Program Guru penggerak: Transformasi Pendidikan yang Memerdekakan

share on:
Mendikbud RI, Nadiem Anwar Makarim || YP-Ist

Yogyapos.com (JAKARTA) - Sebanyak 147 orang dari 785 fasilitator/instruktur, 614 orang dari 45.575 pendamping, serta 2.800 orang dari 19.218 guru telah lulus seleksi Program Guru Penggerak (PGP) Angkatan I. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, memberikan apresiasi kepada peserta yang telah lulus seleksi dalam program tersebut.

“Selamat, sudah berjuang mengambil peran menuju transformasi pendidikan Indonesia, yaitu transformasi pendidikan untuk pembelajaran berpihak pada murid dan pembelajaran yang memerdekakan,” ucap Mendikbud saat membuka secara resmi Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) secara virtual di Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Mendikbud mengatakan tujuan program adalah  menyatukan pemahaman, visi dan misi pendidikan, memotivasi, dan menguatkan para peserta. Kelulusan itu membuktikan bahwa calon guru penggerak memiliki motivasi tinggi karena prosesnya tidak mudah. Butuh determinasi guna menyiapkan semua persyaratan dan memenuhi proses seleksi.

“Ibu dan Bapak mungkin perlu berjalan puluhan kilometer demi mendapatkan jaringan stabil agar mampu melakukan wawancara. Mereka banyak berguguran dan menyerah dengan prosesnya. Sekali lagi, selamat!, selamat sudah melewati proses yang tidak mudah dan menjadi yang terbaik,” kata Mendikbud.

Menurutnya perjuangan para calon guru penggerak belum berakhir. Mereka harus terus belajar bagaimana bergerak menuju perubahan pendidikan yang diinginkan. Ada sembilan bulan lagi sampai mereka benar-benar menjadi Guru Penggerak.

“Sepanjang sembilan bulan ke depan, kita akan menjalani pembelajaran bermakna. Pembelajaran yang penuh refleksi dan kerendahan hati selalu berbenah,” lanjut Mendikbud.

Ia berharap, para calon guru penggerak terbuka tatkala melaksanakan proses belajar sehingga hasilnya pun maksimal. PPGP didesain menggunakan pendekatan andragogi dan blended learning mendukung hasil pembelajaran implementatif berbasis lapangan.

“Sampaikan semua tantangan, keberhasilan sekecil apapun, serta kebingungan yang dihadapi. Berbagilah setiap kebahagiaan atas perubahan-perubahan yang dialami,” ujar Mendikbud.

Ia memaparkan, sebanyak 70 persen kegiatan dilakukan secara on-the-job training. Guru sebagai peserta PPGP tetap bertugas mengajar dan menggerakkan komunitas di sekolah. Selanjutnya, 20 persen kegiatan dirancang berbentuk kegiatan belajar bersama rekan sejawat. Sedangkan 10 persen sisanya pembelajaran bersama narasumber, fasilitator, dan pendamping.

Mendikbud mengingatkan, setiap orang adalah guru sekaligus murid. Ia menekankan untuk terus mencoba dan terbuka terhadap hal baru. Calon guru penggerak sekarang ini sedang menemani belajar murid-murid yang akan mengisi masa depan, dimana segala hal baru sangat mungkin banyak terjadi. Ia berpesan agar para peserta membiasakan diri bereksplorasi.

“Teruslah mencari cara terbaik mengimplementasikannya di ruang kelas. Proses ini mungkin tidak nyaman dan bisa saja ada keraguan. namun teruslah berproses bersama dan bergotong royong. Saling dukung dan saling menyemangati. Cita-cita kita satu, yakni pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembelajaran yang memerdekakan,” tutup Mendikbud.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Pendidikan (Dirjen GTK), Iwan Syahril, mengajak para peserta pendidikan guru penggerak memimpikan sebuah cita-cita dan harapan. Saat ini mimpi bangsa Indonesia adalah Indonesia emas, berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Sumber daya manusianya mesti menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Beranikanlah diri bermimpi setinggi-tingginya. Indonesia, negara yang kita cintai ini lahir dari para pemimpi dan para pejuang tak kenal lelah. Mereka  bergerak memperjuangkan mimpinya, Indonesia Merdeka,” ujar Iwan Syahril.

Sebagaimana arahan Presiden, lanjut Iwan, untuk meraih mimpi ada dua syarat harus terpenuhi yaitu kerja keras dan inovasi. Kerja keras, kerja cepat, kerja produktif. Jangan berorientasi proses, tetapi harus berorientasi hasil nyata.

“Kita mendorong calon guru penggerak menjadi pemimpin-pemimpin pendidikan di masa depan berpusat pada murid, memandang anak dengan rasa hormat,”ujar Iwan.

Iwan mengingatkan calon guru penggerak terpilih dari 56 kabupaten/kota selalu memegang motivasi di awal seleksi. Perjalanan selama sembilan bulan bukan waktu sebentar. Semangat naik turun pasti terjadi.

“Ingat bahwa Anda tidak sendirian melalui hal ini. Ada Pengajar Praktik (Pendamping), Fasilitator dan rekan sesama calon guru penggerak bisa menjadi sumber energi tak terbatas. Bapak Ibu adalah bagian dari komunitas pembelajar yang senantiasa saling mendukung,” katanya.  

Dijelaskan, PPGP adalah program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui pelatihan dan pendampingan. Fokusnya pada kepemimpinan pembelajaran supaya guru dapat menggerakkan komunitas belajar di sekitarnya serta mewujudkan merdeka belajar peserta didik.

Program ini bertujuan memberikan bekal kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan pedagogi. Harapannya, para guru mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar sekolah. Di samping itu berpotensi menjadi pemimpin pendidikan yang menciptakan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan sekolahnya masing-masing.

PGP akan dilaksanakan oleh enam Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) yaitu P4TK IPA Bandung Jawa Barat, P4TK Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial Batu Jawa Timur dan  P4TK Bahasa DKI Jakarta. Kemudian P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Kesiswaan Kabupaten Bogor Jawa Barat, P4TK Matematika Daerah Istimewa Yogyakarta, dan P4TK Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Luar Biasa Bandung Jawa Barat. (*/Muf)


share on: