Yogyapos.com (YOGYA) - Sebuah kanvas besar berukuran dua kali tiga meter tersandar ditembok menghadap Timur. Seorang pria berkaos oblong putih berdiri sambil menyapukan kuas bercampur cat minyak di atas kanvas.
“Mas, duduk dulu. Bentar, saya selesaikan dulu,” ujar Budi Haryono menyapa yogyapos.com, baru-baru ini.
Saat itu Budi tengah mengerjakan lukisan tentang Borobudur yang menurut rencana akan dipamerkan dalam Asean Tourism Forum (ATF) 2023 di Yogyakarta, Februari mendatang.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-lukisan-wajah-antok-abri-gambaran-sosok-ibu-hebat-9274
Belakangan ini, Budi Ubrux --begitu ia dipanggil dikalangan seniman--sedang menjadi perbincangan masyarakat seni rupa Indonesia karena surat terbuka yang dilayangkannya di medsos atas kegagalannya mengikuti pameran Tantangan III di Mengerzeile Berlin, Jerman.
Dia adalah salah satu dari lima perupa Yogyakarta yang gagal berangkat ke Jerman. Bagi dia kegagalan itu tak membuatnya kecewa. Apalagi karya lukisnya yang kemarin gagal di pamerkan di Jerman, menurut rencana bulan Juli mendatang akan di pamerkan ke Perancis dan Belanda.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-lully-tutus-bahagia-bersama-lukisan-8734
Budi Ubrux adalah salah satu sosok representasi seniman lukis yang berkarier dari titik dasar hingga meniti tangga-tangga pencapaian tertentu di atas. Berangkat dari pekerja gambar sebuah advertising lokal tahun 1988, hingga saat ini karyanya menjadi rebutan para kolektor walaupun harganya telah terpatok relatif mahal hingga ratusan juta rupiah.
Saat berbincang di studio lukisanya Jalan Imogiri Barat, Budi Ubrux mengatakan hobi melukis sejak kecil. Namun ketika duduk di bangku SMP, bakat melukis diketahui guru seni rupannya.

“Waktu SMP, guru saya pak Sakiyo, warga Dusun Jolosutro, Piyungan menyarankan agar melanjutkan ke SMSR (sekolah menengah seni rupa) Jogja. Karena, katanya saya punya bakat seni rupa. Dan akhirnya saya mendaftar dan diterima hingga lulus tahun 1988,” ujar pria lulusan SMP Muhammadiyah Dlingo, Bantul itu.
Setelah menjalani studi di SMSR selama 4 tahun (di SMSR waktu itu memang belajar hingga 4 tahun), Budi Ubrux sedianya ingin melanjutkan studi seninya ke FSRD ISI (Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia) Yogyakarta (sekarang namanya jadi FSR saja) sebagaimana diinginkan sang ayah agar mengenyam studi setinggi tingginya.
Namun keinginan masuk FSRD tidak langsung berhasil. Beberapa kali mengikuti tes masuk, tak kunjung sukses. Baru tahun 1999, Budi diterima. Itupun di jurusan patung. “Walaupun belum diterima, namun saya nggak masalah. Karena sudah kadung tidak kuliah, dan belum ada aktivitas lain, maka ketika ada tawaran bekerja di Sanggar Seniman Merdeka, Yogyakarta, langsung saya terima,” jelas lelaki kelahiran 1968 dari pasangan Bapak Muhtarji dan Ibu Ropin.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-budiati-dan-gina-pamerkan-lukisan-benang-di-museum-tino-sidin-3170
Budi Ubrux muda begitu keras ditempa oleh pengalaman pada kurun ini. Selain bekerja di Sangar Seniman Merdeka, dia juga nyambi kerja di perusahaan iklan GMC (Gema Multi Creative), serta di advertising Davinci milik anak seniman batik terkenal, Amri Yahya. Bisa dibayangkan betapa banyak waktunya tersita di tempat kerja dalam sehari.
“Dari pagi hingga siang bekerja di Sanggar Seniman Merdeka di kawasan selatan perempatan Wirobrajan. Siangnya pindah ke daVinci di sebelah timur-utara kampus FSR(D) ISI Yogyakarta di Gampingan. Dan sore hari melaju ke kawasan Sidoarum, Gamping, Sleman, Yogyakarta untuk kerja di GMC,” tutur suami dari Rengganis Dewi Wismasari.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-musibah-tak-halangi-watie-respati-melukis-9316
Walaupun di usia muda itu, Budi Ubrux penuh dengan kesibukan kerja dengan orang lain, namun hobi melukis dengan kanvas tetap saja dijalankan. Selepas waktu kerja, di kontrakan rumahnya dia selalu menyempatkan diri berkarya sehingga perjalanan kreatif sebagai seni rupa tetap lancar. Tahun 1992 dia bertemu dengan seorang pengusaha muda Yogyakarta dan dikenalkan Richard Schumaier, orang Swis yang memesan lukisan di atas jaket kulit. “Pesanan lukisan itu saya kerjakan dengan sepenuh hati. Akhirnya, pak Richard mau membayar karya dengan upah yang sangat bagus. Dan order itu pun berlanjut,” tandasnya.

Tahun 1995 Budi Ubrux mulai melukis dengan kanvas. Di tahun itu pula, pelukis kelahiran Dligo Bantul itu berangkat ke negara Swiss. Ia diminta Marcus Shanker yang datang langsung ke Yogyakarta. Lawatan ke Eropa ini merupakan kali pertama Budi Ubrux ke luar negeri. Dia diminta melukis tembok atau dinding penyekat sebuah tempat hiburan milik Marcus Shanker.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-perupa-supantono-pasca-retrospeksi-melanglang-asean-33
“Tema-tema yang pernah saya garap di Swiss antara lain: Egypt party (tentang nuansa Mesir), Cuba party, Tropical party, Valentine party, Mexico party, Cowboy party, dan lainnya,” kenangnya.
Hingga sekarang Budi Ubrux sudah menghasilkan ratusan karya seni rupa dari aneka ukuran. Karyanya juga banyak di koleksi para penggemar lukisan baik dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan sebagai seniman lukis, Budi Ubrux termasuk berprestasi. Tahun 2000 mendapatkan Grand Price Winner of Philip Moris Indonesia Art Award Nasional Galellry Jakarta Indonesia dan Philip Moris Award Art Singapore Art Museum.
Pertama kali ikut pameran tahun 1987 dengan tema With Kelompok Pandawa oleh Karta Pustaka Indonesia, Netherland Culture Center Yogyakarta. Dan hingga kini puluhan pameran kelompok maupun tunggal diikutinya baik di luar negeri maupun dalam negeri. di manca negara pernah di Switzerland, Singapura, Siena Italy, Rusia, Myanmar, Philipina, Vietnam, Bruxells, Melbourne, Hongkong dll. “Pameran tunggal baru enam kali, pertama tahun 1998 “Yellow Art” Baden, Switzerland. Saya itu nggak pede (percaya diri) kalau pameran tunggal. Jadi suka ikut pameran kelompok aja,” ujarnya dengan senyum menutup perbincangan di Stodio Gallery Jl. ATK Ngoto Bangunharjo Sewon, Bantul. (Yuliantoro)
