Prof Hamam Hadi : Tren Covid-19 Menurun, Tapi Patut Waspada Potensi Gelombang Ketiga

share on:
Rektor Universitas Alma Ata, Prof Dr H Hamam Hadi MS ScD SpGK kepada wartawan, di Ruang Theater KH Abdullah Masduqi kampus setempat, Kamis (14/10/2021) || YP-Eko Purwono

Perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia menunjukkan tren membaik, namun demikian potensi gelombang ketiga kasus Covid-19 patut diwaspadai. Pemerintah perlu mensikapi dengan bijak dan masyarakat tidak boleh lengah dalam euforia yang berlebihan. Di Yogyakarta sangat membutuhkan percepatan untuk membuka sarana pendidikan, khususnya kampus dan sekolah.

“Di Indonesia kita melihat situasinya lebih terkendali, kasus baru perhari tidak lebih dari 1.500, hari- hari ini pada kisaran 1.200 hingga 1.250 dan di Jogja ada perbaikan yang sangat signifikan, yakni pada kisaran 30 sampai 50 kasus, maknanya kalau dilihat pada bulan Juli hingga Agustus ada penurunan, pada waktu itu pada puncaknya bisa mencapai 2.600 perhari. Ini suatu prestasi yang sangat luar biasa,” terang Rektor Universitas Alma Ata, Prof Dr H Hamam Hadi MS ScD SpGK kepada wartawan, di Ruang Theater KH Abdullah Masduqi kampus setempat, Kamis (14/10/2021).

Namun demikian, tandas dia, bahwa pandemi Covid-19 belum usai, sejumlah negara justeru mengalami kenaikan kasus seperti Singapura dan Turki, meskipun tidak ada lonjakan yang terus meninggi, hal tersebut perlu diwaspadai terkait kemungkinan social movement, mutasi dari Covid-19, dan soal prosentase warga yang telah mendapatkan vaksin.

“Kita tidak boleh euforia berlebihan lalu lupa pandemi Covid-19, apalagi mengatakan bahwa kita sudah selesai, ini sangat berbahaya sekali, oleh karena itu hal-hal semacam ini perlu kita waspadai dan diperhatikan bersama, termasuk Pemerintah dan masyarakat secara luas,” katanya.

Lantas, lanjut dia, kebijakan dari Pemerintah dalam membuka sekolah untuk tingkat dasar hingga perguruan tinggi maka dibutukan perhatian ekstra, andaikata hal tersebut merupakan keharusan.

“Pada saat membuka sekolah maupun kuliah, pastikan bahwa untuk cakupan vaksin atau vaksin coverage itu telah tinggi, idealnya lebih dari 80 persen. Kalau belum lalu bisa, seperti di kampus ini akan dicoba dengan sistem hybrid, yang boleh masuk kampus yang sudah melaksanakan vaksin yang kedua, yang belum bisa mengikuti secara daring,” ungkapnya.

Selain itu, sebelum membuka sekolah maupun kuliah tatap muka, pastikan di lingkungan sekitar kasus Covid-19 telah terkendali selama kurang lebih 3 minggu kasusnya rendah."Protkes harus dijalankan, sehingga bisa terkendali. Selain itu dibutuhkan kepastian regulasi dari Pemerintah,” ujarnya.

Hal yang lain tidak boleh diabaikan, yakni kesiapan sistem dan manajemen untuk membukan kembali fasilitas kantin sekolah atau kampus, lokasi ini rentan menjadi tempat berkerumun sebagai media penularan Covid-19. Sehingga dibutuhkan pemikiran dari pimpinan sekolah maupun kampus untuk memperbaiki sistem.

“Ketika mau membuka sekolah maka pikirkan juga mengenai sistem pembukaan kantin sekolah dipastikan berjalan baik , agar tidak terjadi penularan baru, pastikan makanan bersih dan higenis. Harapanya saat masuk sekolah dalam aman, anak tambah sehat, pintar dan berkepribadian yang bagus,” pungkasnya. (Eko Purwono)

 

 

 


share on: