BINCANG-BINCANG SASTRA EDISI 161 : Luncurkan Antologi Geguritan Truntum Gumelar

share on:
Sastrawan senior Iman Budhi Santosa akan ngudar 'Truntum Gumelar' secara menyeluruh di TBY | YP/Dok SPS

Yogyapos.com (YOGYA) - Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Komunitas Baladjawa dan Taman Budaya Yogyakarta menggelar acara BBS edisi ke 161 mengusung tajuk ‘Peluncuran Antologi Geguritan Truntum Gumelar’, di Ruang Seminar Taman Budaya (TBY), Senin (23/2/2019). Kegiatan ini menghadirkan nara sumber Iman Budhi Santosa dan Jefrianto yang akan dipandu oleh Fajar Laksana. Menampilkan pula Asti Pradnya Ratri (Yogyakarta), Ari Kaysha (Wonogiri), Dimas Indiana Senja (Bumiayu), Tatik Fitri Kuswanti (Temanggung), GM Sigit Nurcahyanto Adhi (Yogyakarta). Dimeriahkan pertunjukan ludruk geguritan oleh Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

“Buku yang diterbitkan oleh Komunitas Bala Jawa dan Komunitas Sastra Rupa bekerja sama dengan Penerbit Interlude ini menghimpun karya-karya mutakhir para penggurit di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” ujar Jefrianto, salah satu anggota Panitia Penerbitan Buku ‘Truntum Gumelar’ kepada yogyapos.com, Senin (18/2/2019).

Diungkapkan, buku ini terbit sebagai jawaban pandangan yang muncul selama ini, bahwa sastra Jawa adalah sastranya orang tua. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasa. Dalam kenyataannya memang demikian adanya bahwa yang dengan getol ngopeni sastra Jawa pada zaman kiwari ini lebih banyak adalah para generasi tua.

Jefri menambahkan, senyatanya generasi muda juga msih memiliki perhatian terhadap seni tradisi, budaya lokal, yang dalam hal ini mewujud berupa geguritan sebagai satu khazanah sastra Jawa. Truntum Gumelar merupakan bukti bahwa generasi muda juga tidak kalah semangat dalam belajar dan menumbuhkan rasa cintanya terhadap sastra Jawa. DI Facebook atau “Instagram sering kali karya sastra jawa berupa geguritan melintas, terkadang juga sering kita jumpai menyisip di koran atau majalah berbahasa Jawa,” tandsanya.

Semenara itu Sukandar selaku koordinator acara menyatakan, BBS menyambut baik dan nyengkuyung gagasan generasi muda sastra Jawa ini. Generasi muda sastra Jawa ini tentu saja mengobarkan gairah dalam jagad sastra Jawa bahwa masa depan sastra Jawa tidak sesunyi yang dikhawatirkan oleh generasi muda. Kita tahu bahwa sastra Jawa selama ini dipandang sebagai masa lalu yang boleh jadi dianggap kuno dan ketinggalan zaman, tapi rasa-rasanya hal itu menjadi keliru. Sebab, karya sastra Jawa jika dicermati memiliki cita rasa tersendiri yang agaknya tidak semua orang mampu mengerjakan dan memahaminya.

Sastra Jawa kuno hadir dengan ilmu pengetahuan dan wawasan-wawasan kejawaan yang penting nilainya bagi masyarakat Jawa. Pertanyaannya adalah, sejauh mana karya sastra Jawa modern hadir di tengah masyarakat dengan kebermanfaatan yang tidak hanya soal berbahasa Jawa namun juga berbudaya Jawa?”.

“Pertanyaan itu yang dijawab oleh Jefrianto dan kawan-kawan Komunitas Bala Jawa dan Komunitas Sastra Rupa. Generasi muda di berbagai wilayah yang tersebar tanpa satu paguyuban yang mempersatukan nyatanya bisa saling mempertemukan karyanya dalam sebuah buku. Wawasan dan pandangan generasi muda menghadapi situasi sosial-budaya yang terjadi menjadi warna tersendiri dalam geguritan-geguritan yang mereka anggit. Hal ini tentu saja penting dan perlu diperhatikan. Bukan saja menepis anggapan  bahwa sastra Jawa sudah mati, toh kalau sudah kita tidak pernah tahu di mana kuburannya, hadirnya buku antologi geguritan ini juga menjawab seperti apa sastra Jawa hari ini di tangan generasi muda,” papar Sukandar.

Sukandar berharap keberadaan sastra Jawa yang disengkuyung oleh generasi muda bisa hadir membuka pintu-pintu kesadaran bahwa zaman berubah berganti, tapi ada yang bertahan berkembang, meski ada pula yang akan hilang. Namun, selama masih ada bayi lahir, niscaya masa depan gemilang tidak usah dicemaskan. Begitu pula dengan hjagad sastra Jawa. “Kami berharap langkah awal teman-teman Komunitas Bala Jawa dan Komunitas Sastra rupa ini bukanlah yang pertama. Harus ada langkah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya dan selanjutnya,” pungkas Sukandar. (Latief S Nugraha)

 

 


share on: