AKS AKK Sabet Juara Favorit Fantasy Make Up Namseoul University Korsel

share on:
Salah satu karya Make up Akademi Kesejahteraan Sosial Akademi (AKS) 'AKK' Yogyakartan || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (YOGYA) - Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) 'AKK' Yogyakarta meraih gelar Juara Favorit 'The 4th World N-Beauty Professional Online Contest'. Dalam kategori 'Fantasy Make-up’ yang digelar Namseoul University Korea Selatan tersebut, AKS AKK mengukir prestasinya melalui salah seorang mahasiswinya, Larda Mabrianza Narlita.

Larda berhasil menyisihkan beberapa kontestan lain seperti dari Korea, Cina, Taiwan, Vietnam, Nepal dan Mongolia. Ini merupakam gelar pertama bagi mahasiswi asal Sukoharjo Jawa Tengah tersebut untuk ajang internasional.

“Kalau tingkat nasional pernah juara sekali, kalau untuk internasional baru pertama kali ini. Sangat bersyukur bisa keluar sebagai Juara Favorit dalam ajang ini,” kata Larda ditemui di Kampus AKS 'AKK', Kamis (3/6/2021).

Dalam ajang ini Larda tampil dengan tata rias bertema Queen of The Dark. Tema ini menceritakan kecantikan seorang ratu di dunia kegelapan yang memiliki kekuatan sihir sangat kuat. 

“Tetapi di balik kekuatan tersebut ternyata sang ratu menyimpan kesedihan dan luka yang sangat dalam. Kharismatik seorang ratu ini terlihat dari mahkota Bali yang dikenakannya dan keunikan ragam bulu unggas hitam,” terangnya.

Karena menceritakan kegelapan, pewarnaan lebih dominan dengan hitam namun tak menghilangkan kecantikan sesunggunnya pada riasan wajah. Untuk dapat menghasilkan Queen of The Dark, mahasiswi Prodi Tata Rias Semester VI ini setidaknya membutuhkan waktu sekitar 5 jam. 

Direktur AKS AKK Yogyakarta, Dra Prihatin Saraswasti MA menjelaskan kampus yang dipimpinnya merupakan satu-satunya yang mewakili Indonesia dalam ajang ini. Kompetisi berskala internasional tersebut diikuti oleh para talenta dari berbagai negara di Asia

Selain kategori 'Fantasy Make-up’, AKS AKK juga mengirimkan wakilnya untuk kategori 'Nail Art'. Tema yang diangkat untuk kategori ini yakni tentang batik motif tradisional.

“Kami sengaja mengambil kategori yang unik dan memiliki faktor kesulitan tinggi. Tidak semua negara berani mengambil kategori tersebut karena butuh ketelitian dan karya yang dilombakan itu tidak semua peserta bisa melakukan,” ungkapnya.

Prihatin Saraswati mengungkapkan tak ada persiapan khusus dalam mengikuti ajang ini. Dalam perkuliahan sehari-hari para dosen maupun pengajar telah membekali mahasiswa dengan berbagai kemampuan untuk siap terjun dalam dunia kerja yang sesungguhnya.

Ia berharap dengan capaian ini dapat memotifasi mahasiswa untuk terus mengasah kemampuan agar dapat berprestasi dan bisa mengharumkan almamater maupun negara. Selain itu kesuksesan ini akan dijadikan AKS AKK untuk membangun jaringan, tak hanya nasional saja melainkan hingga internasional yang nantinya bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. (Eko Purwono)

 

 

 

 

 

 


share on: