Yogyapos.com (SLEMAN) - Perlu upaya serius dan kolaboratif untuk menghidupkan dan menempatkan budaya sebagai ruh kehidupan warga Sleman. Tak hanya soal adat tradisi, budaya harus juga dipahami secara luas menyangkut segala bidang kehidupan. Aspek spiritual, moralitas, sosial kemasyarakatan, adat tradisi dan nilai kejuangan harus menjadi pilar Sleman sebagai rumah bersama.
BACA JUGA: Partai Ummat Serap Aspirasi Akar Rumput, Resmi Dukung Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar
Demikian benang merah hearing Dinas Kebudayaan Sleman dengan jajaran Komunitas Kandang Kebo di basecamp Kandang Kebo, Jumat (20/10/2023) sore. Hearing bertema Pengembangan dan Implementasi Nilai Luhur di Masyarakat menampilkan narasumber Prof Dr KRT Suwarna Dwijonagoro MPd (Ketua Dewan Kebudayaan Sleman) dan Drs Untung Waluya (Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Sleman) dengan moderator Wahjudi Djaja SS MPd (STIE Pariwisata API Yogyakarta).
Dalam pengantarnya Dekhi Nugroho SE MEc Dev selaku Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan Sleman mengatakan hearing diadakan untuk menyerap informasi dari para pelaku budaya.
BACA JUGA: Bawa Gagasan Perubahan, Anies Baswedan-Muhamin Iskandar Resmi Mendaftar ke KPU
“Hearing Dinas Kebudayaan Sleman dan Dewan Kebudayaan Sleman bersama Komunitas Kandang Kebo ini antara lain untuk memberi masukan penyusunan bahan rekomendasi Dewan Kebudayaan Sleman tahun 2023 kepada Bupati,” jelasnya.
Budayawan senior Untung Waluyo dalam paparannya menjelaskan pentingnya kita membangun persepsi atau potret yang sama. “Yang terjadi selama ini adalah saling menyalahkan antara masyarakat dan pemerintah. Maka perlu dipikirkan cetak biru kebudayaan Sleman agar kebudayaan tak hanya dipahami sebagai tradisi dan kesenian,” tuturnya.
BACA JUGA: Bersama Relawan P-24, Anies Baswedan Tebar Benih Ikan Menabur Semangat Persatuan
Dalam upaya menjadikan Sleman sebagai rumah kita bersama, lanjutnya, perlu ada sinkronisasi antara agama dan kebudayaan. Masalah lain adalah rekayasa budaya seperti apa agar tujuan tercapai. Dari situ kita perlu memahami hubungan manusia dengan leluhur dalam bentuk tradisi.
Peserta hearing Disbud Sleman, DKS dan Komunitas Kandang Kebo || YP-Wahjudi Djaja
"Juga hubungan manusia dengan alam, sesama, dan makhluk lain. Inilah perlunya kita membumikan ajaran Hamemayu hayuning bawana," ungkapnya.
BACA JUGA: Pesan Perubahan dari Yogya: Anies Gemakan Keadilan dan Persatuan
Sedangkan Prof Suwarna mengingatkan kembali pentingnya setiap keluarga mengajarkan etika budaya Jawa. “Saya baru saja meluncurkan konsep NGAJENI. Ini sebuah akronim yang memuat ngapurancang, jempol, nuwun sewu atau nderek langkung, nyuwun pangapunten, matur nuwun, mangga, injih. Jika ini dibiasakan pada setiap keluarga, dampaknya akan luar biasa,” ujar Guru Besar UNY ini.
BACA JUGA: Bagas Mencabut Permohonan Praperadilan
Salah satu langkah yang bisa dikerjakan, imbuhnya, adalah restorasi budaya. “Kita perlu mengangkat budaya masa lalu sebagai inspirasi membangun kebudayaan ke depan. Itulah pentingnya kota melakukan restorasi kebudayaan karena lengkap dan hebatnya kebudayaan warisan leluhur kita,” tandasnya.
Dalam sesi dialog, banyak masukan dari peserta diskusi. Endratmo (Komunitas Kekandangan Banyuraden Gamping), menyampaikan perlunya merevitalisasi vegetasi dan belik atau sendang di Sleman dengan menghidupkan kegiatan budaya (upacara khusus).
BACA JUGA: Divonis Penjara 8 Tahun dan Bayar Uang Pengganti Rp 16 Miliar, Robinson Nyatakan Banding
Sedang pakar gastronomi Dr Minta Harsana MSc menyampaikan pentingnya ruh budaya desa dihidupkan kembali agar pembangunan kebudayaan lebih mengakar. Kuliner tradisional Sleman yang masuk kategori warisan budaya tak benda belum ada.
“Padahal, pondoh sudah ada dalam Serat Centini. Kita membanggakan peyek belut Godean tetapi banyak orang tidak memahami relief belut yang ada pada Candi Prambanan. Belum lagi narasi sejarah yang ada pada toponim di Sleman yang bisa dijadikan karakter. Di sinilah pentingnya Pendamping Budaya agar memberi kontribusi dalam hal pencatatan sebagai narasi,” jelasnya. (Iud)
