Disepakati, Desain Sinkronisasi Konektivitas Tol ke Bandara YIA

share on:
Suasana lengang Bandara YIA selama masa pandemi || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (KULONPROGO) - Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo (YIA) akan semakin mudah diakses melalui jalur darat dengan rencana hadirnya akses tol yang terkoneksi langsung dengan YIA. YIA memiliki luas terminal sebesar 219.000 meter persegi dan total luas area bandara mencapai 587 hektar.

“Angkasa Pura I senantiasa berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan di bandaranya, salah satunya dengan penyediaan fasilitas dan peningkatan aksesibilitas menuju bandara,” terang Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero), Faik Fahmi, Rabu (28/7/2021).

Saat ini, telah disepakati sinkronisasi desain konektivitas jalan tol yang akan terhubung dengan YIA, yaitu Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo dengan Jalan Akses Tol menuju YIA dan Jalan Akses Tol menuju Akses YIA-Borobudur atau Kawasan Bedah Menoreh, oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Sekretariat Daerah Istimewa Yogyakarta, PT Angkasa Pura I (Persero), Badan Pengatur Jalan Tol, dan PT Jogjasolo Marga Makmur. 

Kesepakatan soal sinkronisasi desain konektivitas tol yang akan terhubung dengan YIA tersebut mencakup rencana desain akses simpang susun YIA pada Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA dengan desain persimpangan tidak sebidang dari dan menuju YIA yang difasilitasi dengan lajur tersendiri dan menuju exit jalan akses YIA-Borobudur, perincian penanganan simpang akses jalan tol, dan hal-hal lainnya.

“Dengan telah disepakatinya sinkronisasi desain konektivitas jalan tol yang terhubung langsung dengan Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA ini, maka para pemangku kepentingan dapat melakukan proses selanjutnya terkait pembangunan tol dan aksesibilitasnya sehingga akses tol dari dan menuju YIA ini dapat segera terwujud. Akses tol ini akan semakin memudahkan masyarakat untuk menjangkau YIA,” ujarnya.

Menurut dia, YIA telah dilengkapi sistem terpadu peringatan dini potensi gempa dan  tsunami, serta cuaca ekstrem. Sistem terpadu deteksi dini gempa dan tsunami ini menjadikan YIA sebagai bandara pertama yang memiliki mitigasi gempa dan tsunami.

“Sistem terpadu peringatan dini ini sekaligus melengkapi sistem evakuasi dan manajemen bencana yang telah kami rancang sejak tahap perencanaan. Desain dan struktur seluruh bangunan di area YIA telah siap untuk dijadikan tempat evakuasi sementara (TES) ketika terjadi gempa & tsunami,” ungkap dia.

Sejak tahap perencanaan, YIA memang telah memperhitungkan potensi risiko gempa dan tsunami sehingga YIA didesain untuk dapat memitigasi gempa hingga 8,8 magnitudo dan tinggi gelombang tsunami hingga 8-12, 8 meter dari mean sea level.

“Sistem peringatan atau deteksi dini gempa dan tsunami di YIA dibangun berdasarkan perhitungan dan analisis matematis-fisik terhadap posisi dan kekuatan gempa bumi yang termonitor dari Kantor Pusat BMKG Kemayoran, Jakarta. Sistem terpadu deteksi dini gempa dan tsunami ini terdiri dari sistem monitoring atau observasi, sistem processing, sistem diseminasi dan respons,” imbuh dia.

YIA dirancang dengan arsitektur bergaya modern, namun secara eksterior dan interior tetap menggambarkan budaya Yogyakarta, baik itu melalui instalasi karya seni/Artwork yang melibatkan berbagai seniman lokal Yogyakarta, serta beragam area yang telah didesain secara khusus untuk menjadi etalase Yogyakarta, Kulon Progo dan sekitarnya.

“Kami juga telah menyiapkan area tenant untuk UMKM seluas 1.500 meter persegi di dalam terminal, yang dapat menampung 500 UMKM dan area seluas 880 meter persegi di Gedung Penghubung yang dapat mengakomodir 170 UMKM. Ini merupakan komitmen kami untuk terus membangkitkan produk UMKM agar mampu bersaing dengan produk-produk internasional khususnya di YIA,” pungkasnya. (Eko Purwono)

 


share on: