Lully Tutus Bahagia Bersama Lukisan

share on:
Lully dalam proses menyelesaikan lukisan ' Kolo Mongso' by acrylic on canvas 1,5 x 1,2 m || YP-Yuliantoro

PANDEMI dengan berbagai ceritanya justru menjadi pemicu bagi seorang ibu rumah tangga yang juga seorang pelukis, Lully Tutus, untuk terus berkarya.

“Bagi Saya melukis itu  seperti mempunyai anak. Satu karya berarti satu anak karya, masing-masing satu roh hingga tidak ada yang favorit, semua istimewa. Karena itu sebelum melukis Saya benar benar menyiapkan diri dengan cara mandi bersih.  Tiap satu karya selesai dihasilkan rasanya lega luar biasa,” kata Lully memulai perbincangan di studio alamnya yang asri 'Lully Tutus Art Studio', di Residence Ary's Tembi Dusun Mriyan, Kelurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, Bantul. 

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Lully mewarisi darah seni dari neneknya.

“Saat kecil Saya ikut Mbah Putri. Sembari mengasuh Saya, Beliau  suka membuat boneka kecil yang terbuat dari lilin, biasanya disebut 'tengulan'. Sayapun senang memperhatikan saat Mbah Putri melakukan hobbynya itu. Akhirnya Beliau pun mengajari Saya membuat 'tengulan'. Itulah awal mula perkenalan dengan seni rupa,” papar Cucu Ny Aspiyati Masdoeki Soedarmo . 

Selain belajar membuat boneka, Lully kecil juga suka mencoret coret kertas atau media apapun untuk digambari sesuatu. Kegiatannya ini mendapat dukungan dari Mbah Putri. Beliau kemudian memperkenalkan Lully pada maestro lukis Indonesia, Affandi.

“Setiap kali  melihat Affandi menggambar, dalam benak timbul cita cita kelak ingin seperti Beliau, jadi pelukis. Pak Affandi itu idola Saya,” kata Lully selanjutnya. 

Keinginan Lully untuk melanjutkan ke ISI agar dapat memperdalam pengetahuan di bidang seni ternyata tidak direstui orangtuanya. Pendidikan di Politeknik UNDIP jurusan Akutansi pun pun dijalaninya hingga selesai.

Namun semangat untuk terus berkesenian sentiasa berkobar. Meski tidak pernah khusus berguru, Lully ingin jadi pelukis yang serius dan professional. Untuk mencapai hal itu ia terus belajar dengan cara terus melukis,  membaca buku, melihat pameran seni rupa serta bergaul dengan seniman lintas bidang hingga bisa menambah wawasan tentang seni rupa khususnya lukisan. 

“Tahun 2001 saya pernah bekerja sekaligus belajar ilustrasi pada majalah anak 'INO' milik rumah produksinya Arswendo Atmowiloto. Saat itu medianya masih kertas dan tinta,” cerita Lully lebih lanjut.

Sejak 2009, Lully mulai melukis dengan media kanvas dan cat minyak. Perempuan berusia 42 tahun dan ibu tiga putra ini mendapat dukungan penuh dari suaminya, Jaka Yulianta. 

“Lukisan lama Saya tidak terdokumentasi dengan baik.  Ada warganegara Denmark yang lebih dari lima kali membeli lukisan Saya. Saat itu Saya tidak mengira kalau akhirnya bisa menjadi pelukis betulan,” kisah Lully.

Hingga kini Lully telah beberapa kali mengikuti pameran. Diantaranya adalah Pameran 10 Perempuan bertajuk 'Rupa Puisi Puisi Rupa, Rumah Budaya Tembi Yogya, 2021. Pameran 3 Perempuan 'Colors of Angel, Pop-up' Gallery Talenta Plaza Indonesia, Juli 2022.

Saat ini Lully tengah menyiapkan diri untuk mengikuti Fine Art Exhibitions, Ritus Patembayan, 14-18 November 2022 dan pameran Kelompok SAYAP di Semarang Januari 2023 mendatang. 

“Proses melukis dilakukan dilakukan dengan sukacita, penuh kegembiraan. Saya berharap siapapun yang menyaksikan karya lukis saya juga merasakan kegembiraan yang sama. Karena itu pula Saya tidak pernah melukis hal-hal yang bisa mendatangkan kesedihan bagi pemirsanya. Sebagai seniman, ada tanggung jawab moral terhadap karya yang dihasilkan,” kata Lully menutup perbincangan. (Yuliantoro)


share on: