TIDAK terbayangkan, bagaimana ratusan orang stroke dan insan pasca stroke ngumpul,saling berbagi pengalaman menggapai kesembuhan. Bahkan ada yang unik, ketika hampir dua puluh tahun terkena stroke justru bisa menghasikan puluhan buku, ada pejabat TNI yang ketika stroke tetap dipercaya menjadi Kepala Riset RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.
Siapapun tak ingin terkena stroke, tetapi kenyataannya di Yogyakarta menduduki ranking ketiga dengan jumlah penyandang stroke di Indonesia. Bahkan data yang dimiliki oleh Jogja Stroke Club, anak muda seumuran SMA sudah ada yang kena stroke.
Melihat kekhawatiran dengan merebaknya penyandang stroke itu Yayasan Jambore Stroke Indonesia (Yastroki) Yogyakarta menyelenggrakan Jambore Stroke Indonesia #1. Dr dr Paryono SpS (K) Ketua Yastroki DIY berharap acara yang digelar di Yogyakarta 29-30 Oktober 2022 di Grand Inna Malioboro, di Embung Hepi Tambakboyo dan ditutup dengan kirab di Maliboro.
Seribu lebih orang berkampanye hidup sehat dan jangan sampai kena stroke, karena penyakit ini termasuk penyebab kematian tertinggi dan angka kecacatan tertinggi. Acara jamboree berikut kirab disyiarkan secara live diikuti oleh 10.000 orang melalui live streaming Youtube dan Zoom meeting. Dokter Paryono bahkan mengecek, bahwa bisa jadi jambore orang stroke ini menjad event pertama kali di duniadan paling banyak.
Ketua Panitia Pusat The World stroke day dan JSI Mayjen TNI Purn Dr Dr Tugas Ratmono SpS MARS MH mengatakan bahwa tema yang diambil pada JSI@1 kali ini adalah Perang Semesta Melawan Stroke dimaksudkan terjadinya secara kolektif dan terintegratif dalam menangani, mencegah dan mengobati stroke.
“Stroke bisa dicegah, diobati dan dipulihkan karenanya kita juga bersinergi dan berkolaborasi dengan banyak pihak diantaranya IDI, Perdossi, Perdosri ,IAMARSI agar terjadi kolaborasi dan mengatasi pertumbuhan penyandang stroke yang memang sangat memprihatinkan,” kata dokter Tugas.
AR Iskandar ketua Pelaksana Jambore stroke Indonesia#1 mengaku sangat terharu saat ratusan orang stroke dan Insan Pasca Stroke hadir di rangkaian acara diantaranya talshow yang diiukti secara hybrid dengan dipandu dokter Lula Kamal, kemudian dengan menaiki mobil VW bekerjasama dengan VCY (Volk wagen Club Yogyakarta) para strokers diajak keliling Yogya danmenikmatiembung Tambakboyo dan melakukan senam sehat bio energy power.

Dari Embung Tambakoyo dilanjut flasmop dance dankirab di sepanjang Malioboro. Saat kirab, para strokers didampingi mahasiswa pramugari dari STTKD Yogyakarta yang tampil cantik.
“Kami sangat terharu ribuan orang menyaksikan kami yang berjalan dengan sangat berat tetapi semangat dan tidak terasa bisa mengkampanyekan bagaimana hidup sehat, sebab bangsa akan kuat kalau rakyatnya sehat” kata AR Iskandar.
Pada saat talkshow, seorang strokers yang puluhan tahun menjalani hidup dengan keterbatasan namanya Ir Wisnu Wardhana bercerita bahwa dirinya merasa terpanggil untuk tetap hidup dan produktif walau menjadi penyandang stroke.
“Saya tidak mau berhenti dan tidak produktif, walau tangan terbatas nggak bisa banyak bergerak tetapi saya Alhamdulillah bisa menghasilkan puluhan buku tentang bagaiman acara agar terhindar dari stroke juga bagaimana mengobatinya, walau saya sendiri stroke,” kata mantan pegawai Batan Yogyakarta.
Pada bagian lain seorang Letkol CKM Robinson Siregar SHMM justruketika stroke diamanahi sebagai periset di RSPAD Gatot Soebroto. “Intinya setiap penyakit apapun yang melanda kita, tetap selalu bersyukur karena masih diberi harapan untuk hidup dan menjalani kehidupan, kalau pun stroke saya semangat berkarya dan ternyata bahagia dan bersyukur itu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan stroke,” kata Robinson optimis.
Dalam talkshow juga muncul banyak harapan dari para strokers dari beberapa propinsi di Indonesia agar rumah sehat memiliki program kebersamaan dalam penyembuhan dan pengendalian angka stroke agar tidak meninggi. Orang memiliki kesadaran barubahwa perilaku sehat itu penting termasuk menjaga pola makan agar tidak terkena stroke.
Siapapun bisa terkena stroke dan komunitas stroke sebagai media menjalin kolaborasi dan kebersamaan dalam menyembuhkan stroke belum banyak tumbuh di setiap kecamatan atau kabupaten. (Gigin)
