KITA tahu rasanya setiap hari mendengar berita ada anak keracunan MBG, BBM mau naik karena perang di negeri seberang, sampai wacana WFH yang katanya hemat energi tapi bikin bingung. Di tengah hiruk-pikuk itu, tiba-tiba mata tertuju pada adegan seorang CEO tampan berkemeja lusuh, mengantre sembako sambil tersenyum misterius. Itu adalah drama China, atau yang populer disebut dracin, dengan genre andalan CEO menyamar jadi rakyat jelata.
BACA JUGA: Untung Ada Presiden Trump!
Lucu memang, disaat bapak-bapak sedang pusing mikirin inflasi, yang lain asyik nonton kisah fiksi tentang orang kaya yang pura-pura miskin. Tapi kalau kita tarik sedikit ke permukaan, ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah satire sosial yang tidak sengaja lahir dari ruang keluarga.
BACA JUGA: Monitoring dan Evaluasi Program TPK Berlangsung di Posyandu Asparagus II Babadan
Fenomena peralihan penonton sinetron dari ibu-ibu ke bapak-bapak, dari drakor ke dracin sebenarnya mencerminkan pergeseran psikologis kolektif. Dalam sosiologi, ada konsep compensatory entertainment (hiburan kompensatoris), orang mencari tontonan yang menyediakan escape dari tekanan struktural, sekaligus memberikan kepuasan simbolis atas hal-hal yang tidak bisa mereka raih dalam hidup nyata.
BACA JUGA: Pemerintah Beri Sanksi Teguran Resmi ke Google agar Patuhi PP Tunas
Kelas menengah bawah dan masyarakat pinggiran di Indonesia mengalami double burden, yaitu tekanan ekonomi riil (inflasi, kenaikan BBM, mahalnya pangan) dan tekanan psikologis karena merasa tidak didengar oleh penguasa. Sinetron lokal dulu menawarkan melodrama air mata. Tapi dracin menawarkan sesuatu yang lebih menggigit pembalikan status secara halus. CEO menyamar jadi miskin, lalu diam-diam menyelamatkan orang-orang kecil. Ini adalah bentuk wish-fulfillment yang relate dengan kondisi pria dewasa yang merasa kehilangan perannya sebagai tulang punggung keluarga di tengah krisis.
BACA JUGA: BNN Kabupaten Sleman Punya Kantor Baru
Ketika ada seseorang bercanda melihat tunawisma dijalan mengatakan .”..jangan-jangan dia CEO lagi nyamar...”. Sebenarnya itu adalah defense mechanism kolektif. Dalam bahasa sosiologi kritis sebagai mockery of the system, yaitu ejekan halus terhadap ketidakadilan terstruktur. Dengan membayangkan bahwa orang miskin sebenarnya adalah orang kaya yang sedang ujian, masyarakat secara tidak sadar menolak menerima realitas kemiskinan yang keras. Mereka menciptakan alternative reality yang lebih adil, meskipun hanya diatas layar kaca.
BACA JUGA: Danrem 072/Pamungkas Sambut Kedatangan Presiden RI di Lanud Adisutjipto
Fenomena ini juga memperlihatkan pergeseran gender dalam konsumsi media. Dulu bapak-bapak cenderung nonton berita atau olahraga. Kini nonton dracin dengan alur cepat, tokoh maskulin namun sensitif, dan elemen revenge atau underdog story, menarik simpati laki-laki dewasa. Mereka tidak mencari roman picisan, melainkan narasi restorative justice versi fiksi.
BACA JUGA: Pertamina Patra Niaga Apresiasi Bareskrim Polri Menindak Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi
Sebenarnya ini ironis disaat negara sibuk dengan program MBG yang sering menjadi malapetaka dan WFH yang abu-abu, rakyat justru lebih percaya pada khayalan CEO penyamar daripada solusi kebijakan. Tetapi mungkin itu pertanda paling jujur bahwa kepercayaan publik sedang diuji.
Fenomena dracin bukan obat, tapi setidaknya menjadi plester untuk luka psikis kolektif. Kita tertawa pada kemiskinan yang disamarkan sebagai skenario sinetron, padahal diluar sana, kemiskinan itu nyata. Tapi justru dari tawa itu kadang muncul kekuatan untuk bertahan.
BACA JUGA: Polisi Kantongi Tiga Calon Tersangka Dugaan Korupsi BUKP Tempel Rp 2,1 Miliar
Kisah CEO menyamar mengajarkan kita satu hal bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh baju yang dikenakan atau rekening banknya, tapi oleh integritas saat dia berada di posisi terendah. Bapak-bapak yang menonton dracin mungkin tidak akan CEO yang kaya raya, tapi setidaknya mereka masih bisa tersenyum, bercanda dengan tetangga, dan berkata, "Santai, mungkin besok ada rezeki tak terduga."
BACA JUGA: Kejari Sleman akan Umumkan Tersangka Baru Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Jadi jika melihat ada bapak-bapak di warung kopi atau dalam perjalanan di kereta api menonton drama China, jangan buru-buru berpikir negatif. Bisa jadi sedang menyusun strategi, bukan untuk menyamar jadi miskin, tapi untuk bangkit dari keterbatasan. Karena drama terbaik bukan yang ditayangkan di layar, melainkan bagaimana kita tetap bersemangat menjalani peran sebagai pahlawan dalam kehidupan nyata.
BACA JUGA: Sastra, HISKI, dan 'Masa Depan' (Manusia) Indonesia
Teruslah tersenyum. Teruslah bertahan. Siapa tahu, kita semua sedang dalam proses menyamar untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. (Penulis: Puji Qomariyah MSi, Dosen Sosialogi dan Mahasiswa Doktoral Sosialogi Pendidikan SPS-IP UNY)
