Bangun Potensi Desa Bisa Diawali dengan Menulis Local Knowledge

share on:
Suasana sosialisasi oleh Wahyudi Anggoro || YP-Ist

Banyak elemen masyarakat dan perangkat desa atau kalurahan yang bertanya tentang cara membangkitkan potensi desa dan menjadikannya aset pembangunan yang lebih bermanfaat. Banyak program yang diarahkan ke desa namun tak banyak yang mampu menjadikannya berdaya guna. Di situlah letak peran penting desa sebagai agregator. Dan langkah awal yang bisa ditempuh adalah dengan menulis beragam local knowledge.

Demikian pesan Tenaga Ahli Badan Kesbangpol DIY Wahyudi Anggoro Hadi dalam Sosialisasi Masterplan Tatakelola Kolaborasi Ketahanan Ekonomi DIY yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY di Omah Tinom Sidoarum Godean Sleman, Rabu (2/8/2022). Sosialiasi dihadiri perwakilan perangkat, penggerak wisata dan tokoh masyarakat dari empat kalurahan, yakni Sidoarum, Tirtoadi, Nogotirto, Tlogoadi.

Dengan menulis, lanjut Wahyudi, kita bisa mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman agar bisa merekonstruksi kehidupan. Banyak local knowledge yang selama ini hilang atau tak kita ketahui.

“Mulailah dengan mengidentifikasi bentang alam dan bentang hidup. Jangan takut menulis sejarah meski modal awalnya hanya his story atau jarene. Selama ini kita hanya diwarisi tanah bukan pengetahuan. Silakan dicek, tanyakan kepada anak tentang nama pohon di sekitar rumah, kebanyakan mereka tidak tahu,” jelas Lurah Panggungharjo Sewon Bantul ini.

Untuk itulah, imbuh Wahyudi, pihaknya menginisiasi program Karangkitri sebagai laboratorium kebudayaan desa dan mencoba mendekatkan kembali kita dengan makanan.

“Dulu saat kita menikmati tempe, kita tahu siapa yang menanam kedelai, siapa yang membuat tempe, tetapi sekarang? Karena tak terhubung lagi dengan proses dan sejarah makanan maka tak ada rasa welas asih pada makanan,” tandasnya.

Merujuk amanah Ngarsa Dalem X, Wahyudi mengatakan bahwa kalurahan merupakan basis keistimewaan. Sangat tepat dengan beberapa alasan. Desa menyimpan tiga komoditas strategis, yakni air bersih, udara bersih, pangan sehat. Bahkan ketiganya menjadi motif negara-negara untuk berperang.

Sasikirana ST MSc saat memaparkan ide-idenya || YP-Ist

“Hari ini distribusi pangan kita dikuasai korporasi multinasional. Dan ketangguhan desa terbukti saat hadapi pandemi. Bagi saya, covid itu adalah krisis kota bukan desa,” tukasnya. 

Pembicara lain Haryono dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO). Terkait pemanfaatan Kali Bedog untuk aktifitas masyarakat seperti pariwisata, pihaknya mempersilakan pengelola untuk mengajukan pemberitahuan.

“Secara prinsip, sempadan sungai hanya bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk bangunan prasarana sumber daya air, fasilitas jembatan dan dermaga, jalur pipa gas dan air minum, rentang kabel listrik dan telekomunikasi, kegiatan lain sepanjang tidak mengganggu fungsi sungai serta bangunan ketenagalistrikan,” paparnya.

Sedangkan Kasie Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Sasikirana ST MSc menjelaskan pendataan terkait pencemaran Kali Bedog. “Dari pendataan kami di 18 kalurahan di 5 kapanewon, pencemaran berasal dari sampah, limbah rumah tangga dan limbah perikanan yang berada di sempadan sungai. Untuk menguranginya, kita bisa menanam tumbuhan yang bisa menyerap zat polutan. Tumbuhan bunga cokelat, lidi air, bunga ungu, dan melati air sangat efektif untuk mengurangi bau air karena limbah. Metode ini disebut Fitoremediasi,” jelasnya.

Menanggapi antusiasme para pengelola wisata yang menempatkan Kali Bedog sebagai locus utama, Wahjudi Djaja dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) mengusulkan agar dibentuk forum bersama lintas desa. “Kali Bedog merupakan andalan kita. Lima kalurahan yang ada di sekitar Sidoadum perlu segera membuat forum atau paguyuban agar bisa berkolaborasi satu sama lain dan bekerja sama dengan BBWSO, DLH, dan Dinpar,” usulnya. (Iud)

 


share on: