Yogyapos.com (BEKASI) - Formatur Pengurus Daerah Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PD KB PII) Kota Bekasi periode 2026–2030 beraudiensi dengan Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe, di ruang kerjanya, Senin (19/1/2026).
BACA JUGA: Relawan Muhammadiyah Berikan Layanan Kesehatan di Daerah Terisolir Aceh Timur
Selain bersilaturahmi, pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk berdiskusi mengenai problematika sosial di Kota Bekasi, khususnya yang berkaitan dengan pembinaan pelajar.
Dalam audiensi itu, formatur PD KB PII juga menyampaikan rencana pelantikan PD KB PII Kota Bekasi periode 2026–2030 yang dijadwalkan pada Sabtu, 14 Februari 2026.
BACA JUGA: Petugas Polsek Gamping Sigap Selidiki Peristiwa Begal Payudara
Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menyampaikan bahwa PII bukan organisasi yang asing baginya. “Istri saya juga PII. Bagi saya, PII itu bukan sesuatu yang tidak asing lagi,” ujar Bobihoe.
Ia menyatakan kesiapan Pemerintah Kota Bekasi untuk bersinergi dengan PII dalam berbagai program pembinaan generasi muda. “Insya Allah nanti kita bisa sinergi, apalagi kita mitra lama. Jadi banyak kegiatan yang bisa kita kolaborasi bersama. Karena PII ini sudah menjadi organisasi yang tua secara sejarah, tokoh-tokohnya banyak yang sudah jadi. Jadi, insya Allah saya siap hadir nanti kalau ada acara bersama-sama,” katanya.
BACA JUGA: Museum Monjali Tetap Favorit, Liburan Nataru Tembus 15.000 Pengunjung
Bobihoe menyoroti pentingnya pembinaan pelajar tingkat SMP dan SMA. Ia menegaskan bahwa ancaman narkoba dan penyimpangan perilaku menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
BACA JUGA: Mahasiswa UMY Sukses Inovasi Briket Ramah Lingkungan, Tembus Pasar Eropa
“Anak-anak SMP dan SMA perlu pembinaan. Yang mengkhawatirkan itu masalah narkoba, kedua LGBT. Itu hal yang sangat ngeri dan harus kita jaga bersama, jangan sampai ada di Kota Bekasi,” tegasnya.
PD KB PII) Kota Bekasi periode 2026–2030 || YP-ist
Ia mengungkapkan, Pemkot Bekasi bersama kepolisian pernah tidak memberikan izin terhadap kegiatan yang dinilai berisiko bagi pelajar. “Kemarin kita mencoret ada yang mau bikin acara lari ‘Color Run’ atau apa, tapi setelah koordinasi kita lihat, ‘Wah, ini bahaya,’ jadi tidak dikasih izin. Polres tidak kasih izin karena berbahaya. Sasarannya memang anak SMP–SMA,” ungkapnya.
BACA JUGA: Kemkomdigi Minta Penjelasan Meta Soal Isu Keamanan Data Pengguna Instagram
Menurut Bobihoe, pelajar yang tidak memiliki aktivitas positif berpotensi mudah terpengaruh lingkungan negatif. “Mereka bisa tergelincir karena tidak punya kegiatan. Pulang sekolah nongkrong, ditarik teman, ‘yuk ke sana, yuk,’” ujarnya.
Karena itu, Pemkot Bekasi mendorong penguatan kegiatan olahraga dan kreativitas pelajar melalui sekolah. “Makanya salah satu kerja sama dengan teman-teman cabang olahraga itu, kita ekspansi ke sekolah-sekolah. Kita bikin event-event. Besok tanggal 8 ada basket anak-anak pelajar umur 15 sampai 18 tahun, biar ada kegiatan mereka. Terus ada sepak bola dan segala macam,” katanya.
BACA JUGA: Pasal-pasal Problematik KUHP Baru, Catatan Advokat Chrisna Harimurti SH MH
Bobihoe juga menyinggung sejarah perjuangan PII di dunia pendidikan. “Karena waktu itu di SMA PII itu pakai jilbab. Belum semua pakai jilbab, jadi sekolahnya dikeluarkan dari sekolah karena ketat umum. Dimasukkan ke sekolah-sekolah Islam. Dulu kan di negeri belum bisa menerima. Perjuangannya berat banget, sekarang lebih berat lagi,” ujarnya.
BACA JUGA: RSUD Prambanan Peroleh Bantuan Ambulans dari Bank BPD DIY
Ia menilai pendekatan pembinaan remaja perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini, salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler dan media kreatif. “Bisa saja lewat ekstrakurikuler. Karena biasanya kalau mereka merasa menyimpang atau belok sedikit itu karena tidak ada perhatian dari guru, dari sekolah, keluarga, apalagi di rumah. Orang tuanya sibuk dua-duanya,” ucapnya.
BACA JUGA: Banyuraden Raih Peringkat II Kalurahan Terbaik
Bobihoe mengungkapkan rencana pembuatan film pendek sebagai media pembinaan pelajar. “Kemarin saya sempat bicara dengan istri bagaimana kita buat semacam film pendek buat anak-anak SMA. Dokumenter, ya, Pak? Ya film pendek terserah mereka, cuma misinya dimasukkan di materi filmnya,” katanya.
BACA JUGA: 13 Siswa SMA Muhi Yogya Bertolak ke Jepang, Ini Tujuannya
“Nanti bikin event lomba film pendek. Begitu sudah ada, kita lombakan, kita putar bareng-bareng. Nonton bareng,” tambahnya.
Ia menegaskan, metode pembinaan konvensional sudah tidak efektif di tengah kuatnya pengaruh gawai dan media digital.
“Kalau zaman dulu mah sudah kita training saja. Sekarang sudah kalah dengan gadget. Mana ada anak sekarang diajak training lagi kayak PII dulu. Sudah tidak mempan lagi, sekarang maunya dari mereka,” ujarnya.
BACA JUGA: Ketua PHRI DIY: Keberadaan Akomodasi Ilegal Harus Ditertibkan
Pada kesempatan tersebut, Formatur PD KB PII Kota Bekasi juga menyampaikan masukan program pembinaan dan pemberdayaan pelajar kepada Wakil Wali Kota Bekasi.
Ketua Formatur PD KB PII Kota Bekasi Dede Suryaman menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bekasi sekaligus memohon dukungan. “Kami siap berkolaborasi. Semoga pertemuan ini menjadi pembuka jalan untuk bersinergi,” ujar Dede.
BACA JUGA: Korem 072/Pmk dan Basarnas DIY Perkuat Sinergi Penanggulangan Bencana
Audiensi tersebut dihadiri Ketua Formatur PD KB PII Kota Bekasi Dede Suryaman bersama sejumlah pengurus formatur lainnya, yakni Hamim Anshari, Kartika Trimarti, Ughie, Zaenal Abidin, dan Ibnu Syafaat. (tha)
