Gus Hilmy Soroti Keterlibatan RI di BoP, Ingatkan Dampak Politik 2029

share on:
Dr H Hilmy Muhammad MA, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI || YP-ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang meminta doa para ulama agar pemerintah mampu menghadapi berbagai tantangan bangsa dan menegakkan keadilan, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dr H Hilmy Muhammad MA menilai pesan tersebut penting diterjemahkan juga dalam sikap politik luar negeri Indonesia.

BACA JUGA: Bukber dan Silaturahmi Alumni Universitas Janabadra Dihadiri Prof Yanto

Prabowo sebelumnya menyampaikan harapan agar pemerintahannya mampu menjalankan amanah melindungi rakyat serta menegakkan kebenaran dan keadilan dalam menghadapi berbagai tantangan global. 

BACAJUGA: Ledakan Mercon di Suryodiningratan, Dua Orang Dewasa dan Satu Balita Alami Luka Bakar

Menurut Gus Hilmy, sapaan akrabnya, komitmen menegakkan keadilan tersebut juga harus tercermin dalam posisi Indonesia di panggung internasional.

BACA JUGA: Kesiapan Gerbang Tol Purwomartani Jelang Fungsional Arus Mudik, Berikut Penjelasannya

“Jika kita berbicara tentang menegakkan keadilan dan kebenaran, maka sikap Indonesia dalam forum internasional juga harus mencerminkan nilai itu. Kita tidak boleh terlihat berada dalam forum yang diisi oleh negara negara yang justru melakukan intervensi militer atau penyerangan terhadap negara lain. Konsistensi antara nilai yang kita sampaikan di dalam negeri dan sikap diplomasi kita di dunia internasional menjadi sangat penting,” ujar anggota Komite II DPD RI tersebut dalam keterangan tertulis, Rabu (11/03/2026).

BACA JUGA: Pemkab Sleman Siapkan Dana Rp 2,2 Miliar, Atasi Banjir di Sekitar Perumahan Deppen Seturan

Dalam konteks itulah, menurut Gus Hilmy, gelombang desakan agar Indonesia mengevaluasi keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP) perlu mendapat perhatian serius. Senator asal D.I. Yogyakarta tersebut menilai pemerintah perlu meninjau kembali posisi Indonesia dalam forum yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut.

BACA JUGA: Negara Harus Serius Tangani Parkir Liar Untuk Lindungi UMKM

Menurut Gus Hilmy, keikutsertaan Indonesia dalam BoP harus dilihat secara jernih dalam kerangka kepentingan nasional. Politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia sejak awal kemerdekaan tidak sekadar menjaga jarak dari kekuatan besar, tetapi memastikan setiap langkah diplomasi memberi manfaat nyata bagi bangsa serta berkontribusi terhadap perdamaian dunia.

BACA JUGA: Launching Jembatan Garuda Bukti TNI AD Hadir untuk Rakyat

“Bebas aktif tidak berarti kita tidak boleh berada dalam satu forum internasional. Prinsip ini memberi ruang bagi Indonesia untuk terlibat dalam upaya perdamaian dunia tanpa tunduk pada kepentingan negara besar mana pun. Landasannya tetap kepentingan nasional,” papar Gus Hilmy.

BACA JUGA: Momen Ramadan, Leting Brimob 35-2 Watukosek SWM DIY Berbagi 600 Paket Takjil

Gus Hilmy mencontohkan bahwa Indonesia selama ini juga terlibat dalam berbagai organisasi internasional yang memiliki karakter blok kepentingan tertentu. Indonesia menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), pernah bergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan belakangan ikut dalam BRICS.

BACA JUGA: Nuzulul Qur'an di Masjid Wahidin: Ketakwaan Harus Tercermin dalam Perilaku Sosial

Keterlibatan itu, bagi Gus Hilmy, tidak pernah menjadi persoalan selama memberikan manfaat strategis bagi bangsa. Prinsip bebas aktif memberi ruang bagi Indonesia untuk bersikap fleksibel selama kepentingan nasional tetap menjadi pijakan utama. Namun situasinya akan berbeda apabila sebuah forum internasional tidak memberikan keuntungan yang jelas bagi Indonesia.

BACA JUGA: Milad ke-83, UII Gandeng Pemkab Sleman Baksos dan Bedah Rumah

“Jika sebuah kerja sama internasional tidak memperkuat posisi Indonesia dan justru menimbulkan beban diplomatik atau persepsi negatif di tingkat global, maka wajar jika keikutsertaan kita dipertanyakan,” tegas anggota MUI D.I.Y tersebut.

BACA JUGA: Pengadaan PJU Sleman 2026 Serap Anggaran Rp 21,5 Miliar, Seluruhnya 'Diborong' Pokir Dewan

Gus Hilmy juga menilai terdapat persoalan etis yang perlu dipertimbangkan dalam keikutsertaan Indonesia di forum tersebut. Indonesia lahir dari perjuangan panjang melawan kolonialisme. Karena itu kehadiran Indonesia dalam forum yang diklaim mengurus perdamaian dunia perlu dikaji jika di dalamnya terdapat negara negara yang selama ini dikenal melakukan pendudukan wilayah, intervensi militer, atau penyerobotan kedaulatan negara lain.

BACA JUGA: Geruduk Mapolres, Brigade Joxzin Desak Polres Bantul Ungkap Pembunuhan Yoga

Gus Hilmy menyinggung operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu eskalasi konflik di kawasan. Serangan besar-besaran terhadap berbagai target di Iran terus berlangsung dan menimbulkan korban serta kerusakan luas di sejumlah wilayah. 

BACA JUGA: Gus Hilmy Apresiasi Pemerintah Tertibkan Ruang Digital, Dorong Akun Medsos Berbasis Identitas Resmi

“Jika kita berada dalam forum tersebut tanpa sikap kritis, Indonesia bisa dipersepsikan ikut memberi legitimasi terhadap praktik kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip kedaulatan negara. Ikut BoP itu kan berarti ikut terlibat dalam urusan negara lain. Jika itu berpihak pada kemanusiaan dan menghormati kedaulatan suatu bangsa, tentu tidak menjadi masalah. Lha BoP ini sudah jelas-jelas adalah forum yang diisi negara-negara yang aktif melakukan intervensi terhadap negara lain sementara kita duduk sebagai pengurus perdamaian, publik dunia tentu bertanya. Apakah Indonesia benar-benar berada di jalur nonblok atau justru terlihat condong pada kekuatan tertentu,” ujarnya.

BACA JUGA: Ketua Komisi IV DPR RI Dukung Peningkatan Kesejahteraan Petani

Gus Hilmy menilai munculnya kritik dari berbagai tokoh nasional menunjukkan adanya kegelisahan yang perlu dijawab pemerintah. Karena itu evaluasi terhadap keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace penting dilakukan. Terlebih, Gus Hilmy mengingatkan, diplomasi internasional tidak hanya berkaitan dengan kebijakan formal, tetapi juga dengan persepsi global terhadap posisi suatu negara.

“Jangan sampai Indonesia terlihat plinplan. Kita berbicara tentang independensi dan perdamaian dunia, tetapi langkah kita justru dipersepsikan tidak sejalan dengan prinsip tersebut,” ujarnya.

BACA JUGA: Lurah Mororejo 'Tarling' di Masjid Hidayatul Muttaqin, Ingatkan Warga Tak Sulut Mercon

Imbasnya, kata Gus Hilmy, isu ini tidak hanya berdampak pada diplomasi luar negeri tetapi juga dapat memengaruhi dinamika politik dalam negeri.

BACA JUGA: Aditya Yusma Mundur dari Partai Rakyat Indonesia, Fokus Kawal Program Jaga Desa

“Persepsi bahwa Indonesia berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat dapat merugikan secara politik. Hal ini bahkan bisa memengaruhi penilaian publik terhadap kepemimpinan nasional, termasuk jika Pak Prabowo kembali bertarung pada Pemilu 2029,” kata Gus Hilmy.

BACA JUGA: Sanggar Anak Tumbuh Panjangrejo Lolos Asesmen Wilayah Program Pelita

Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tersebut menegaskan, evaluasi perlu dilakukan sejak dini agar setiap langkah diplomasi benar benar memperkuat posisi Indonesia di panggung global serta sejalan dengan kepentingan nasional jangka panjang. (*/met)


share on: