DIY Ranking I Pengguna E-Commerce di Indonesia

share on:
Sekda DIY, Kadarmanto Baskoro Aji || YP-Sulistyawan

Yogyapos.com (SLEMAN) - Masa pandemic mau tak mau mendorong masyarakat untuk mengakrabi budaya digital. Meskipun, informasi digital ibarat pisau bermata dua yang punya sisi baik sekaligus sisi buruk yang berdampingan.

Menurut Sekda DIY Kadarmanto Baskoro Aji, salah satu dampai positif dari budaya digitak adalah  maraknya e-commerce dimana setiap orang bisa bertransaksi tanpa harus bertatap muka. Segala kebutuhan dapat diperoleh secara mudah tanpa perlu harus meninggalkan rumah .

“Tanpa harus pergi kita bisa mendapatkan yang kita perlukan. Kita bahkan punya pilihan yang lebih banyak dari sekadar datang di mall, karena kita bisa mengunjungi banyak mall yang tidak berwujud sama sekali, tapi kita bisa dapatkan (barangnya) dengan baik,“ ujar Baskoro dalam  acara Kuliah Umum dan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru UNY, di Auditorium UNY Kampus Karang Malang Rabu (9/9/2020). 

Lebih lanjut, Baskoro mengungkapkan selama masa pandemic layanan digital ternyata mempunya peranan penting dalam masyarakat. Berdasarkan survey di beberapa daerah, layanan digitakl yang banyak digunakan adalah bidang Transportasi dan Pendidikan.

Sedangkan untuk jenis usaha perdagangan (e-comerce), Propinsi DIY menduduki ranking pertama dalam jumlah usaha dibandingkan dengan 10 Propinsi lainnya. Ini membuktikan begitu banyak serta peningkatan yang cukup tinggi pemahaman literasi digital. Sebab, para pengusaha mulai menggunakan layanan digital untuk mengembangkan usahanya. 

Salah satu alasan yang bisa difahami, karena menggunakan layanan digital itu lebih hemat dan efektif, karena pengusaha tak perlu buka cabang atau kantor baru di daerah tetapi dapat dilayani langsung dari satu tempat saja. Dari sisi inventasi hal tersebut dirasa lebih murah, karena pengusaha tidak memerlukan investasi dalam bentuk bangunan, tanah  dan lain-lain. Meskipun efektif namun belum banyak pengusaha yang memakai layanan digitak tersebut. Sebab, dari data yang diperolehnya baru 15 persen pengusaha di Indonesia yang memakai layanan digital untuk membantu perkembangan usahanya. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang, terutama bagi kaum mahasiswa pada saat nanti lulus dan memasuki dunia kerja. 

Selain punya dampak positif, baskoro mengingatkan bahwa informasi digital juga punya dampak negative. Salah satunya adalah maraknya kasus pembajakan dan hacking. Oleh karena, itu yang terpentinhg dari pembelajaran adalah pembentukan karakter diri bagi setiap generasi millennial. Hal itu tifak mudah karena dalam upaya membentuk karakter ini generasi millennial akan menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah gap informasi antara generasi millennial dengan generasi sebelumnya. Untuk itu perlu adanya toleransi antar generasi sehingga masing-masing dapat saling memahami.  (*/Sulistyawan)

 

 

 

 


share on: