SMAN 2 Banguntapan Lengkapi Sistem Daring Sejak Sebelum Pandemi

share on:
Para guru SMAN 2 Banguntapan tampak sudah terbiasa lakukan PSB sistem daring || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Banyak sekolah yang‘gagap’ dan tergeragap melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) menggunakan sistem daring selama masa pandemi Covid-19. Tidaklah demikian bagi SMAN 2 Banguntapan Bantul, sejak lama telah familiar melakukannya.

"Semula kami dalam melakukan PMB dengan sistem daring, masih mempergunakan kerjasama dengan server media. Itu saja kendalanya di lapangan pada tahun pelajaran 2019-2020. Ya terkait kuota internet,” kata Kepala SMA N 2 Banguntapan, Tri Giharto SPd MPd didampingi Wakasek Kurikulum Rudi Purwono SPd kepada yogyapos.com, Jumat (24/7/2020).

Namun, papar Tri Giharto, beberapa waktu lalu hingga kini, menggunakan media pembelajaran hasil kreatif SMA N 2 Banguntapan. Dengan cara ini media pembejarannya juga menjadi bervariasi yaitu bisa menggunakan Google, Class Room, DB Class dan Keybadew yang relatif ada kelebihannya yaitu praktis, simpel dan sudah ada kelasnya. 

Dengan cara ini pula para murid/wali murid tinggal download maupun upload materi yang berupa video gambar, power point maupun berupa teks. Ini

lebih praktis karena anak-anak didik tidak perlu membuat akun sendiri. Namun akun sudah disediakan. Mereka tinggal login dan guru juga tinggal Login Android/IOS .

"Sebenarnya PBM dengan sistem daring sudah kami ujicoba dan diterapkan sejak sekitar pertengahan tahun 2019. Semula kami menggunakannya untuk ulangan, melakukan pemantauan serta komunikasi dengan para wali murid untuk memonitoring kegiatan para siswa di luar sekolah,” jelas Tri Giharto.

Ia menambahkan, sejak beberapa waktu sebelum ada Covid-19, SMAN 2 Banguntapan berkreasi membentuk Tim Kreatif IT. Tim ini berhasil menerapkan sistem daring, hanya saja penerapan dan pengunannya masih relatif terbatas. Carannya masih realtif sederhana dan kurang luas.

Awalnya sistem IT yang diterapkan masih terbatas. Misalnya hanya berbasis Android. Keefektifannya juga masih kurang jika dilihat dari segi biaya dan jangkauan maupun kelancaran internetnya.

Berkat adannya Tim IT di sekolah ini yang selalu kreatif dan inovatif, maka menjadi semakin mudah bahkan menjadi terbiasa dengan sistem daring.

Semula dengan biaya Rp 300.000 per bulan jangkauan dan kelancaran internetnya masih sering ada kendala yaitu kurang lancar. Namun saat ini, dengan mengeluarkan biaya Rp 500.000 per bulan, bisa untuk melakukan daring kepada 700 siswa yang dilakukan oleh para guru.

Hasil kreatif PBM dengan cara daring di SMAN 2 Banguntapan, kini juga ditiru dan diterapkan di sekolah lain. (Supardi)

 

 

 


share on: