Demo di Depan Mapolda DIY Sempat Jebol Pagar, Tiga Mahasiswa Telah Dilepas

share on:
Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan || YP-ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung di depan Mapolda DIY sempat ricuh dan diwarnai pengrusakan pagar sisi timur Mapolda. Petugas mengamankan tiga orang mahasiswa.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda DIY, Kombes Pol Ihsan mengatakan meski sempat ricuh, namun situasi secara umum dapat dikendalikan oleh aparat kepolisian dan kondisi wilayah DIY. 

"Petugas sempat mengamankan tiga mahasiswa. Setelah dilakukan koordinasi dengan pihak kampus, ketiganya telah kita serahkan kembali kepada pihak rektorat pada pukul 22.30 WIB," ujar Ihsan melalui keterangan tertulis, Rabu (25/2/2026) dini hari.

Pihaknya menandaskan, situasi secara umum dipastikan tetap aman dan kondusif. "Secara umum situasi dapat dikendalikan oleh petugas di lapangan," jelasnya.

Terkait jalannya aksi, pihaknya menyayangkan unjuk rasa yang awalnya untuk penyampaian aspirasi, akhirnya berakhir ricuh bahkan terjadi pengrusakan fasilitas.

“Kami menyayangkan aksi tersebut berakhir ricuh dan terjadi pengrusakan pada pagar sisi timur Mapolda," bebernya.

Polda DIY juga menyampaikan belasungkawa atas peristiwa yang terjadi di Tual, Maluku, yang menjadi pemicu aksi tersebut.

BACA JUGA: Humoriezt Dukung Kondisivitas DIY, Puluhan Perwakilan Ormas Deklarasi Ramadan Damai

“Kami dari Polda DIY turut berbelasungkawa yang mendalam untuk keluarga korban terkait peristiwa yang terjadi di Tual, Maluku. Semoga almarhum diterima amal ibadahnya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” tuturnya.

Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat DIY, termasuk unsur Jaga Warga, yang turut bersinergi bersama aparat dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Pendekatan pengamanan dilakukan dengan mengedepankan kearifan lokal dan kultur budaya Jawa. 

"Petugas, tetap bersikap sabar dan persuasif meskipun menghadapi massa yang sempat bertindak anarkis," sebutnya.

Terkait beredarnya informasi mengenai adanya tembakan gas air mata maupun tembakan peringatan, dirinya memastikan bahwa tidak benar.

“Kami tegaskan bahwa selama kegiatan pengamanan, petugas tidak dilengkapi senjata. Suara yang terdengar di lokasi berasal dari petasan yang dibawa oleh massa aksi,” tandasnya.

Diketahui, aksi demonstrasi ini dipicu oleh kematian seorang siswa berusia 14 oleh oknum Brimob di Maluku. Dalam aksi tersebut juga diserukan tentang reformasi Polri, terask pergantian pucuk pimpinannya. (*/Opo)


share on: