Srandhoel Raos Ngayogyan Raih Juara Lomba Pertunjukan Rakyat Sleman

share on:
Pentas Srandhoel Raos Ngayogyan di ajang Lomba Pertunjukan Rakyat se Kabupaten Sleman | YP/Ist

Yogyapos (SLEMAN) - Srandhoel Raos Ngayogyan salah satu  kelompok seni tradisional yang belum lama berdiri di Sinduadi Mlati Sleman. Meski usianya baru seumur jagung, tapi namanya mulai berkibar setelah beberapa kali menjuarai lomba.

Terakhir, Srandhoel Raos Ngayogyan berhasil menyabet Juara 1 Lomba Pertunjukan Rakyat se Kabupaten Sleman yang dihelat atas kerjasamanya dengan Dinas Kominfo.

“Kami ini ibarat sedang melakukan ibadah kebudayaan, sesuai tujuan  pendirian Srandhoel Raos Ngayogyan sejak awal,” ujar Harjuno PH selaku pimpinan kelompok ini kepada yogyapos.com, Selasa (9/4/2019).

Diungkapkan, selama ini pihaknya memang sangat terpanggil untuk nguri-nguri kesenian tinggalan para sesepuh seni agar generasi muda tetap mengenalnya. Sesuai perkembangan zaman, maka melakukan modifikasi kreasi srandhoel dengan ke dalam bentuk kekenian millenial. Sehingga bisa dinikmati semua orang.


Para pemenang lomba menerima penghargaan dari Dinas Kominfo Sleman YP/Ist

Modifikasi tersebut, papar Harjuno, setiap  pementasan alur cerita diambil dari naskah yang ditulis sendiri. Itulah yang mebedakannya dengan srandhoel tradisional karena cerita sudah sesuai pakem.

Ada beberapa naskah produk dari Srandhoel Raos Ngayogyan yang telah dipentaskan diantaranya Sidang Para Dewa, Ngampil Udan Tangan Klebos, Metrologi Banyu Bening dan Hoaks. "Naskah Hoaks ini yang mengantarkan kami meraih juara 1 Lomba Pertunjukan Rakyat se Kabupaten Sleman baru lalu,” terangnya.

Srandhoel Raos Ngayogyan didirikan baru pada awal tahun lalu, beranggota 20 orang. Bentangan waktunya sangat panjang dibanding dengan Srandul yang terbentuk di Wonogiri sekitar tahun 1920 an. Pertunjukan srandul biasanya melibatkan unsur gamelan, suara, teater dan tari. Gamelan yang digunakan biasanya berlaras slendro dan melibatkan alat musik lainnya seperti kendang, angklung,kenthongan dan rebana (terbang). Sedangkan dialog- dialog yang tercipta dalam cerita sebagian mengalir dalam ujud shalawat dan tembang Jawa yang berisi nasehat (pitutur) atau petuah tentang bagaimana menjadi orang jawa yang baik. (Agung DP)

 


share on: