Hari Bebas Berkendara: More Than Just A Day, Its A Wake Up Call For Yogya's Soul

share on:
Puji Qomariyah, Dosen Sosiologi Lingkungan dan Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pendidikan-IP UNY || YP-Ist

SELAMAT datang di Yogya, surga pendidikan yang (terancam) tenggelam dalam asap kendaraanmu. Bayangkan sepeda onthel yang lambat laun tergantikan deru mesin. Bayangkan angkringan yang tak lagi harum oleh aroma kopi dan sate, tetapi oleh bau bensin dan gas buang. Bayangkan kampus-kampus yang menjadi oase pengetahuan, dikepung oleh lautan logam beroda dua. Inilah potret paradoks Daerah Istimewa Yogyakarta hari ini, sebuah kota yang menjual mimpi pendidikan, namun secara perlahan mengorbankan kualitas napasnya sendiri.

BACA JUGA: Komdigi Komit Dukung Insan Pers Hadapi Gempuran Teknologi AI

Saat ini jumlah pelajar dan mahasiswa 640.658 (Disdikpora, 2025) dan setiap tahun lebih dari 40.000 mahasiswa baru datang dengan harapan, tetapi seringkali mereka tiba dengan dan kemudian menambah sebuah masalah, yaitu kendaraan bermotor pribadi.

Tanggal 22 September 2025 kita memperingati Hari Bebas Kendaraan Bermotor. Sebuah momen simbolis yang seharusnya bukan sekadar seremoni, melainkan cermin untuk bercermin sejauh mana kita sebagai masyarakat urban, khususnya di Kota Yogyakarta, telah membiarkan kendaraan bermotor menguasai ruang hidup, udara, dan bahkan budaya kita.

BACA JUGA: KH Ashim Nawawi Pengasuh Ponpes An Nur Ngrukem Berpulang ke Rahmatullah

Dari kacamata sosiologi lingkungan, fenomena di Yogyakarta adalah studi kasus yang sempurna tentang bagaimana struktur sosial, ekonomi, dan budaya menciptakan tekanan ekologis yang masif. Sebagai kota pelajar dengan 100 perguruan tinggi, Yogyakara setiap tahunnya menyedot sekitar 40.000 lebih mahasiswa baru. Mereka adalah mesin ekonomi yang disambut dengan hangat oleh dealer kendaraan bermotor, yang catatannya menjual rata-rata 10.000 unit motor setiap bulannya. Penjualan sepeda motor nasional anjlok, justru di DIY mengalami kenaikan.

Kemudahan kredit menjadi enabler utama. Dalam perspektif sosiologis, kepemilikan motor bukan lagi sekadar alat mobilitas, melainkan simbol status dan tanda integrasi ke dalam kehidupan urban Yogya. Sebuah rite of passage bagi mahasiswa baru untuk merasa menjadi orang Yogya. Di sini, motor telah berubah dari benda fungsional menjadi sebuah konsumsi simbolik.

Namun, dampaknya terhadap lingkungan nyata dan mengkhawatirkan. Data Dinas Lingkungan Hidup DIY mencatat kualitas udara, khususnya di titik-titik padat seperti  Malioboro, Jalan Gejayan, Jalan Solo, atau kawasan UGM, berada di ambang batas sehat bahkan tidak sehat. Parameter pencemar seperti PM2.5 dan PM10, yang sebagian besar bersumber dari emisi kendaraan, telah menjadi ancaman silent killer yang kita hirup setiap hari.

BACA JUGA: MBG di Ujung Krisis: Dari Janji Gizi hingga Korban Keracunan

Dimana permasalahan sosiologisnya? Terbentuknya budaya bahwa ke mana-mana harus naik motor sendiri, jarak yang sebenarnya bisa ditempuh dengan sepeda atau jalan kaki, akhirnya ditempuh dengan motor. Nilai-nilai kebersamaan dan interaksi sosial dalam angkutan umum terkikis oleh nilai individualistik dan instan.

Setiap tahun lebih dari 40.000 datang, tetapi berapa yang pulang? Banyak lulusan yang memilih menetap, menambah populasi tetap, dan tentu saja, menambah kepemilikan kendaraan. Daya dukung dan daya tampung kota ini jelas-jelas sudah overloaded. Kemudahan kredit untuk mahasiswa tanpa pertimbangan lingkungan adalah bentuk kegagalan sistemik. Industri dan ekonomi didahulukan, sementara daya dukung lingkungan diabaikan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Hari Bebas Kendaraan Bermotor harus menjadi momentum kolektif untuk berubah. Bukan hanya bagi pemerintah untuk menyediakan transportasi umum yang lebih layak, terintegrasi, dan nyaman (seperti TransJogja dan pengembangan transportasi mikro), tetapi juga bagi kita, terutama kalangan mahasiswa.

BACA JUGA: Pengukuhan Pengurus PWI Pusat di Monumen Pers, Dihadiri Meutya Hafid

Mari kita ubah paradigma. Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau jalan kaki bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan simbol kecerdasan, kesadaran, dan modernitas. Mereka yang peduli lingkungan adalah mereka yang benar-benar cool dan terpelajar.

Komunitas kampus, baik Badan Eksekutif Mahasiswa maupun unit kegiatan, harus menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan gaya hidup mobilisasi yang berkelanjutan. Gunakan hari tanpa kendaraan bukan hanya sekali setahun, tetapi jadikan agenda rutin kampus.

Suara 40.000 mahasiswa sangatlah lantang. Gunakan untuk mendesak pembenahan transportasi massal yang benar-benar bisa diandalkan.

Hari Bebas Kendaraan Bermotor mengingatkan kita bahwa kota ini adalah warisan bersama. Warisan yang kita pinjam dari generasi sebelumnya dan akan kita teruskan kepada generasi berikutnya. Jangan sampai kita mengembalikannya dalam kondisi yang lebih parah, sesak oleh kendaraan dan miskin akan oksigen bersih.

BACA JUGA: Lurah Ariwibowo Tinggalkan Nama dan Kenangan Baik

Mari jadikan Yogya kembali sebagai kota yang manusiawi, di mana obrolan di angkringan dan trotoar kampus tidak harus bersaing dengan deru dan asap kendaraan. Pilihan ada di tangan kita, di stang motor kita, dan di kartu uang kuliah yang kita bayarkan untuk masa depan yang lebih cerah secara harfiah maupun kiasan. (Penulis: Puji Qomariyah adalah Dosen Sosiologi Lingkungan dan Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pendidikan-IP UNY)


share on: