Yogyapos.com (YOGYA) - Pemahaman masyarakat terkait kajian keandalan sebuah bangunan di Indonesia dinilai masih rendah. Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) DIY hadir mendorong kesadaran pentingnya standar sebuah bangunan.
BACA JUGA: Kasus Korupsi Bandwidth, Terdakwa Jalani Sidang Perdana Didampingi Advokat Murjiyanto
Pernyataan tersebut disampaikan Steffie Tumilar selaku Penasehat Teknis pada beberapa Konsultan, Kontraktor dan Developer di Indonesia saat menghadiri diskusi bersama Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) DIY di Kota Yogyakarta, Selasa (25/11/2025).
"Semua bangunan-bangunan itu penting untuk dilakukan kajian yang cukup komperhensif untuk meujudkan kehandalan bangunan sehingga meningkatkan keamanan terhadap publik," ujar Steffie.
BACA JUGA: Semangat Hari Guru Menyala di MI Muhammadiyah Penilikan
Para ahli konstruksi mengharapkan stakeholder baik dari pemerintah maupun swasta, serta masyarakat pada umumnya menyadari akan pentingnya keandalan suatu bangunan.
“Karena semua aktifitas yang ada saat ini semuanya sangat mempengaruhi keandalan bangunan, mulai dari perilaku manusia dan alam itu mempengaruhi keandalan bangunan,” sebut ahli konstruksi jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
BACA JUGA: Senam dan Jalan Sehat Persit Rem 072 PD IV/Diponegoro Pererat Silaturahmi
Pria yang juga Anggota Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) DKI ini menandaskan, bahwa public safety (keselamatan publik) adalah syarat mutlak pada sebuah bangunan dan tidak mengenal toleransi.
"Misalnya ada bangunan kurang sedikit, itu gak boleh karena itu akan berlanjut serta menyangkut keberlangsungan masyarakat baik sekarang maupun masa mendatang, itu harus kita sadari dulu," katanya.
BACA JUGA: Chichi Sukardjo Luncurkan Program 'Tetap Hidup Walau dengan Luka'
Ia menilai kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya keandalan bangunan masih minim.
“Kurang menurut saya, tidak hanya masyarakat saja, dari pemerintah, dari kalangan investor maupun kalangan petinggi-petinggi masyarakat juga masih kurang,”tandasnya.
BACA JUGA: Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat Melalui Pembinaan Jaring Mitra Karib
Dirinya juga menyinggung kejadian robohnya bagian bangunan pada salah satu pondok pesantren di wilayah Jawa Timur, ia menyayangkan adanya komentar yang menyebutkan bahwa runtuhnya dipicu karena angin dan hujan.
BACA JUGA: Ustadzah Mumpuni Handayayekti 'Digeruduk' Ribuan Jamaah di Ponpes Hidayatul Muttaqien
"Runtuhnya bangunan, yang disalahkan angin dan hujan, ini kan pembodohan, angin dan hujan itu hanya pemicu, namun penyebabnya kan sebelumnya, seperti perencanaan tidak benar, pelaksanaan konstruksi mungkin engak benar juga. Itu penyebabnya akhirnya berakumulasi sehingga roboh," ungkapnya.
BACA JUGA: Marak Sengketa Tanah, PKHPKP Ingatkan Pemerintah Membentuk Pengadilan Pertahanan
Sebagai upaya peningkatan kesadaran keandalan sebuah banguan, pihaknya mengapresiasi upaya HAKI DIY menggelar pameran, seminar dan short course terkait sertifikasi kelayakan bangunan gedung yang akan dilaksnakan pada tanggal 26 dan 27 November 2025 di Yogyakarta.
“Harapan saya dengan adanya seminar ini, masyarakat menjadi lebih peduli dengan keandalan sebuah bangunan,”sebutnya.
BACA JUGA: Lakalantas Maut BMW Kontra Vario di Sleman, Terdakwa Divonis 14 Bulan
Ditambahkan Ketua I HAKI Pusat, Moch Arif Toto Rahardjo mengungkapkan, animo peserta mengikuti kegiatan Workshop & Short Course HAKI 2025, cukup tinggi. Kegiatan ini mengusung tema “Design, Assessment, Monitoring, Repair, Strengthening, & Retrofit dalam Mewujudkan Laik Fungsi Bangunan Gedung, Jembatan, Jalan Layang, dan Terowongan".
BACA JUGA: Pasar Tradisional Kowe Diresmikan, Jadi Indikator Nyata Ekonomi Rakyat
"Pada akhir penutupan pendafaran telah tercatat sebanyak lebih dari 147 orang dari berbagai daerah di Indonesia," jelas Toto.
Peserta antara lain berasal dari wilayah Papua, Sulawesi Utara, Makasar, Manado, Samarinda, Pekanbaru, Bangka Belitung, Riau, Bandung dan dari wilayah Pulau Jawa lainnya. (Opo)
