Dr Tri Wulandari MKes: Perlu Diwaspadai! Leptospirosis Dapat Akibatkan Kematian

share on:
Dr drh Tri Wulandari K MKes || YP-ist

Yogyapos.com (BANTUL) - Leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang masih kerap luput dari perhatian masyarakat, meskipun memiliki risiko kematian yang relatif tinggi. Penyakit zoonosis ini banyak ditemukan di negara tropis seperti Indonesia, terutama pada musim hujan dan saat terjadi banjir, ketika kondisi lingkungan menjadi media ideal bagi penyebaran bakteri.

BACA JUGA: Praperadilan terhadap Polda Ditolak, Penyidikan dan Penahanan Wajiran Berlanjut

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr drh Tri Wulandari K MKes menjelaskan bahwa leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang secara alami hidup di ginjal tikus dan dikeluarkan melalui urin. Urin tersebut kemudian mencemari tanah, air, dan lingkungan sekitar, sehingga menjadi sumber penularan bagi manusia maupun hewan lainnya.

BACA JUGA: Rusaknya Bangunan Etik sebagai Multimusibah

“Urin tikus yang mengandung bakteri Leptospira tidak hanya berisiko bagi manusia, tetapi juga dapat menginfeksi hewan lainnya, seperti ternak maupun hewan domestik. Hewan-hewan tersebut kemudian berpotensi menjadi sumber penularan baru,” ujar drh Tri saat dimintai keterangan secara daring, Selasa (20/1/2026).

BACA JUGA: Posbakum Seluruh Desa di DIY Diresmikan, Wujud Kehadiran Negara untuk Keadilan

Lingkungan yang terkontaminasi urin tikus menjadi media utama penularan leptospirosis pada manusia. Meski prevalensinya tidak setinggi beberapa penyakit menular lain, leptospirosis memiliki case fatality rate atau angka kematian yang cukup tinggi sehingga memerlukan perhatian serius.

BACA JUGA: Tim Kuasa Hukum Terdakwa Kasus Pencurian Laptop Ajukan Perlawanan, Ini Alasannya

Menurut drh. Tri, hingga kini leptospirosis masih tergolong penyakit yang belum menjadi prioritas utama dalam sistem penanganan kesehatan masyarakat.

BACA JUGA: KY Usulkan Badan Pengawas Terpadu untuk Pengawasan Hakim, Ini Penyebabnya

“Penularan leptospirosis terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terluka, selaput lendir, atau tertelan secara tidak sengaja saat seseorang kontak dengan air atau lingkungan yang terkontaminasi urin tikus. Risiko penularan meningkat signifikan pada musim hujan, terutama di wilayah yang tergenang air atau terdampak banjir,” jelasnya.

BACA JUGA: Polda DIY Sampaikan Edukasi Ringan kepada Siswa TK Budi Mulia 1

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih waspada saat beraktivitas di lingkungan berisiko, seperti dengan menggunakan alas kaki, sarung tangan, serta menghindari kontak langsung dengan air yang berpotensi terkontaminasi.

Lebih lanjut, drh. Tri menjelaskan bahwa setelah bakteri masuk ke dalam tubuh, gejala awal leptospirosis umumnya berupa demam. Namun, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan serius pada organ vital.

BACA JUGA: Duel Setelah Mengonsumsi Miras Akibatkan Seorang Tewas di Kalibayem, Pelaku Diringkus

“Gejala awal biasanya demam, tetapi infeksi dapat berlanjut menjadi kerusakan organ dalam, seperti ginjal dan jantung. Tingkat keparahan ini juga dipengaruhi oleh jenis bakteri Leptospira, karena terdapat beberapa tipe yang berbeda. Inilah yang membuat leptospirosis berbahaya dan berpotensi mematikan,” terangnya.

BACA JUGA: Petugas Polsek Gamping Sigap Selidiki Peristiwa Begal Payudara

Langkah pencegahannya, pemerintah untuk meningkatkan prioritas penanganan leptospirosis, terutama pada musim hujan. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan serta waspada terhadap potensi kontak dengan air yang terkontaminasi. (*/red)


share on: