Yogyapos.com (YOGYA) - Pelajar, mahasiswa, dan anggota komunitas literasi antusias mengikuti lomba penulisan karya sastra yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka bisa menyelesaikan karya sesuai ketentuan, seperti dari tema lomba yang ditetapkan, ”Sumbu Filosofi Yogya”.
Meskipun untuk masing-masing genre yang dilombakan, yakni puisi, cerpen, dan naskah lakon, masih memerlukan penguasaan teknis penulisan, namun dari beragam peserta dan hasil karya yang masuk ke meja dewan juri, menunjukkan buah dari energi kreatif generasi milenial cukup menjanjikan bagi pengembangan dunia sastra di DIY.
BACA JUGA: 50 tahun Teater Alam, Gubernur: Teater Asah Ketajaman Batin dan Rasa Manusiawi
Dari hasil capaian dari ketiga genre, dimulai dari penulisan naskah lakon, dewan juri menetapkan naskah lakon Sirkus Walandi karya Noviyanti Alfitri, siswi SMA Negeri 2 Wonosari, Gunungkidul meraih juara pertama dalam lomba penulisan naskah lakon yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY. Sementara, Filosofi Alur Kehidupan karya Cantika Nesyaelvia Pratiwi dari Banyuraden, Gamping, Sleman meraih juarakedua. Dan, juara ketiga diraih Bernadetha Astri Putri Nugraheni dari Condongcatur, Depok, Sleman melalui karyanya Sangkan Paraning Dumadi. Dua pemenang lainnya, yaitu Josephin Galuh Hayu Tiratama (SMA Negeri 1 Bantul) dengan karya Tersengat menempati posisi sebagai juara Harapan 1 dan Ahmad Hibban Aunur Rahman (MAN 1 Yogyakarta) dengan naskah lakon Cublak-Cublak Suweng menempati posisi sebagai juara Harapan 2.
BACA JUGA: Pesan Perubahan dari Yogya: Anies Gemakan Keadilan dan Persatuan
Selain itu, para pemenang lomba penulisan cerpen, antara lain Juwita Artha Ferona (SMA Negeri 3 Yogyakarta) dengan karyanya, Tembang Kehidupan meraih juarapertama. Sementara, Bening Christalica Damai Nugraha, mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada meraih juara kedua untuk karyanya, Di Balik Gemerlapnya Malioboro. Kemudian, juara ketiga diraih oleh Azalia Nanda Bahy dari Bantul melalui karyanya, ”Sangkan Paraning Dumadi”. Dua pemenang lainnya, yakni Intan Abellia Agustin (MAN 3 Bantul) dengan karyanya, Sebuah Makna meraih juara Harapan 1 dan Sabrina Nurul Khoirunnisa dari Sidoarum, Godean, Sleman melalui karyanya, Makna Selaras meraih juara Harapan 2.
BACA JUGA: Terdakwa Asusila terhadap 17 Anak Bawah Umur Resmi Ajukan Banding, Ini Alasannya
Para pemenang lomba penulisan puisi, antara lain Muhammad Sheva Athaya (SMA Negeri 9 Yogyakarta) dengan karyanya, Beksan sebagai juara pertama. Juara kedua diraih Atika Tegar Imawati (Palbapang, Bantul) melalui puisinya Notasi Singkat Garis Imajiner, dan Khalilullah (Komunitas Kutub Yogyakarta) meraih juara ketiga melalui puisinya, Relikui Masa Silam. Dua pemenang lainnya, Djessica Yula An Nur (SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo) dengan puisinya, ”Waktu, Mati” meraih juara Harapan 1 dan Haroma Iika Puspita (Gilangharjo, Pandak, Bantul) melalui puisinya, Sumbu Filosofi Yogyakarta meraih juara Harapan 2.
Menurut juri penulisan naskah lakon, Nunung Rieta, Jumat (27/10/2023) sore, secara tematik, mayoritas naskah lakon yang masuk terurai dengan baik. Sebaliknya, secara dramatologi, banyak yang tidak tercapai. Dramatika masih sangat datar. Hanya beberapa yang dramatologinya cukup kuat dan layak dipentaskan.
BACA JUGA: Membumikan Sastra Lewat Angkringan Sastra
Sementara, juri penulisan puisi, Krishna Mihardja mengatakan, tema "Sumbu Filosofi Yogya” tidak mudah untuk dipahami. Di dalamnya ada garis imjiner dan sumbu filosofi yang substansinya berbeda sehingga keduanya berisiko dumpyuk (bertabrakan). Namun demikian, meski masih ada yang diungkapkan secara verbalatau kurang simbolik serta puisimasih terasa mentah namun ada beberapa puisi yang berhasil menangkap tema dengan mengeksplorasi tema tersebut.
Satmoko Budi Santoso selaku juri penulisan cerpen menyampaikan catatannya, banyak juga penulis cerpen terjebak menerjemahkan tema ”Sumbu Filosofi Yogya” seperti sebuah reportase. Karenanya, diharapkan peserta harus banyak berlatih menulis supaya paham bagaimana baiknya menggarap alur cerita agar bisa lebih memikat dan tidak terjebak klise.
BACA JUGA: Tumbuk Ageng Koferensi Colombo Plan Diperingati dengan Seminar Sejarah
”Harus banyak membaca cerpen sastrawan lain sebagai studi perbandingan agar ke depan bisa menghasilkan cerpen yang lebih matang,” terang Satmoko.
Selanjutnya karya para pemenang beserta 10 nomine naskah lakon dan cerpen diterbitkan dalam buku antologi naskah lakon dan cerpen. Sedangkan puisi pemenang juga dibukukan beserta puisi nomine sebanyak 32 naskah puisi.
Kegiatan Temu Karya Sastra dengan tema Daulat Sastra Yogya 2023 tidak dapat dilepaskan dari peran dua kuratornya, Tedi Kusyairi dan Y Adhi Satiyoko.
BACA JUGA: Advokat Dr Najib Gisymar SH MHum Menembus Tiga Lembaga untuk Tangkal Eksekusi
Diterangkan Tedi, kegiatan tersebut berbasis pada sanggar atau komunitas sastra di DIY. Mengingat, pembinaan sastra yang konsisten, sistematis, dan terstruktur secara kontinyu dan keberlanjutan dikelola sanggar atau komunitas sastra. Dari kolaborasi Dinas Kebudayaan DIY memberikan ruang bagi generasi muda di sanggar agar termotivasi untuk mengambangkan kegiatan kepenulisan dan kreasi sastra di sanggar sastra masing-masing. Selanjutnya, diharapkan akan tumbuh sastrawan dari generasi muda Jogja yang bisa membawa Sastra Yogya ke kancah dunia.
Peserta mengapresiasi hasil kreasi rekan sesama peserta || YP-Dok.Disbud DIY
”Bagi yang berusia antara 16-21 tahun diikutkan dalam rangkaian kegiatan ini, guna menumbuhkan semangat mengembangkan sastra melalui sanggar supaya pembinaan dan regenerasi semakin berkembang. Nama seperti WS Rendra, Umbu Landu Paranggi, YB Mangunwijaya, dan sederet legenda sastra di Yogya sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat Yogyakarta dalam kesastraan. Halini yang coba diselaraskan pada para sastrawan muda era pascamilenial, meskipun bicara Yogya tapi gaungnya menuju tingkat dunia tanpa meninggalkan cirikhas keyogyaannya,” ujar alumnus Fakultas Filsafat UGM ini.
BACA JUGA: Baca Puisi dan Pementasan Teater Gegayuhan Menutup Rangkaian Temu Karya Sastra Yogya 2023
Y Adhi Satiyoko menambahkan, kegiatan kali ini merupakan tahun ketiga. Seri pelaksanaan pelatihan menulis cerpen, puisi, dan naskah lakon dilaksanakan melalui berbagai tahapan. Dinas Kebudayaan DIY melalui dana keistimewaan (Danais) menginisiasi konsep pembinaan terhadap generasi muda DIY.
“Pengejawantahan konsep tersebut diolah oleh Tim melalui konsep pemetaan, pengumpulan, penggarapan, apresiasi, dan publikasi (karya sastra dan penciptanya). Tujuan utama kegiatan ini adalah menemukan dan mematangkan talenta-talenta sastra muda di DIY dalamberolah sastra secara utuh sebagai wujud eksistensi dan ciri khas Yogya,” terang Adhi yang saatini menjadi peneliti di BRIN.
BACA JUGA: Berkas Perkara Panji Gumilang Dinyatakan Lengkap P21
Konsep kegiatan ini, lanjut Adhi, sebagai pembinaan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Apresiasi positif terhadap kegiatan ini salah satunya terlihat dari para peserta. Mereka merasa senang, merasa didampingi dan diarahkan dalam berolah sastra dari penulisan (kreasi) sampai pemanggungan (apresiasi) oleh para narasumber pilihan, bertemu idola serta menambah teman serta jejaring komunikasi dalam berolah sastra. Keterlibatan komunitas-komunitas sastra di DIY menjadi jejaring pengembangan sastra diejawantahkan dalam perekrutan peserta TKS Daulat Sastra Yogya.
“Kegiatan TKS Daulat Sastra Jogja merupakan model pengembangan sastra yang tepat bagi remaja untuk menjadi penulis-penulishandal dan menghasilkan karya yang memperkuat identitas keyogyaan (Daulat Sastra Yogya). Diharapkan model pelatihan literasi sastra semacam ini dapat dikembangkan melalui komunitas sastra di DIY dan disokong oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY,” pungkasnya. (R Toto Sugiharto)
