Yogyapos.com (SLEMAN) - Gelar Budaya dan Potensi UMKM Kalurahan Triharjo dimeriahkan pergelaran wayang kulit, di halaman Kantor Kalurahan Triharjo, Sleman, Jumat (17/10/2025) malam.
BACA JUGA: Media Gathering, Bidhumas Polda DIY Mancing Bareng Jurnalis
Kegiatan ini, selain dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-79 Triharjo, juga sebagai ujud nguri-uri budaya leluhur ini, turut dihadiri oleh sejum lah tokoh masyarakat Forkopincam Sleman, Tim Monitoring Kundha Budaya, Lurah serta Pamong, Bhabinkamtimas,Bhabinsa, PKK, Relawan, Linmas, BPD, RT/RW dan Pengurus Budaya Triharjo.
Pergelaran wayang dengan lakon ‘Banyu Suci Perwita Sari’oleh Ki Dalang Ruzal Afud Al Kindi dengan bintang tamu Rio Srundeng dan Ari Kenyut Angkringan TVRI dan seniman H Mujiyono ini terselenggara atas pembiyaan Dana Keistimewaan (Danais).
BACA JUGA: HUT ke-55 GBI di Kalurahan Canden, Baksos Kesehatan Hingga Cukur Gratis
Samiyono D'Tejo Seksi Budaya Adat dan Tradisi, Kalurahan Triharjo mengungkapkan, satu hal yang patut diteladani dalam cerita pergelaran wayang ‘Banyu Suci Perwita Sari’ ini yakni keteguhan seorang Bratasena di dalam melaksanakan perintah Guru Durna, meskipun sejatinya Durna bermaksud mencelakai Bratasena, agar muridnya tewas lebih dini, sehingga pada saat perang Bharatayuda kelak peta kekuatan Pandawa menjadi berkurang.
BACA JUGA: MilkLife Soccer Challenge Telurkan Bibit-bibit Pesepak Bola Putri Bertalenta Istimewa
Namun lanjutnya, berkat tekad bulatnya dan mantab dalam menjalankan perintah gurunya, Sang Bratasena justru mendapatkan Banyu Suci Perwita Sari dan Dewa Ruci, yang notabene merupakan kesucian rohani dan pencerahan jiwa.
“Hikmah bisa dipetik dari cerita tersebut, barang siapa melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka kelak akan berhasil (man jadda wajadda, QS Al Ankabut ayat 69, Ar Ra'd ayat 11)," tandasnya kepada yogyapos.com disela-sela menyaksikan pagelaran wayang tersebut.
BACA JUGA: Fadli Zon: Budaya Perekat Bangsa, Sumber Kebijaksanaan dan Penuntun Masa Depan
"Sebagai warga Triharjo harapan kami, semoga pagelaran wayang ini, menjadi titik tolak kebangkitan dan tumbuh kembangnya seni budaya yang adiluhung, ditengah derasnya arus globalisasi, agar status sebagai Desa Budaya, menjadi Desa Mandiri Budaya,” tandas Samiyono. (Agung Dwi Purwanto)
