Yogyapos.com (BANTUL) - Anggota DPD DIY Dr H Hilmy Muhammad mengungapkan pentingnya mengusahakan ketersediaan makanan yang halalan thayyiban (halal dan baik) dalam kehidupan.
BACA JUGA: Prof Muhammad Naim: Jadikan Imsak Sebagai Kepribadian Muslimin
“Dalam program ketahanan pangan nasional segala sesuatunya juga harus diarahkan untuk mewujudkan yang halalan thayyiban yang akan mengantarkan pada manfaat,” ujar lelaki yang akrab disapa Gus Hilmy dalam khotbah Sholat Idul Fitri 1446 H, di Masjid Jami Ponpes Al Munawwir Krayak Yogyakarta, Senin (31/3/2025).
BACA JUGA: LKBH Pandawa Yogya Salurkan 150 Parcel, Berkah Penghujung Ramadhan
Pada sholat Id kali ini selaku Imam Shlolat Pengasuh Pandok Pesantren Al Munawwir Krapyak, KH R Abdul Hamid Abdul Qodir. Usai sholat Id dilanjutkan saling berjabat tangan dan syawalan bersama para jamaah dan wargadengan para pengasuh ponpes ini
Gus Hilmy lebih lajut mengatakan, bila selama bulan Ramadhan kita kerap diingatkan tentang berbagai hal terkait puasa, maka saatnya kita belajar zakat fitri. Zakat fitri adalah kewajiban setiap muslim yang memiliki kelebihan makanan pokok pada malam Hari Raya dengan memberi sebanyak satu sha’ atau kira-kira lebih dari 2,5 kg beras kepada fuqara’-masakin. Kewajiban ini berlaku bagi setiap muslim, termasuk keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.
BACA JUGA: GRIB Jaya DIY-Kodim Yogya Salurkan 1.000 Takjil, Disambut Gembira Warga
Sungguh hal ini tuntunan agama yang sangat agung, sebab dampak yang ditimbulkan juga luar biasa. Dari zakat fitri orang diingatkan pula tentang pentingnya soal ekonomi, pengelolaan lahan, pemberdayaan petani, ketahanan pangan, pola konsumsi dan kelestarian lingkungan.
Zakat fitri adalah soal pangan. Melalui kewajiban zakat ini jelas bahwa pangan menurut Islam adalah bagian yang tak terpisahkan dari agama karena urusannya bukan hanya di dunia, tetapi juga berdampak kelak di akhirat.
Suasana halal bi halan usai sholat Idul Fitri || YP-Ist
Banyak ayat diturunkan guna mengingatkan kita, umat manusia. Jadi bukan yang beriman saja tentang pentingnya kualitas pangan. Orang Inggris juga bilang, “You are what you eat” (Anda adalah apa yang Anda makan).
BACA JUGA: Ratusan Jamaah Sholat Idul Fitri di Kampus UWM, Ceramah Ustad Yusuf Sirodz
“Artinya, makanan memberi pengaruh besar dalam kehidupan. Menjaga kualitas makanan berarti menjaga kualitas hidup kita, lahir batin,” tambah Gus Hilmy yang juga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
BACA JUGA: Seorang Lelaki Meninggal di Ruko Pasar Gabusan, Diduga Ini Penyebabnya
Disampaikan pula, apabila yang dimakan atau di-input tidak berkualitas, alias tidak bermutu, maka output yang dihasilkan juga akan mencerminkan keadaan demikian. Sebaliknya, makanan yang berkualitas akan melahirkan individu yang cerdas, jujur, dan bertanggung jawab.
BACA JUGA: Kejari Sleman Melepas Tersangka Pencurian, Ini Alasannya
“Sebenarnya makanan tidak sekadar konsumsi, akan tetapi menjadi pembentuk perilaku dan karakter manusia. Inilah antara rahasia mengapa dikabulkannya dan tudaknya doa bergantung pada kebaikan makanan kita, seperti disampaikan Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,” katanya.
BACA JUGA: Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata, Jangan Cuma Karyawan Bawahan yang Dijadikan Tersangka
Sedangkan soal pola konsumsi, masyarakat diingatkan oleh laporan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) bahwa timbunan sampah di Indonesia pada tahun 2023 sebanyak 69,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, komposisinya didominasi oleh sisa makanan sebesar 41,60%, dan sampah plastik sebanyak 18%.
BACA JUGA: Mantan Kepala Sekolah SMKN 2 Sewon Ditahan di Rutan Wirogunan
“Berdasar data ini, berarti ada 28 juta ton lebih sisa makanan yang terbuang sia-sia. Sungguh pemborosan yang luar biasa. Padahal Al Qur’an mengecam mereka yang memubadzirkan barang dan dinyatakan sebagai temannya setan,” tandasnya. (*/Red)
