Yogyapos.com (SLEMAN) - Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono mengapresiasi penanganan TBC (Tuberculosis) di wilayah Sleman.
Apresiasi tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja (kunker) di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Jumat (31/1 /2025). Kunjungan kerja diisi juga dengan diskusi dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Sleman, Anton Sujarwa, Kepala Dinas Kese hatan DIY, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Panewu Kalasan, Lurah Tamanmartani, serta para kader TB yang ada di Kalurahan Tamanmartani.
BACA JUGA: Wisatawan ke Sleman 96 Persen dari Jawa, Perlu Waspadai Fenomena Lipstick Effect
Dante Saksono mengatakan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi percepatan penanganan dan mengetahui secara langsung program penanganan TBC di Kalurahan Tamanmartani.
“Model-model yang dilakukan di Kalurahan Tamanmartani akan kita ambil kemudian akan kita replikasi sebagai contoh untuk kabupaten-kabupaten di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Ia juga mengatakan TBC tidak bisa ditangani secara eksklusif atau sendiri oleh Kementerian Kesehatan. Suksesnya penanganan percepatan TBC di Kalurahan Tamanmartani tidak lepas dari kolaborasi dan kontribusi dari berbagai macam sektor.
BACA JUGA: Remaja Belia Diduga Bawa Kabur dan Mengintimi ABG, Ditangkap di Apartemen
“Seperti Dinas Sosial Sleman yang memberikan jadup (jaminan hidup) sebesar Rp 60.000 per hari selama dua bulan, pemeriksaan active case finding oleh kader, dan yang membuat saya bangga semua itu dilakukan tidak menunggu tetapi jemput bola,” imbuhnya.
Sementara itu, Anton Sujarwa mewakili Bupati Sleman, menyatakan bahwa kunjungan Kementerian Kesehatan kali ini merupakan suatu kehormatan dan semakin memotivasi Kabupaten Sleman dalam mengoptimalkan penanganan TBC.
BACA JUGA: Larangan Bus Melewati Mangunan-Imogiri Berdampak Sepi Pengunjung Wisata Hutan Pinus
Anton juga mengatakan TBC masih menjadi tantangan kesehatan di Kabupaten Sleman. Estimasi kasus TBC di Sleman tercatat sebanyak 2.592 kasus yang didapatkan dari pemeriksaan terhadap 13.997 orang terduga TBC.
“Pemkab Sleman memiliki komitmen kuat dalam rangka eliminasi TBC di tahun 2030, saya mengajak seluruh elemen masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan untuk terus bersinergi dalam upaya menanggulangi TBC di Kabupaten Sleman,” tandasnya.
Wamenkes berdialog langsung dengan warga || YP-Ist
“Kami sadari bahwa dibutuhkan upaya edukasi untuk meyakinkan warga melakukan pengobatan. Untuk itu, sejak tahun 2023, Pemkab Sleman telah meluncurkan inovasi SIKAT TB atau Sleman Sigap Kendali Atasi TBC yang menjadikan kalurahan sebagai lokus pengendalian TBC untuk mengundang warga sekaligus memfasilitasi tempat penyelenggaraan. Aksi ini melibatkan seluruh sektor, perangkat daerah, hingga mitra swasta untuk berbagi peran dalam upaya pencegahan dan pengendalian tuberculosis,” sambungnya.
BACA JUGA: Dam Srandakan Jebol, Dilarang Berhenti atau Parkir Kendaraan di Jembatan
Pemkab Sleman berhasil meningkatkan capaian pemeriksaan warga terduga TBC di Kabupaten Sleman tahun 2023 dari 112 persen menjadi 116 persen pada tahun 2024. Selain itu juga memberikan bantuan bagi warga terdiagnosa TBC khususnya dengan kriteria kurang mampu. Bantuan tersebut berupa program Rehab Rumah Tidak Layak Huni yang diinisiasi oleh Dinas PU dan Baznas Sleman. Kemudian dari aspek sosial ekonomi, Dinas Sosial Sleman juga memfasilitasi bantuan senilai 60 ribu per hari, selama dua bulan pengobatan intensif.
Kebijakan ini tertuang dalam Perbup Sleman tentang Jaring Pengaman Sosial No.75 Tahun 2023. Untuk itu, Penkab Sleman mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bersinergi menanggulangi TBC secara optimal dan tuntas. (*/Agn)
