Debat Cawapres 2024, Muncul Perilaku yang Melampaui Filosofi Kepemimpinan Jawa

share on:
Tiga cawapres pasca debat || YP-Ist

MENCERMATI debat cawapres 2024, saya berdebar dan akhirnya mengelus dada. Terasa nelongso ketika calon pemimpin dalam proses kontestasi mulai menjatuhkan lawan dengan pembicaraan yang meremehkan (downword talk).

Saya sock mendengar cawapres tertentu melontarkan kata “kalau tidak tahu, prof bisa googling”, “bapak A, bapak B, gak paham”, “maaf pertanyaan sayasulit ya.”

BACA JUGA: Dr Mukhijab MA: Debat Capres 2024 Putaran Pertama, 'Incumbent' Tersengat Energi Perubahan

Debat cawapres 2024, Jumat (22/12/2023) pukul 19.00 WIB, membahas topik ekonomi, keuangan, investasi, pajak, perdagangan, pengelolaan APBN-APBD, infrastruktur dan perkotaan.

Tiga debater, Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming Raka, dan Mahfud MD, berusaha keras untuk memaparkan gagasan seputar isu-isu tersebut. Karena keterbatasan waktu, latar belakang keilmuan, tiga cawapres tersebut menyampaikan gagasan tentang isu-isu ekonomi secara parsial. Dalam sesi menjawab panelis-pernyataan-respon, bisa tidak gayung bersambut.

BACA JUGA: Catatan Debat Capres 2024: Ganjar Ragu, Prabowo Normatif, Anies Membawa Harapan

Tontonan debat di layar teve mulai hambar ketika cawapres tertentu mengekspresikan sikap paling pintar, paling tahu, paling benar, dan lawan debatnya bodoh.

Ekspresi dominasi dan subordinasi di antara cawapres tertentu mengeluarkan diksi-diksi pernyataan yang bertendensi meremehkan lawan debat keluar.

Dalam konteks komunikasi persuasive, setiap debater setara kedudukannya. Meskipun komunikator berpangkat akademik professor, jabatan akademik dan level pendidikan bukan elemen penentu lebih tinggi levelnya.

BACA JUGA: Soal Debat Capres, GJL Nilai Ganjar Tegas dan Humanis

Yang dinilai oleh audien, bagaimana strategi menyampaikan gagasan, metodeme respon lawan debat maupun panelis, dan substansi gagasannya.

Dari segi paparan gagasan, cawapres Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD mencoba normatif-kritis terhadap lawan debat, Gibran menampilkan ekspresi normative-agresif.

Pola interaksi, Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD cenderung inklusi atau memposisikan secara proporsional lawan debat, Gibran cenderung eksklusi atau cenderung memposisikan dirinya superior dari lawan debat.

BACA JUGA: Anies Baswedan: Dukungan Pak Jusuf Kalla Merupakan Kehormatan yang Besar

Ekspresi pola komunikasi agresif dan perilaku interaksi eksklusi digambarkan dalam bentukunjuk kekuatan (power play) di hadapan lawan debat. Ini, suatu cara mengkomunikasikan diri dengan manuver-manuver verbal yang menjatuhkan lawan debat.

Ketika lawan debatmenyampaikan data investor IKN, respon komunikator model ini, “Kalau anda belum tahu Prof, coba googling saja setelah acara debat.” Dalam kerangka akademik, profesor sebagai “orang serba tahu dan bijak”, berbeda dalam ranah debat ini, gambaran profesor sebagai orang bodoh.

Strategi downward talk lainnya, debater menyampaikan pertanyaan yang diperkiraan tidak diketahui oleh lawan debat, misalnya bagaimana pandangan lawan soal carbon storage, SGIE? Lawan debat tampak bingung karena tidak paham atau penanya salah salah mengucapkan.

Carbon storage alias emisi karbon, SGIE atau ekonomi syariah. SGIE yang benaradalah SGEI atau State Global of Economic Islamic.

Dalam situasinya demikian, cawapres yang merasa di atas angin, menggerakkan tangan kepada pendukungnya untuk bersorak, mencibir lawan yang dianggapnya bodoh, dan kalah.

BACA JUGA: Sampai Kini, Kejari Sleman Belum Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata

Dalam konteks filosofi Jawa, terdapat nilai-nilai dan etika kekuasaan,yang sangat mashurdan layak tata krama cawapres, yaitu ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake. Atau, berjuang tanpa massa, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan.

Melalui model interaksi eksklusi, dan komunikasi agresif, perdebatan cawapres 2024 meninggalkan bekas problem etik. Resonansi tentang pentingnya cawapres menampilkan jiwa kepemimpinan yang adiluhung, tenggelam dalam ekspresi yang emosional dan merasa paling hebat.

Situasi demikian mirip situasi yang tergambar dalam syair Semau-Maumu, karya Emha Ainun Najib (Cak Nun), pandailah sendiri dan bodohlah sendiri…/hebatlah sendiri dan konyollah sendiri. (Dr Mukhijab, Analis Politik dan Dosen UWM Yogyakarta)


share on: