Musik dan Tari 'Sakanti Dwipantara #4' Angkat Budaya Etnik Nusantara

share on:
Salah satu sesi pertunjukan yang mengangkat budaya etnik Papua dipersembahkan oleh mahasiswa Arsitektur UAJY dalam gelaran bertajuk 'Sakanti Dwipantara #4' di Kampus Babarsari || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) – Sebuah pertunjukan musik dan tari Sakanti Dwipantara #4 digelar oleh sejumlah mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) di Auditorium Gedung Thomas Aquinas, Kampus II UAJY, akhir pekan lalu.

Acara ini merupakan puncak dari mata kuliah Apresiasi Estetika dan Sejarah Arsitektur 2, yang telah menjadi tradisi sejak tahun 2016. Sebanyak 4 pertunjukan ditampilkan dalam edisi kali ini, diantaranya Tari Mangastuti, Topeng Klana Gunungsari, Orchestra Semar, dan pertunjukan puncak dengan tarian nusantara.

BACA JUGA: HUT Bhayangkara 2025, Kapolda DIY: Tingkatkan Kualitas Pelayanan Masyarakat

Hadir dalam perhelatan tersebut antara lain oleh Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dr Drs RM Pramutomo Mhum, dan Ir Eko Suryo Maharsono, mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Arsitektur UAJY Dr Augustinus Madyana Putra ST MSc menyampaikan apresiasi terhadap semangat para mahasiswa.

BACA JUGA: PDI Perjuangan Bantul Usung 'Ande-ande Lumut' di Pringgading

“Yang paling kami terenyuh adalah ketika banyak dari teman-teman mahasiswa mengatakan bahwa kegiatan ini benar-benar membuat satu angkatan menjadi sangat solid. Kami percaya bahwa kekompakan ini sangat dibutuhkan untuk berkarya di masa depan,” ungkapnya melalui rilis yang diterima yogyapos.com, Selasa (1/7/2025).

Pertunjukan ini dibimbing oleh Hani Britha Oktarini, lulusan Universitas Negeri Yogyakarta, sebagai mentor tari. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap performa para mahasiswa. 

BACA JUGA: Dari Disleksia ke Konser: Cerita Hebat Kenneth Trevi Launching 'Tak Runtuh'

“Luar biasa ya, karena teman-teman ini bukan penari, garis bawahi, bukan penari. Namun, melihat perkembangan dari Sakanti #1 hingga #4, mereka mampu tampil seperti penari profesional. Bahkan, bisa disandingkan dengan para penari profesional,” ujar Hani.

Para mahasiswa berlatih intensif selama dua setengah minggu tanpa jeda. Mengenai tantangan yang dihadapi, Hani menyampaikan bahwa proses tidak terlalu sulit karena etos kerja mahasiswa sangat tinggi.

BACA JUGA: Afiza Ghania, Penyanyi Cilik Berbakat Perlu Dukungan Warga dan Pemkot Palu

“Saya terbantu oleh semangat mereka sendiri. Mereka bertanggung jawab terhadap karya ini, dan semangat belajar mereka luar biasa. Saya bangga banget kali ini mereka menjadi penari yang spektakuler,” tambah Hani.

Sementara itu, Dr Pramutomo menilai pertunjukan ini sebagai bentuk pelestarian budaya. “Menurut saya ini bagus, ya. Semua tampilan mereka adalah pertunjukan tari yang merepresentasikan budaya tari etnik Indonesia. Saya kira kita perlu kembali mengangkat budaya tari etnik sebagai media penyimpan perilaku dan nilai-nilai luhur. Jika ini terus dihidupkan, maka akan berdampak pada penguatan karakter dan budi pekerti bangsa,” ujarnya.

BACA JUGA: Aurora Band SMA Pangudi Luhur Sabet Juara 1 Festapora 2025

Ia juga berharap agar mahasiswa tidak hanya mengapresiasi tari, namun juga berbagai bentuk seni lainnya. “Bagaimanapun juga, seluruh seni di Nusantara membawa dampak pada perilaku budaya. Melalui pertunjukan ini, kita bisa mengajak masyarakat untuk kembali menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam seni,” tutup Pramutomo. (*/Red)


share on: