Profesor Sri Handayani Temukan 'Kimia Hijau' yang Ramah Lingkungan

share on:
Sri Handayani saat membacakan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kimia Organik Sintesis pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam , UNY, Sabtu (25/7/2020) || YP-Deddu Herdito

Yogyapos.com (SLEMAN) - Perkembangan ilmu kimia organik di satu sisi memberikan kontribusi positif dalam peradaban manusia dengan ditemukannya berbagai produk sintesis yang sangat bermanfaat seperti obat-obatan, tekstil, plastik, pestisida, pupuk dan sebagainya. Namun, disisi lain proses produksi senyawa organik sintetik ternyata menimbulkan permasalahan lingkungan seperti limbah asam atau basa dan senyawa lain yang berbahaya. Permasalahan lain yang sering dijumpai pada sintesis senyawa organik adalah penggunaan energi yang besar karena seringkali sintesis senyawa organik memerlukan panas tinggi dan waktu yang lama. Selain itu, masih banyak ditemukan desain sintesis yang menggunakan bahan berlebihan tetapi tidak menghasilkan produk dengan optimal.

Demikian dikatakan Prof Dr Sri Handayani MSi dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kimia Organik Sintesis pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pidato berjudul ‘Pengembangan Sintesis Organik Dan Uji Potensinya Sebagai Senyawa Aktif: Menuju Ekonomi Hijau’ itu dibacakan dihadapan rapat terbuka Senat, di Auditorium UNY, Sabtu (25/7/2020).

Sri Handayani adalah guru besar UNY ke-157. Wanita kelahiran Sukoharjo, 13Juli 1970 tersebut mengatakan, perkembangan penelitian dan penemuan baru pada berbagai bidang ilmu berjalan sangat cepat.

“Kimia Hijau, suatu proses kimiawi yang ramah lingkungan telah menjadi isu terkini dalam industri kimia,” paparnya.

Proses industri yang ramah lingkungan adalah suatu proses untuk mengurangi atau menghilangkan efek negatif pada lingkungan yang berdasar pada 12 prinsip yang meliputi: pencegahan, atom ekonomi atau efisiensi atom, desain metode sintesis yang aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan, desain produk kimia yang aman, sedapat mungkin tidak menggunakan bahan yang tidak diperlukan, minimalisasi energi, menggunakan bahan yang dapat diperbaharui, menghindari derivatisasi yang tidak diperlukan, efisiensi reaksi dengan menggunakan katalis, desain produk yang dapat terdegradasi, pencegahan polusi dengan analisis realtime serta pemilihan bahan kimia yang memiliki risiko kecelakaan terkecil. Kedua belas prinsip kimia hijau tersebut yang dikombinasikan dengan efisiensi sumberdaya akan bermuara pada ekonomi hijau. Tujuan utama dari sintesis organik berbasis kimia hijau pada akhirnya adalah desain sintesis yang menghasilkan reaksi tanpa limbah (zerowastereaction). Penanganan limbah sangat kompleks dan akan menjadi reaksi  berbiaya tinggi. “Sehingga, reaksi tanpa limbah merupakan jalan terbaik menuju ekonomi hijau. Oleh karena itu kami mulai menggeser fokus riset menuju reaksi yang meminimalkan limbah serta menggunakan bahan alam yang terbarukan,” jelasnya.

Doktor bidangIlmu Kimia di UGM tersebut memaparkan, beberapa tahun ini telah melakukan penelitian tentang pembuatan sabun padat natural. Dengan memanfaatkan bahan alam yang melimpah seperti kopi, minyak cengkeh, kulit melinjo,lemon, daun jambu dan lain-lain sebagai aditif, terbukti produk sabun tersebut dapat memberikan manfaat lebih baik bagi kulit. Manfaat lain yang dimiliki sabun natural yaitu sabun menjadi memiliki fungsi seperti skin care, dapat membantu melembabkan mengurangi noda sekaligus sebagai anti mikroba.Dengan demikian, penggunaan sabun natural akan mengurangi penggunaan  produk lain seperti lotion atau obat jamur, sehingga dapat meningkatkan nilai guna dari bahan-bahan alam tersebut. Dua bahan alam yang mudah ditemukan dan dapat digunakan sebagai bahan-bahan aditif dalam pembuatan sabun alami yaitu minyak cengkeh dan kulit mlinjo. Sabun yang mengandung minyak cengkeh bisa menjadi alternatif lain yang menjanjikan sebagai sabun anti bakteri dan anti jamur alami dimasa depan. Daun, buah dan kulit buah melinjo secara luas telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Melinjo mengandung stilbene sedangkan kulit batang melinjo mengandung resveratrol dan 3-metoksiresveratrol. Telah banyak dilaporkan bahwa senyawa dalam kulit melinjo yang bermanfaat biasanya adalah senyawa polar seperti antosianin, resveratrol, flavonoidsertapolifenol. Melinjo memiliki aktivitas antioksi dan pada bagian daun, kulit kayu, ranting, dan biji melinjo. Biji dan kulit melinjo juga memiliki aktivitas sebagai anti mikroba. Ekstra ketanol melinjo dapat menghambat pertumbuhan Bacilluscereus, Staphylococcusaureus dan Enterobacteraerogenes.

Warga Wedomartani Ngemplak Sleman tersebut menyebutkan, sintesis organik melalui reaksi kondensasi dan saponifikasi dapat dilakukan dengan lebih ramah lingkungan dengan berdasar pada 12 pilar kimia hijau. Beberapa cara yang dapat digunakan adalah dengan pemilihan katalis yang tepat, atom ekonomi, penggunaan energi minimal, desain metode sintesis yang tepat, menghasilkan reaksi tanpa limbah serta menggunakan bahan alam terbarukan. Senyawa organik hasil sintesis dapat diaplikasikan sebagai antioksi dan, tabir surya, anti bakteri maupun anti jamur. Sintesis organik berbasis kimia hijau perlu untuk dikembangkan lebih lanjut kearah ekonomi hijau. (Deddy Herdito)


share on: