Yogyapos.com (MUNTILAN) - Bersepeda (gowes) jadi trend masa kini. Selama pandemi Covid-19 menjelang terbit matahari hingga senja kerap terlihat gowes di jalan-jalan.
Meningkatnya animo masyarakat berseda berdampak juga pada usaha jual beli sepeda bekas sampai sekarang meskipun pandemi Covid-19 sudah tiada.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-gowes-jogjaversitas-gaya-jogjawi-pts-selesaikan-persoalan-7607
Muh Faturahman (34), pengusaha juall-beli dan service sepeda, mengaku banyak melayani konsumen. Tiada henti-hentinya konsumen membeli sepeda bekas miliknya. “Kalau ditanya dari mana saja konsumen datang, saya tidak hafal tapi ada dari luar kota. Pernah juga ‘orang terkenal’ sebagai konsumen dan saya sendiri tidak tahu kalau itu seorang terkenal yang datang justru diberi tahu oleh temannya,” ungkap lelaki yang akrab disapa Pak Muh, saat ditemui ditempat di basecampnya di pinggir jalan Desa Blongkeng Ngluwar Magelang, Minggu (14/1/2023).
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-ratusan-pesepeda-semarakkan-gowes-5-candi-hotel-grand-ambarrukmo-7536
Ia mengaku sudah 20 tahun menggeluti usaha jual sepeda bekas ini, merasakan peningkatan ramainya pembeli saat hari libur sekolah, kenaikan kelas, hari raya agama, dan saat Covid-19.
Faturahman, ulet dan telaten || YP-Agung Dwi Purwanto
Pak Muh tidak berani berspekulasi, apakah orang membeli sepeda untuk olahraga atau sekadar mengikuti tren semata. Selain itu juga tidak dapat memastikan berhasil menjual berapa unit sepeda dalam sehari atau seminggu atau sebulan.
“Saya tidak berani mengatakan angka yang pasti sehari atau sebulan dapat berapa karena tidak nentu,” jelasnya pada yogyapos.com disela melayani konsumen.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-danrem-072pamungkas-ke-goa-selarong-tiada-gowes-tanpa-baksos-6135
Diakuinya, sepeda bekas disetor dari temannya serta tukar tambah. Harga sepeda bekas yang dijual harganya bervariasi tergantung jenis sepeda, kondisi dan kualitas. Karena kelir bagus belum tentu bagus barangnya dan sebaliknya jelek kelirnya belum tentu jekek barangya.
Santai bercengkerama dengan konsumen || YP-Agung Dwi Purwanto
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-komunitas-mcc-gowes-bareng-rayakan-hut-ke11-2878
Begitu juga harga ada yang Rp 500 ribu, Rp 200 ribu, Rp 100 ribu bahkan yang Rp 850 ribu semua itu tergantung jenis sepedanya.
“Saya kalau ada orang jual tahu orangnya untuk mengantisipasi, karena saya tidak ingin barang murah namun bersih tidak ada masalah dikemudian hari,” ungkapnya, seraya menambahkan selama ini tidak mau menerima pesanan karena orang tidak sama ada yang konsekwen dan tidak konsekwen dalam perjanjiannya. (Agung Dwi Purwanto)
