Biosaka Efektif dan Ramah Lingkungan, Mampu Tingkatkan Hasil Pertanian

share on:
M. Ansar menunjukkan hasil budidaya cabai dengan penerapan biosaka, cabai besar dan tidak cepat layu || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Peran biosaka masih tergolong minim untuk sebagian besar petani di Indonesia, namun biosaka berhasil meningkatkan produktivitas hasil pertanian di sebagai wilayah Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. 

Penemu biosaka, Muhammad Ansar mengatakan, biosaka dapat mengurangi penggunaan pupuk, pestisida dan herbisida hingga 80 persen, bahan-bahan berasal dari rerumputan dan bisa dibuat petani dengan mudah. Biosaka merupakan elisitor yang membantu meningkatkan kesuburan lahan dan efisiensi penggunaan pupuk kimia. 

BACA JUGA: DPD IWOI Sleman Salurkan Bantuan Buku-buku Rohani

"Jadi biosaka adalah elisitor, bukan pupuk, tetapi bahan kimia yang diambil dari rerumputan," kata Ansar di sela menjadi narasumber di Gapoktan Moromakmur Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Kamis (10/7/2025). 

Ansar mengungkapkan,  biosaka terdiri N Level 1 yang juga dikenal sebagai Biosaka Jilid 2, ada pula serum tani,  upaya ini merupakan gerakan moral menjaga siklus alam yang turut mewujudkan Asta Cita ketahanan pangan Presiden RI Prabowo Subianto, menyehatkan alam dan manusia melalui bidang pertanian.

Muhammad Ansar didampingi Kamto, petani holtikultura menunjukkan tanaman cabai yang telah diaplikasikan biosaka || YP- Eko Purwono

"Karena ini sebagian dari pergerakan moral atau kesadaran moral dengan mengandalkan alam yang ada di sekitar kita untuk budidaya yang murah, efektif dan ekonomis, jadi pupuk sudah ada di sekitar kita," ungkapnya. 

BACA JUGA: Buron 10 Bulan, Maling Spesialis Rambu dan Kerangka Baliho Diringkus

Cara pembuatannya cukup mudah, yakni melalui metode peremasan tangan dengan media air sebagai pelarut ekstraksi dan bisa dilakukan langsung oleh petaninya sendiri. Menurutnya sejumlah petani mulai dari Aceh hingga Papua sudah menerapkan aplikasi ini. Berbahan ekstraksi alami dan ramah lingkungan. 

"Cara aplikasinya dengan dikocor,  setelah dibuat bisa langsung digunakan, tidak harus menunggu fermentasi, tidak beli gula, ataupun bahan lainnya, dan tidak diperjualbelikan," bebernya. 

BACA JUGA: Jenderal Maruli Simanjuntak Pimpin Penutupan Pendidikan Taruna Akmil 2024/2025

Selama ini, dirinya gencar melakukan sosialisasi secara swadaya dengan mengandeng kelompok-kelompok tani. Elisitor biosaka  mulai ditemukan sejak 2006, seiring perkembangan maka pada 2012, inovasi ini mulai dirasakan hasilnya oleh petani. 

"Sejak 2012 saya mulai berjalan, Alhamdulillah selama saya ada selalu beraktivitas dengan petani di lingkungan, jadi biosaka bukan merupakan hal yang baru," sambungnya. 

BACA JUGA: Upaya Penyelundupan 9.540 Gram Sabu Cair via Bandara YIA Berhasil Digagalkan

Keberhasilan dalam mengaplikasikan biosaka ini dirasakan oleh Kamto, salah satu petani di Dusun Domban, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Sleman. Ia mempraktikkan cara pembuatan hingga diaplikasikan ke tanaman holtikultura. 

"Ada peningkatan produksi mencapai 34 persen untuk tanaman sayuran, dan untuk tanaman padi meningkat sekitar 40 persen, pada tanaman padi yang biasanya dalam satu kotak sempit hanya panen 9 karung, tapi dengan biosaka kemarin dapat 12 karung, sudah saya coba sekitar 3 tahun," kata Kamto sembari menunjukkan tanaman cabainya. 

BACA JUGA: Seorang Pekerja Ekspedisi Terserempet Kereta Api di Stasiun Lempuyangan

Sementara itu, Ketua Gapoktan Moromakmur Dwiyanto Hedi Purwoko, menyebutkan dengan pembuatan dan penerapan biosaka maka diharapkan dapat menekankan ketergantungan petani akan zat kimia 

"Melalui biosaka ini diharap dapat membantu peningkatan hasil produksi petani, mengurangi ketergantungan penggunaan zat kimia pertanian oleh petani," tutur Hedi. (Opo) 

 

 

 

 

 

 

 


share on: