Sambut Muktamar, Ini Tips Kampus dan Santri Muhammadiyah Hadapi Era Digital

share on:
Prof Dr Harun Joko Prayitno MHum || YP-Ist

Yogyapos.com (SURAKARTA) - Muktamar Muhammadiyah - Aisyiyah ke-48 yang perhelatannya dimulai pada Jum’at 18 November 2022 ini, mengangat tema “Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta”. Teknologi menjadi salah satu komponen kemajuan yang terus didorong Muhammadiyah, karena transformasi menghadapi era digital menjadi hal yang tak terelakkan.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (ALPTK PTMA) Prof Dr Harun Joko Prayitno MHum dalam Webinar SEVIMA, berdasarkan keterangan tertulis pada Jum’at (18/11) pagi.

“Muktamar Muhammadiyah digelar bersamaan dengan Muktamar Fair dan Muhammadiyah Innovation Technology Expo. Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia hadir, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta juga membuka Stand sekaligus menjadi salah satu Tuan Rumah Muktamar. Ini kami lakukan karena kami yakin, perguruan tinggi harus mengikuti zaman dengan melakukan transformasi digital agar tidak tertinggal!,” ungkap Prof Harun yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Akademik Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dua tantangan besar terkait teknologi, disebut Prof. Harun hadir di era digital ini: Pertama berupa keterjangkauan jaringan yang masih perlu diperbaiki, kedua berupa kultur. “Kita yang di pulau Jawa saja kadang-kadang lost sinyal masih ada, plus belum semua orang melek digital dan paham bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik yang benar,” lanjut Prof Harun.

Dihadapan ratusan pemirsa Komunitas SEVIMA, Prof Harun memiliki 4 tips bagi perguruan tinggi mengahadapi tantangan di era revolusi industri 4.0. Berikut tipsnya:

1. Sesuaikan Kurikulum Kampus

Pada masa era digital seperti saat ini, kurikulum harus di desain yang berprespektif teknologi. Mulai dari Rencana Pembelajaran Semester (RMB) hingga sistem monitoring. Semua pelajaran juga perlu didorong memanfaatkan teknologi. Misalnya belajar organ dalam pada program studi kedokteran, bisa dilakukan dengan memanfaatkan Virtual Reality dan pemodelan tiga dimensi.

“Para perguruan tinggi saya kira harus mendesain kurikulum, karena kurikulum jadi ujung tombak, kurikulum harus didesain berprespektif teknologi,” kata Harun.

 

2. Kuasai Pembelajaran Abad 21

Perlu adanya menguasai keterampilan pembelajaran abad 21, yakni keterampilan pembelajaran yang berbasis teknologi. Jadi mahasiswa ketika lulus, apapun jurusannya, tidak hanya menguasai jurusan tersebut. Tapi juga tetap menguasai teknologi.

“Yang kedua mengenai keterampilan pembelajaran abad 21 atau pembelajaran yang berbasiskan teknologi. Jurusan apapun ketika lulus kuliah nantinya, akan perlu teknologi,” kata Harun.

 

3. Jadikan Teknologi Aspek Pembelajaran

Setiap perguruan tinggi juga disarankan oleh Prof. Harun mengubah paradikma atau cara berpikir yang menggunakan perspektif teknologi dalam berbagai aspek pembelajaran. Sehingga mahasiswa ketika lulus nantinya tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapi suatu problematika, tapi juga teknologi apa yang bisa dimanfaatkan untuk mempercepat bahkan menuntaskan problematika tersebut.

“Mengubah paradikma, cara berpikir yang menggunakan perspektif teknologi dengan berbagai aspek pembelajaran. Teknologi bisa mendukung kita dalam memecahkan solusi problematika yang kita hadapi, bahkan problematika bangsa,” kata Harun.

 

4. Perbanyak Belanja Teknologi

Tidak hanya cukup dengan tiga tips di atas. Prof. Harun menegaskan perguruan tinggi harus mulai menaikan belanja IT, jaringan, big data, serta sarana dan prasarana penunjang. Harapannya, agar akses jaringan IT lebih cepat dan mahasiswa serta kampus dapat segera mempelajari teknologi terkini. Jangan sampai misalnya, peralatan yang dimiliki laboratorium sebuah kampus masih berupa peralatan zaman dahulu yang sudah tidak lagi digunakan di dunia industri.

“Saya kira tidak cukup dengan tiga di atas, perguruan tinggi harus mulai menaikan belanja IT, belanja jaringan, big datannya, sarana prasarana, supaka akses jaringan dan IT cepat,” ucapnya.

Prof Harun juga berpandangan pembelajaran daring tidak mungkin ditinggalkan karena masih relevan dilakukan. Namun yang perlu ditingkatkan lagi adalah inovasi, baik dari sisi strategi pembelajaran, kombinasi, hingga sajian materi. Karena bagi para lulusan terutama fresh graduate, beradaptasi dengan teknologi menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan karena akan bermanfaat bagi karir kedepannya.

“Bagi fresh graduate saya kira adaptasi teknologi jadi bagian tiddak terpisahkan. Lulusan baru yang penting adalah bisa dekat dan adaptasi dengan teknologi, karena akan berguna bagi berbagai kehidupan. Misal untuk lamar kerjaan, pengembangan karir dan inovasi, enterpreneur (pengusaha). Jadi kampus dan santri Muhammadiyah perlu siap menghadapi era digital sejak dalam kampus, sehingga menguasai teknologi dan siap untuk menjelajah kehidupan,” pungkas Harun. (*)

 


share on: