan kreativitas kerja. 

“Menurut pandangan saya, rasanya salah besar Yogya pada urutan kota termiskin di Indonesia, banyak orang kreatif dan pekerja dengan semangat kepandaian yang tak ada di kota lain kok dikatakan miskin, pasti ada yang salah,” tukasnya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-bank-bantul-akan-peroleh-tambahan-modal-rp-35-miliar-9487

Pemahaman  kesalahan persepsi orang dikatakan miskin juga disampaikan oleh Kepala Bapeda DIY, Drs Beni Suharsono MSi, bahwa siapapun tidak percaya ketika disebutkan bahwa Yogyakarta termasuk provinsi termiskin di Indonesia. Berdasar data dan realitasnya justru banyak kota dan pemerintah daerah di Indonesia belajar bagaimana kreativitas dan kemandirian masyarakat Yogyakarta. “Semua kaget,” kata pejabat yang selalu siap menunjukan kepada siapapun yang ingin melihat data statistik masyarakat dan perkembangan demografi masyarakat DIY di kantor Bapeda di Kepatihan DIY.

“Saya selalu berkantor jam 7.30 WIB silahkan siapapun boleh berkonsultasi dan melihat perkembangan masyarakat,” tandasnya.

Sementara Kepala Satgas Halal DIY H Agus Jaelani SSos MM menduga jangan-jangan angka kemiskinan tinggi di Yogyakarta karena masyarakatnya belum sepenuhnya mendapat ridho dari Allah SWT. “Jadi siapa tahu kita belum diridhoiNya gara-gara mendukung secara tidak langsung pemakaian produk yang tidak halal disetiap yang kita makan atau kita pakai setiap harinya, misalnya makan yang kita makan apakah sudah halal, pakaian yang kita pakai apakah sudah terhindar dari item item yang tidak halal,” Kata Agus “Maka mari siapapun mendukung sukses nya produk halal dalam setiap produk apapun,” harapnya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-servis-arloji-usaha-jasa-anti-mainstream-hingga-kini-9485

Para pengusaha UMKM harus mulai melihat manfaat sacara luas lisensi halal di dalam produk nya. “Pasti akan menambah kualitas produksi dan pengakuan masyarakat,” tambahnya. 

Pada bab lain Tazbir Abdullah pelaku dan pakar pariwisata halal menilai rasanya Yogyakarta yang kaya akan destinasi wisata alam, budaya, sejarah, Mataram Islam sangat mendukung bergeraknya ekonomi dan kondisi bisnis yang bertaut dengan peningkatan produktivitas dan dipastikan mendongkrak pendapatan masyarakat. “Insya Allah kalau pariwisata halal atau muslim friendly digerakkan dengan sungguh sungguh dapat mengentaskan kemiskinan,” kata Tazbir.

“Insya Allah di DIY ini, basis pendapatan ekonomi masyarakat lebih mudah dengan menggerakkan sektor pariwisata,” ujarnya, optimis.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-bupati-dan-disperindag-sleman-digugat-konsumen-pasar-9469

Pada akhir raker oleh Edi Sunarto juga menyampaikan berbagai program pengentasan kemiskinan diantaranya akan menggerakkan sektor UMKM secara bersama dengan lembaga keuangan dan perbankan. Persoalan permodalan akan menjadi prioritas, disamping banyak pelatihan enterpreneur muda Yogyakarta. 

“MES DIY InsyaAllah memiliki banyak cara untuk ikut serta mengentaskan kemiskinan berbasis riset dan solutif,” pungkas Edi Sunarto. 

Di sela Raker diputar film LAnjut yang merupakan kepedulian pendidikan pesantren yang dikerjakan oleh Pita Biru Pengurus MES DIY dan Prambanan Muhammadiyah Boarding School. (*)

 


share on: