Jutaan Pil Psikotropika Disita dari Gudang di Ngerstiharjo, Tiga Tersangka Ditangkap

share on:
Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto dan jajarannya saat memberikan keterangan pers dengan menunjukkan barang bukti berikut tersangka, di Gudang Ngestiharjo, Bantul, DIY, Senin (27/9/2021) || YP-Ist

Yogyapos.com (BANTUL) - Badan Rerese Kriminal (Bareskrim) Polri berhasil mengungkap peredaran gelap obat-obat keras berbahaya dan psikotopika jaringan nasional. Pengungkapan terbesar ini sekaligus menangkap 3 tersangka di wilayah DIY dan 8 tersangka dari luar DIY, serta menyita jutaan ‘pil haram’ dari sebuah gudang di wilayah Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, DIY.

Kasus ini terkuak saat digelar kegiatan Kepolisian yang ditingkatkan dengan sandi Anti Pil Koplo 2021 dengan target produsen dan pengedar gelap obat keras dan  berbahaya yang dilakukan sejak 13 September - 15 September 2021.

“Di wilayah DIY ini kami tangkap 3 tersangka JSR Alias J (56) tinggal di Gamping, Sleman, LSK Alias DA (49) Kasihan, Bantul, dan WZ (53) asal Karanganyar, Jateng dengn barang bukti 5 juta butir pil. Sedangkan 8 tersangka lainnya ditangkap di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi dan Jakarta Timur,” ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono, Senin (27/9/2021).

Seluruh barang bukti kasus ini berupa 1 unit truk colt diesel AB 8608 IS, 30.345.000 butir obat keras yang sudah dikemas menjadi 1.200 colli paket dus, 7 buah Mesin cetak pil Hexymer, DMP dan double L, 5 (buah mesin oven obat, 2 buah mesin pewarna obat, 1 buah mesin cording/printing untuk pencetak, Bahan prekusor antara lain berupa Polivinill Pirolidon (PVP) 25 KG, Microcrystalline Cellulose (MCC) 150 KG, Sodium Starch Glycolate (SSG) 450 KG, Polyoxyethylene Glycol 6000 (PEG) 15 KG, Dextromethorphan  200 KG, Trihexyphenidyl 275 KG, Talc 45 KG, Lactose 6.250 KG, 100 Kg Adonan Prekusor pembuatan obat keras, 500 kardus warna coklat, dan 10. 500 botol kosong tempat penyimpanan obat keras.

Kronologi pengungkapan, Tim Ditipidnarkoba Bareskrim Polri berkerjasama dengan Polda DIY pada 21 September 2021, sekitar pukul 23.00 WIB berhasil mengamankan tersangka inisial WZ dan saksi A di TKP pada sebuah gudang tersebut, kemudian dilanjutkan penggeledahan tempat yang diduga sebagai Mega Cland Lab.

“Ternyata mendapatkan kebenaran bahwa obat-obat tersebut diproduksi di tempat ini, diketahui telah beroperasi sejak 2018, dan mampu menghasilkan lebih kurang sebanyak 2 juta butir obat dalam satu hari,” katanya.

Kabareskrim Polri, Komjen Pol Agus Andrianto mengatakan, peredaran obat ilegal ini telah beredar di seluruh Indonesia. Sehingga pihaknya akan berupaya mengungkap jaringan yang lebih luas lagi sebagai upaya menekan peredaranya.

“Peran serta masyarakat sangat perlu untuk mengungkap lebih luas lagi,” katanya.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, Brigjen Pol Krisno Siregar memaparkan, berawal penyitaan sebanyak 5 juta pil obat berbahaya, setelah dilakukan analisa didapatkan pegunjuk bahwa pengiriman barang ilegal tersebut berasal dari wilayah Yogyakarta.

“Kemudian kami mengajak teman-teman dari Polda DIY. Kami menemukan tempat ini, yang pertama ditemukan adalah saudara Ardi, setelah ditanya atasanya bernama Daud, lalu Daud mengatakan bahwa ini semua merupakan tanggung jawab Joko. Lalu ditemukan dua tempat di Jalan Ring Road Sleman dan di Negstiharjo sini dengan jenis mesin-mesin yang sama, juga jenis-jenis bahannya,” katanya.

Dari pengakuan Joko, kata dia, didapatkan nama dengan inisial EY kini dalam status DPO yang berperan sebagai pengendali. Tidak ada keterlibatan orang asing, namun bahan-bahan kimia berasal dari luar negeri, khususnya dari negara Cina.

“Berdasarkan perintah EY barang-barang sudah dikirim ke sejumlah kota di Indonesia, di Jakarta Timur Bekasi, Ciebon dan sekitarnya, serta sejumlah kota di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur,” terangnya.

Menurut pengakuan tersangka, dari sejumlah 7 mesin, jika bekerja dalam 24 jam mampu menghasilkan sebanyak 2 juta butir pil per hari dengan biaya produksi mencapai Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar.

Joko menjelaskan semua berdasarkan pesanan, namun dia tetap melakukan stok. Barang merupakan obat keras yang seharusnya harus dengan resep dokter.

“Semuanya ilegal serta tersangka tidak punya keahlian tentang farmasi dan dampaknya sangat berbahaya, kami akan terus mengembangkanya,” ungkapnya.

Tersangka dijerat dengan pasal berlapis,  60 UU RI Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja perubahan atas pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Subsider Pasal 196 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Lebih subsider Pasal 198 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Selain itu diterapkan pula Pasal 60 UU RI No.5 th 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta.

Sementara, Kepala Kepala BBPOM DIY, Dewi Prawitasari Apt MKES menambahkan produksi dari industri ilegal ini jumlahnya sangat besar, dapat dilihat dari bahan baku, mesin- mesin yang dimanfaatkan untuk produksi termasuk tempat produksinya besar.

“Produksinya luar biasa, dari hasil temuan untuk Hexymer, ini produk yang dilarang diproduksi dan izin edarnya sudah tidak diperpanjang lagi, yakni kemasan botol yang berisi 250, 500 dan 1000,” katanya. (Met/Opo)

 

 


share on: