Ypgyapos.com (SLEMAN) - Nama Segaran, Wonosegoro dan Kedulan di wilayah Kabupaten Sleman, bisa jadi sudah akrab di telinga publik. Tapi bagaimana potensi yang dimiliki menjadi berdaya dan bermanfaat bagi masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah.
BACA JUGA: Polisi Tidur dan Kekerasan Simbolik
Dalam konteks itu kehadiran mahasiswa sangat diharapkan agar bisa memfasilitasi pemberdayaan dan pengembangan potensi sejarah dan budaya di Padukuhan Kedulan Tirtomartani Kalasan, Sleman. Demikian hasil sarasehan dan presentasi mahasiswa STIE Pariwisata API Yogyakarta di Balai Padukuhan Kedulan, Jumat (7/11/2025) malam.
Wahjudi Djaja mempimpin pembahasan pemberdayaan potensi Segaran || YP-Ist
"Sudah banyak perguruan tinggi yang mengirim mahasiswa ke Kedulan. Tetapi belum ada gerakan yang nyata untuk membantu kami dalam memberdayakan potensi. Secara mandiri kami telah menggelar kegiatan dan pentas. Kami berharap agar kali ini benar-benar mampu bersinergi dengan kami,” tandas Kepala Dukuh Kedulan Hari Susanto.
BACA JUGA: Prajurit dan PNS Korem 072/Pmk Doa Bersama Menyongsong Hari Pahlawan
Dalam presentasi mewakili kelompok mahasiswa STIEPAR API, Madina Rahma dan Septia Purwaningtyas menjelaskan latar belakang dan usulan program.
"Dengan keberadaan sumbul Segaran dan narasi Kiai Wonosegoro, kami mengusulkan digelar Ruwahan Ageng Kiai Wonosegoro menjelang bulan puasa nanti. Harapannya langkah ini jadi momentum untuk membuka kesadaran warga masyarakat terkait jejak sejarah dan budaya leluhur,” paparnya.
BACA JUGA: Simak! TemanHebat Buka Kesempatan Anak Disleksia Jadi Penyanyi Melalui Festival
Dosen pembimbing Wahjudi Djaja SS MPd dalam penjelasannya menyampaikan, modal pembangunan ada tiga hal. "Modal sosial berupa kohesi masyarakat, modal intelektual dari kalangan pemikir termasuk mahasiswa, dan modal kapital yang bisa kita mobilisasi. Kita sudah memiliki dua modal utama, dalam waktu yang tersisa kita akan bergerak bersama untuk kerjasama dengan pihak ketiga,” jelasnya.
BACA JUGA: PB XIII dan Beban Sejarah Penerus Dinasti Mataram
Kiai Wonosegoro, Segaran, dan Kedulan, lanjut Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY ini, merupakan matarantai penting terkait peradaban silam.
"Kita nanti upayakan untuk menggelar sarsehan sejarah untuk menyingkap misteri dan korelasinya", jelas pengampu matakuliah Budaya dan Geografi Kepariwisataan ini.
Sementara itu Zildjian Salma Askanissa mewakili KKN UNY menyampaikan rencana programnya selama di Kedulan.
BACA JUGA: Seni Sebagai Resonansi Estetik
"Sudah tiga minggu kami bertugas di sini. Sampai pertengahan Desember 2025 nanti rencanakan untuk membantu masyarakat merevitalisasi embung Wonosegoro. Selain merekam kisah yang hidup di masyarakat, kami juga membantu mempublikasikan di media sosial agar umbul ini semakin dikenal luas,” ungkapnya.
KKN UNY, mahasiswa STIEPAR API dan pengelola umbul Wonosegoro || YP-Ist
Sebelumnya Hafizh Fauzan selaku ketua panitia menjelaskan tujuan kehadirannya bersama mahasiswa di Segaran.
BACA JUGA: Syahganda Nainggolan: Gerakan Mahasiswa Harus Membantu Terwujudnya Koperasi DMP
Selain mengangkat kembali potensi Segaran dan Kiai Wonosegoro, pihaknya berharap generasi muda bisa mengenal sejarah dan budaya sehingga lebih menghargai warisan budaya leluhur.
Sedangkan Ketua RW Segaran, Hartono, mendukung upaya mahasiswa untuk menggelar event budaya dengan tokoh Kiai Wonosegoro. "Lama kami merencanakan tetapi belum ada jalan keluar. Semoga pertemuan kali ini bisa membawa hasil bersama," harapnya.
BACA JUGA: Bantuan Randis bagi Babinsa dan Bhabinkamtibmas Ujud Sinergitas Polri-TNI
Hadir dalam sarasehan Ketua RT 05 Eko Jamal M, Ketua RT 06 Totok Riyanto serta segenap pengelola umbul Wonowegoro dan PKK serta KWT. Mereka sepakat mendukung program mahasiswa untuk menggelar Ruwahan Ageng Kiai Wonosegoro. Bertindak sebagai moderator moderator Raisha Ayu Rahmawati. (Iud)
