Pandemi Covid-19, Tingkat Kunjungan ke Perpustakaan Turun Drastis

share on:
Paparan Kepala Perpustakaan Unnes, Zakaria Eko Handoyo || YP-Mufti

Yogyapos.com (SEMARANG) - Perpustakaan merupakan fasilitas sangat penting bagi institusi pendidikan terutama perguruan tinggi. Keberadaan perpustakaan menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian kepada masyarakat. Karena itulah, perpustakaan diibaratkan jantungnya pendidikan, sebagai sarana transfer pengetahuan dan teknologi.

Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Mr Mokhammad Zakaria Eko Handoyo, Jumat (26/06/2020), di ruang kerjanya menyampaikan bahwa berlangsungnya pandemi Covid-19 di Indonesia berdampak pada berbagai sektor, tak terkecuali dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi. Terlebih terbitnya kebijakan pemerintah yang diteruskan di lingkungan perguruan tinggi menginstruksikan setiap lembaga pendidikan memberlakukan pembelajaran secara online.

“Menyikapi pandemi Covid-19, Rektor Unnes memberlakukan sistem perkuliahan berbasis online (remote learning). Mahasiswa dipersilahkan belajar dari rumah mengikuti arahan dosen. Dalam hal ini, universitas memfasilitasi pembelajaran melalui aplikasi dinamakan Elena,” terangnya saat menjadi narasumber acara [email protected]: A sharing session on Library Services During Covid-19 Outbreak.

Pria yang sering disapa Eko ini menuturkan, kebijakan rektor agar belajar dari rumah sangat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan mahasiswa ke perpustakaan yang dipimpinnya. Perpustakaan Unnes menjadi sepi pengunjung, aktivitas pun seakan terhenti nyaris tanpa kegiatan. Kondisi seperti itu tentu saja pada awalnya mempengaruhi para pustakawan, pegawai, maupun mahasiswa sebagai pengguna perpustakaan.

“Meskipun demikian, perpustakaan harus tetap melayani penggunanya berbekal sarana dan fasilitas yang ada dan bisa dimanfaatkan, menyesuaikan sistem pembelajaran,” ujar alumni Ilmu Perpustakaan Fisipol UGM ini.

Ia memaparkan, Perpustakaan Unnes memiliki tiga layanan utama dan 10 layanan cabang tersebar di berbagai fakultas. Sedangkan jumlah seluruh personil atau staf sebanyak 21 orang. Sementara koleksi perpustakaannya meliputi 57.598 buku cetak, 30.076 thesis dan disertasi, serta melanggan 2416 jurnal elektronik (e-jurnal).

“Sebelum pandemi terjadi, mahasiswa Unnes mengalami satu euforia karena perpustakaan baru saja menempati gedung baru. Aktivitas terasa menggairahkan sehingga banyak mahasiswa ingin tahu lebih banyak sarana dan fasilitas yang tersedia di perpustakaan,” katanya.

Eko menjelaskan pula bahwa layanan Perpustakaan Unnes buka setiap hari Senin-Kamis pukul 08.00-16.00 WIB, kemudian Jumat pukul 08.00-14.30 WIB. Perpustakaan yang disebutnya sebagai “Rumah Ilmu Pengembang Peradaban” ini melayani total 33.729 mahasiswa Unnes dari semua fakultas.

“Kebijakan agar semua pegawai termasuk pustakawan bekerja dari rumah (work from home) menyebabkan layanan kami turun drastis. Hasil layanan perpustakaan dari Januari sampai Maret 2020 tercatat baru ada 5.864 sirkulasi peminjaman dan pengembalian buku,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala UPT Perpustakaan Institus Teknologi Bandung (ITB), Dr Eng Yuli Setyo Indartono. Menurutnya, berdasarkan keputusan Rektor ITB, sejak 18 Maret 2020 mahasiswa diminta tidak masuk lingkungan kampus. Perpustakaan pun mengikuti kebijakan rektor menutup layanannya, namun tetap memaksimalkan layanan yang bisa dimanfaatkan, misalnya digital library karya ilmiah. Layanan ini bisa diakses oleh mahasiswa serta masyarakat umum.

“Electronic resources lainnya seperti e-book dan e-journal bisa diakses secara remote online baik oleh mahasiswa maupun dosen terkait kegiatan belajar. Denda bagi pemustaka atas keterlambatan pengembalian buku ditiadakan,” jelas Yuli.

Yuli mengatakan, meski bekerja dari rumah namun pustakawan tetap melayani berbagai pertanyaan serta memberikan informasi pada pemustaka melalui email ataupun media sosial perpustakaan. Pihaknya pun siap, ketika layanan perpustakaan sudah diperbolehkan buka. Salah satunya melengkapi konter layanan sirkulasi dengan tabir plastik sebagai tindakan pengamanan terhadap kemungkinan terjadinya penularan virus.

“Yang unik dari perpustakaan ITB adalah memiliki layanan 3D printers dan 3D scanner. Kedua alat ini boleh digunakan gratis oleh mahasiswa guna mendukung penelitian mereka,” pungkas Yuli.

Selain Unnes dan ITB dari Indonesia, kegiatan diskusi ini juga diisi oleh Ketua Jabatan Perpustakaan Digital Tun Abdul Razak, Universiti Teknologi Mara (UiTM ), Shah Alam, Malaysia, Ts Haji Azizi Jantan. Pemaparannya menyangkut pandemi Covid-19 di lingkungan perguruan tinggi Malaysia tidaklah jauh berbeda kondisinya dengan Indonesia. Bertindak selaku moderator diskusi, Ketua Jabatan Perkhidmatan Perpustakaan Tun Abdul Razak, Universiti Teknologi Mara (UiTM ) Shah Alam, Malaysia, Encik Jamaluddin Haji Sulaiman. (Muf)

 


share on: