TUMPENGAN HUT KE-47 TEATER ALAM: Azwar AN Wanti-wanti Anggotanya Agar Jadi Teladan

share on:
Azwar AN (tengah) didampingi Gegek Hang Andika (kiri) memberi sambutan sesaat sebelum pemotongan tumpeng | Foto : Wahjudi

Yogyapos.com (YOGYA) - Rajin-rajinlah memupuk dan membina teater, Yogykarta butuh Anda. Jadilah tumpuan teater Yogyakarta dan Indonesia. Jadilah teladan bagi teater di Yogyakarta. Itu tidak mudah, tapi itu tanggung jawab kita. Sekilas itu harapan kecil, tetapi kerjanya besar.

Pesan singkat pendiri Teater Alam, Azwar AN, disampaikan dalam tumpengan yang menandai malam puncak 47 tahun Teater Alam, di Societed Militery Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (3/1/2019) malam.

Bang Azwar, demikian para anggotanya akrab memanggil, berpesan agar kalangan teater senantiasa berlatih, mengolah kemampuan, dan lebih mencintai dunia teater. Puncak acara 47 tahun Teater Alam ditandai dengan tumpengan, pengguntingan buku Trilogi Teater Alam, dan pidato kebudayaan oleh Prof Yudiaryani MA (Guru Besar ISI Yogyakarta).

Dalam sambutannya Roso Daras menyebut bahwa buku Trilogi Teater Alam  disusun selama 2,5 bulan. "Penulis tentu mempunyai dedikasi yang tinggi untuk menghasilkan karya monumental ini," tandasnya.

Trilogi Teater Alam ini didedikasikan untuk masyarakat teater di Yogyakarta dan Indonesia. Buku tersebut merangkum proses kreatif Azwar AN sejak tahun 1972. Buku pertama "Azwar AN: Manusia Teater" berisi biografi dan testimoni para murid dan sahabat. Buku kedua "Teater Alam di Panggung Zaman" memotret Teater Alam di atas panggung teater dunia lengkap pencapaiannya di usia 47 tahun. Buku ketiga "Potret Teater Alam: Warna-warni Testimoni" memuat dinamika dan proses kreatif Azwar AN selama memimpin Teater Alam di mata murid dan orang dekatnya.


Pantomimer anggota Teater Alam Jemek Supardi ikut memeriahkan acara lewat aksi kreatifnya | Foto : Wahjudi

Usai penyerahan secara simbolis buku Trilogi Teater Alam kepada Meritz Hindra, murid tertua, dan Untung Basuki, dilanjutkan prosesi seniman pantomim Jemek Supardi memasuki Societed untuk mendengarkan pidato kebudayaan Prof Yudiaryani yang membawakan judul "Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni, Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia". Selain para anggota, acara juga dihadiri sejumlah seniman di luar Teater Alam.

Azwar AN ikon teaterawan Yogyakarta. Ia salah satu pendiri Bengkel Teater. Ketika kemudian Rendra pindak ke Jakarta, Azwar mendirikan Teater Alam dan lebih banyak mementaskan drama-drama klasik karya Sophocles, William Shakespeare maupun Slawomir Mrozek.

Keberadaan Teater Alam menjadi signfikan sepeninggalan Rendra ke Jakarta. Jumlah anggota bagai tak terhitung banyaknya. Dan para anggota inilah yang kemudian disebar oleh Azwar untuk menularkan teater di kampung-kampung dan kampus-kampus. Mereka melatih warga dan mahasiswa bermain drama, puncaknya dilakukan wisata teater melalui Himpunan Teater Yogya (HTY) di Parangtritis pada 1985.

Sementara menandai usia 47, Teater Alam mementaskan drama Tahanan karya Emmanuel Robles pada 8 Desember 2018 di TBY. (Udi/Met)

 


share on: