Diproduksi di Dusun Besole, Briket Kulit Koro Berkualitas dan Harga Relatif Murah

share on:
Tempat produksi briket milik kelompok warga di Dusun Besole || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) – Beberapa tahun terakhir ini kreativitas masyarakat memanfaatkan sampah menjadi barang berharga kian meningkat. Bukan saja ‘menyulapnya’ menjadi kerajinan tau hisasan, tetapi juga memanfaatkannya sebagai bahan baku briket.

Pemanfaatan sampah menjadi briket ini juga dilakukan oleh sejumlah warga di Dusun Besole, Kalurahan Pancosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. Kelompok kerja masyarakat di dusun ini sejak sekitar dua bulan lalu memproduksi briket yang terbuat dari daun maupun kulit kacang koro, sampah daunanan lainnya, serta tempurung kelapa dan sampah rumah tangga.

BACA JUGA: Didakwa Terima Gratifikasi Senilai Rp 4,731 M, Krido Suprayitno Tak Ajukan Eksepsi

“Kami yang jumlahnya sekitar 20 orang mulai memproduksi briket sejak dua bulan silam melalui Bang Sampah Amanah yang mulai berdiri pada empat bulan terahir,” kata Dukuh Besole Daryanto (53) bersama Ketua Kelompok Bang Sampah Amanah  Murjito di sela memproduksi briket, di dekat rumahnya, Rabu (7/11/2023).

Dukuh Besole, Daryanto || YP-Supardi

Ide memproduksi briket ini bermula ketika Badan Usaha Milik Kalurahan atau BUMKal Poncosari menyelenggarakan gerakan mengumpulkan sampah dedaunan dan sampah rumah tangga. Namun karena banyak kendala, salah satunya harus membutuhkan biaya, maka gerakan pengumpulan sampah kurang lancar.

BACA JUGA: Gagal Minta Sumbangan, Oknum Jukir Malah Nantang Warga Gunakan Tombak

Ide membuat briket ini lantas mengemuka dan mendapat penyalurannya karena secara kebetulan pihak PT Pertamina juga melakukan pembinaan hal itu di Besole. Pihak pertamina memberikan semacam pelatihan bahkan membantu seperangkat peralatan open maupun tungku yang harganya mencapai Rp 50 juta untuk produksi briket.

“Sejak itu kami bergerek dan hingga kini masih berproduksi meski jumlahnya masih terbatas yaitu 15 kg per hari,” tutur Daryanto.

Pada saat yang sama PT Pertamina juga melakukan pembinaan pembuatan tempe kacang koro di Dusun Babakan Pancosari. 

BACA JUGA: KPK Periksa Basuki Tjahja Purnama sebagai Saksi Kasus Korupsi LNG

Aktivitas pembinaan itu kemudian dimanfaatkan. Daun dan kulit koro untuk pembuatan briket dari hasil pembinaan digunakan untuk memproduksi briket, sebagian lainnya digunakan untuk bahan bakar pengolahan tempe koro di Babakan. “Ini saling menguntungkan,” kata Murjito.

Bank sampah Amanah, Dusun Besole || YP-Supardi

Proses memproduksi briket dari sampah daun dan kulit koro, dedaunan lain, sampah rumah tangga maupun tempurung kelapa relatif mudah. Cukup diopen. Setelah kering digiling menjadi mirip bubuk. Kemudian bubuk itu dicampur kanji untuk pelekat dan dicetak bentuk briket persegi panjang. Selanjutnya briket diopen dengan suhu tertentu memggunakan alat pengopen untuk dijadikan briket siap pakai.

BACA JUGA: Ratusan Wanita Ikuti Pelatihan Wirausaha '1.000 Srikandi Bangkit dan Berkarya' di PSG

“Harga briket Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kg. Sebagian pemasarannya produk itu ke para pedagang bakso, sate dan pedagang bebakaran ikan yang ada di Srandakan Bantul dan Kulonprogo, namun belum sampai meluas ke yang lainnya,” sambungnya.

Kualitas briket ini lumayan baik, apinya lebih panas dibandingkan arang dan kayu. Aromanya alami, asapnya relatif lebih sedikit sehingga praktis dan hemat. (Spd)


share on: