Yogyapos.com (YOGYA) - Di tengah tantangan ketahanan pangan global, membangun kesadaran tentang politik pangan harus dimulai sejak dini. Demikian penegasan Puji Qomariyah, sosiolog yang fokus pada budaya politik pangan, menanggapi kegiatan urban farming yang diikuti 105 murid kelas 3 SD Tarakanita Bumijo bekerja sama dengan Politeknik LPP Yogyakarta.
BACA JUGA: MLSC Yogya Seri 1 2025, MI Babrurroyyan dan SD Muhammadiyah Karangploso Juara
"Kegiatan ini adalah langkah strategis dalam membentuk budaya politik pangan baru. Dengan mengenalkan anak-anak pada tanaman pangan lokal dan komoditas perkebunan unggulan, kita sedang menanamkan pemahaman bahwa pangan bukan sekadar komoditas, tetapi soal kedaulatan, identitas dan keberlanjutan suatu bangsa. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang kritis terhadap sistem pangan nasional," jelas Qomariyah tentang kegiatan yang telah berlangsung pekan lalu.
Pernyataan tersebut menemukan bentuk nyatanya ketika para siswa dengan antusias menyiapkan media tanam dan menanam benih cabai, terong, jagung dan singkong di sekitar sekolah. Kegiatan yang terintegrasi dengan pembelajaran tematik ini tidak hanya mengajarkan teknik bercocok tanam dasar, tetapi juga memperkenalkan komoditas perkebunan unggulan Indonesia, yaitu tebu, kopi, teh, kakao, tembakau, karet, dan kelapa sawit dan peran strategisnya dalam perekonomian nasional.
BACA JUGA: Duta Genre Sleman Diharap Jadi Role Model dan Agen Perubahan
Menurut Robertus Berlaminus Singgih Santosa, guru Bahasa Jawa SD Tarakanita Bumijo, pendekatan belajar langsung ini memiliki dampak mendalam. "Selain mendukung capaian pembelajaran bahasa Jawa tentang tanduran (tanaman), kegiatan ini menjadi aksi nyata budaya untuk merawat dan mencintai tanaman. Anak-anak belajar bahwa menanam bukan sekadar tugas, tetapi wujud cinta terhadap alam dan pelestarian warisan budaya lokal," ujarnya.
Komitmen dalam membangun generasi yang melek pangan juga ditegaskan oleh Politeknik LPP Yogyakarta. Bahrul Ulum, S.P., M.Sc., Ketua Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
BACA JUGA: Era Digital dan Tuntutan Pola Pikir Multitasking
"Kami berkomitmen mengedukasi generasi muda tentang pentingnya sektor pertanian dan perkebunan. Melalui pendekatan urban farming, kami menunjukkan bahwa bertani bisa dilakukan dimana saja, bahkan di tengah kota, dan menjadi gaya hidup yang produktif serta ramah lingkungan. Ini adalah cara kami menumbuhkan semangat cinta pertanian sejak dini," papar Bahrul.
Tanjung Purnamasari, Kepala Satuan Pendidikan SD Tarakanita Bumijo 1 Yogyakarta, menambahkan bahwa kegiatan menanam telah menjadi bagian dari pembiasaan karakter baik di sekolahnya. "Ini sejalan dengan semangat kami dalam membentuk siswa yang tidak hanya cerdas akademis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan pangan kita," ungkapnya.
BACA JUGA: Sinarbiyat Nujanat: MBG Punya Multi Efek Kuat bagi Perekonomian
Dr Anna Kusumawati, Ketua UP2M Politeknik LPP Yogyakarta, berharap kolaborasi ni dapat diperluas. "Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Melalui pendidikan lingkungan dan pertanian sejak dini, kami ingin menumbuhkan generasi muda yang peduli lingkungan, memahami nilai ketahanan pangan dan mencintai pertanian sebagai bagian dari kehidupan berkelanjutan," tutupnya.
Kegiatan yang ditutup dengan penyerahan bibit tanaman secara simbolis ini diharapkan dapat menjadi pionir dalam membangun kesadaran kritis generasi muda terhadap masa depan pangan Indonesia. (*/Red)
