Yogyapos.com (YOGYA) – Di era materialisme sekarang, kejujuran telah dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi politik. Kejujuran disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia.
Fenomena ketidakjujuran telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran kini telah berlangsung sedemikian transaparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.
BACA JUGA: Sholat Id di Polda DIY Hidmat, Dilanjut Silaturahmi dengan Kapolda
Penegasan tersebut disampaikan oleh Prof Dr Ir Muhammad Naim selaku khotib Sholat Idul Fitri 1446 Hijriah, di Open Space Perumahan Jatimulyo Baru, Senin (31/3/2025).
Jamaah sholat Id mengikuti khotbah || YP-Ismet NM Haris
Sholat Id di komplek perumahan yang ditempati antara lain sejumlah dosen ini diselenggarakan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Al Hidayah, diikuti ratusan jamaah.
BACA JUGA: Kejari Sleman Melepas Tersangka Pencurian, Ini Alasannya
Menurut Prof Muhammad Naim, kita kini lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Banyak manusia tidak mempedulikan jalan halal dan haram dalam mencari uang maupun jabatan.
Jamaah tetap setia bersila walau mentari pagi mulai menyinari || YP-Ismet NM Haris
Sehingga kita sering mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis bahwa mencari uang haram saja sulit, apalagi yang halal. Bahkan selalu diucapkan mereka jujur akan terbujur, lurus akan kurus, Ikhlas akan tergilas.
BACA JUGA: Mantan Kepala Sekolah SMKN 2 Sewon Ditahan di Rutan Wirogunan
“Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa manusia zaman sekarang telah dilanda mental penyakit korup dan ketidakjujuran,” tandasnya.
Bersila dan tak beranjak dari dari alas tikar, sajadah maupun koran hingga khotbah usai || YP-Ismet NM Haris
Mengutip hadits Rasulullah Muhammad SAW, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM tersebut mengatakan kejujuran sebagai syarat memperoleh Surga. Berarti jika masyarakat suatu negara menginginkan hidup makmur maka tiada lain kejujuran harus menjadi kepribadian seluruh warga negara.
BACA JUGA: GRIB Jaya DIY-Kodim Yogya Salurkan 1.000 Takjil, Disambut Gembira Warga
Sebaliknya jika ketidakjujuran menjadi kepribadian sebagian besar masyarakat maka negara tersebut tidak akan mengalami kemakmuran dan kebahagiaan.
“Jika suatau negara dirasakan kurang makmur dan kurang bahagia kemungkinan disebabkan masyarakatnya kurang menegakkan kejujuran dalam kehidupannya,” simpul Guru Besar yang akrab disapa Prof Naim ini.
Nampak open space yang dikitari perumahan warga || YP-Ismet NM Haris
Prof Naim mengutip hasil survey Legatum Institute --sebuah wadah pemikir dan perusahaan riset di London-- tentang lima negara di dunia yang memiliki indeks kemakmuran tinggi yakni Denmark, Kanada, Jepang, Inggris dan Selandia Baru. Bahkan dari lembaga survey lainnya menyebutkan Korea Selatan dan Singapura termasuk kategori negara maju dan makmur mewakili Asia.
BACA JUGA: Khotbah Sholat Id, Gus Hilmy: Anda Apa yang Anda Makan
Negara-negara maju dan makmur dimaksud walaupun bukan negara Islam, namun kehidupan masyarakatnya terkesan sangat Islami. Kenapa? Ternyata hasil pencerermatan menyatakan ada korelasi positif antara negara-negara maju dan makmur tersebut dengan tingkat kejujuran masyarakat. Masyarakat menerapkan kejujuran dalam kehidupan keseharian mereka. Kondisi ini berlangsung baik di kalangan elite maupun masyarakat bawah, negarawan maupun masyarakat awam, dosen dan mahasiswanya, direksi perusahaan dan karyawannya, pengusaha dan konsumennya.
Jamaah yang kebagian tempat di pinggir pun tetap tak beranjak meninggalkan lapangan sebelum khotbah selesai || YP-Ismet NM Haris
“Di negara-negara makmur dengan penguasaan teknologi tinggi itu tingkat korupsinya boleh dibilang nol. Tingkat kejahatan yang berdasarkan penipuan dan kecurangan juga sangat rendah,” tukasnya.
BACA JUGA: LKBH Pandawa Yogya Salurkan 150 Parcel, Berkah Penghujung Ramadhan
Di bagian akhir khotbah, Prof Naim mengingatkan pentingnya kejujuran. Salah satu pelatihan kejujuran dalam ibadah puasa yang telah kita lalui adalah menerapkan kata Imsak dalam kehidupan nyata. Imsak di bulan Ramadhan secara harfiah berarti menahan diri atau mengendalikan diri. Selama Ramadhan itulah kita dilatih menahan (mengendalikan) diri dari yang membatalkan puasa.

“Imsak diharapkan menjadi kepribadian dan karakter Muslimin agar bisa menahan diri dari perkara yang dilarang Allah SWT. Pengendalian diri adalah inti dan hakekat beragama,” tegas Prof Naim yang sebelumnya juga mengutip Al Qur’an Surat Al Muthaffifin ayat 1-6 dan Al Baqarah ayat 188 tentang kejujuran atau larangan berbuat curang.
BACA JUGA: Pantau Pos Pengamanan, Bupati Harda Berharap Pemudik Lancar
Khotbah yang berlangsung tak lebih dari 30 menit ini diakhiri dengan doa-doa kabaikan bagi jamaah, termasuk juga para pemimpin demi kebaikan negara dan bangsa. Usai sholat, jamaah saling bersalaman bermaafan. (Met)
