POLKA Yogyakarta Gerakkan Ekonomi Masyarakat Berbasis Kampung

share on:
Diskusi online ngobrol pasar komunitas || YP-Mufti

Yogyapos.com (YOGYA) - Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan sektor yang telah terbukti ketangguhannya menghadapi berbagai krisis. Tak sedikit perusahaan besar mengalami goncangan hebat dihantam pandemi Covid-19. Beberapa diantaranya sempat mengambil kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi karyawannya hingga menghentikan produksi, karena tak sanggup bertahan. Namun usaha kecil yang dijalankan masyarakat justru menggeliat, bahkan eksis meningkatkan penjualan produk dagangannya, sebagaimana dirasakan Komunitas Pasar Online Karanganyar (POLKA) Yogyakarta.

Penggagas dan penggerak POLKA Yogyakarta, Helmi Kurniawan, membeberkan bahwa POLKA merupakan sebuah pasar komunitas berbasis kampung, beranggotakan warga Kampung Karanganyar, Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta. Tetapi, ada juga beberapa warga sekitar Karanganyar menjadi komunitas POLKA, seperti Karangkajen, Karangkunti, Prawirotaman, hingga di luar Kelurahan Brontokusuman. Mereka cukup aktif melakukan transaksi jual beli melalui grup Whatsapp yang dibentuknya.

“Kalau melihat statistik penjualan anggota grup per bulan, 75% beromzet sampai Rp 3 juta. Kemudian 15% omzetnya antara Rp 3 juta – Rp 5 juta, dan 10% omzet di atas Rp 5 juta. Ada omzet anggota mencapai Rp 10 juta per bulan, karena pekerjaan sehari-harinya memang berdagang,” ungkap Helmi dalam diskusi online bertema ‘Menggerakkan Pasar Komunitas UMKM Sebagai Pengungkit Pemulihan Ekonomi Nasional’ yang digelar Komunitas Indonesia Menolong, Jumat (17/7/2020).

Menurutnya, POLKA Yogyakarta terbentuk sejak 4 April 2020 lalu, seiring dinyatakannya pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional nonalam oleh Pemerintah. Masyarakat mengalami kekhawatiran akan penularan virus, baik ketika berbelanja ke pasar, supermarket, atau mengirim pesanan ke luar kampung. Ia membentuk grup secara spontan mengingat adanya pembatasan berbagai kegiatan di tempat umum.

“Belum lagi keluarnya sejumlah kebijakan, menyebabkan sulitnya mencari kebutuhan pokok, barang, serta jasa lainnya yang dibutuhan masyarakat. Ini membuat kondisi ekonomi warga Karanganyar mengalami tekanan, dampak dari pandemi,” lanjut Helmi.

Helmi memaparkan, faktor lain yang membuat dirinya menggagas POLKA adalah saat harga ayam jatuh di kisaran Rp 25 ribu per 2 kilogram. Ada penawaran dari supplier, namun tidak ada inisiatif warga untuk membeli. Ia bersama beberapa teman lalu mencoba memfasilitasi penawaran tersebut melalui grup Whatsapp berbasis masjid awalnya. Dari grup itulah ayam ditawarkan pada warga.

“Di luar dugaan, respon warga ternyata begitu tinggi. Kurang dari 24 jam sudah ada 200 ekor ayam dipesan. Luar biasanya, dalam tiga hari pesanan mencapai 800 ekor. Beberapa anggota dari grup menawarkannya kembali (reseller) kepada rekan ataupun masyarakat di daerah lain,” katanya.

Helmi kemudian mengalihkan grup Whatsapp berbasis masjid ini ke lingkup lebih besar berbasis kampung. Tujuannya memperluas jaringan sehingga meningkatkan penjualan sekaligus menggerakkan ekonomi warga Karanganyar khususnya.

“Penjual menawarkan produk dengan sistem pre order (PO), disusul terjadinya transaksi baik lewat grup atau japri. Selanjutnya, penjual mengantarkan pesanan ke pembeli sesuai kesepakatan. Sedangkan dari pihak pembeli mencari informasi produk melalui grup, lalu mengontak penjual sampai terjadi kesepakatan waktu maupun tempat,” terang Helmi menceritakan aktivitas POLKA sehari-hari.

Fungsi admin grup selain menjadi fasilitator, juga mengedukasi sekaligus memotivasi seputar bisnis. POLKA bukan hanya ruang jual beli, namun juga tempat belajar bersama tentang kewirausahaan. Ia berharap, daya beli masyarakat dapat dipertahankan dan transaksi tetap berjalan. Beberapa anggota mampu menghubungkan para pedagang dengan supplier sehingga memperoleh barang dagangan di bawah harga pasar.

“Dari sini, anggota yang belum pernah jualan mulai bergerak menawarkan dagangan sendiri atau menjualkan produk orang lain sebagai reseller. Misalnya saja, orang Srandakan yang tinggal di Karanganyar menawarkan produk-produk di POLKA kepada masyarakat Srandakan. Sebaliknya, barang atau produk seperti makanan khas Bantul ditawarkannya pula ke POLKA,” sebut Helmi mantap.

Helmi menguraikan, komposisi penjual dan pembeli di POLKA meliputi 50% penjual, terdiri dari produsen (20%), distributor/reseller (70%), dan jasa (10%). Konsumen (pembeli) menempati porsi sebanyak 50%. Sementara profil penjualnya terbagi menjadi pedagang lama (40%) dan pedagang baru (60%).

“Untuk lebih memperluas jaringan, POLKA akan kami kembangkan lagi dengan aplikasi berbasis Android, Pasar Online Jogja (Pasojo). Saat ini aplikasi sudah bisa diunduh lewat playstore. Nanti ada juga aplikasi ojek online. Sasaran kami pasar yang lebih luas, terhubung ke Tokopedia, Bukalapak, Sophee, dan sejenisnya sebagai market place nasional,” ujarnya menyebut rencana pengembangan POLKA. (Muf)

 

 

 

 

 

 

 


share on: