Yogyapos.com (WONOSOBO) - Tim Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menyelenggarakan serangkaian program pengembangan agribisnis jamur tiram di Desa Karangsari, Wonosobo.
Program yang berlangsung sepanjang Agustus 2025 ini bertujuan mengatasi tantangan kemiskinan yang masih mencapai 22,8% atau setara dengan 175 Kepala Keluarga (KK), dengan menjadikan budidaya dan olahan jamur sebagai tulang punggung ekonomi desa yang berkelanjutan.
BACA JUGA:Â Muhammadiyah Resmikan Hutan Wakaf di Unimus
Program kolaboratif antara UMY, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mutiara Karangsari, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rukun Sejati ini berfokus pada tiga pilar utama, yaitu peningkatan produksi, diversifikasi produk, dan pemasaran digital. Dua pelatihan inti telah sukses dilaksanakan, yaitu Pelatihan Diversifikasi Olahan Jamur pada 15 Agustus 2025 dan Pelatihan Digital Marketing pada 23 Agustus 2025.
Dr Sriyadi SP MP selaku Ketua Tim Pengabdian, menekankan bahwa pendekatan yang digunakan bersifat holistik dan berbasis data.
"Berdasarkan identifikasi mendalam, kami menemukan akar permasalahan di rantai agribisnis jamur mitra, mulai dari produksi hingga pemasaran. Solusi yang kami tawarkan dirancang sistematis untuk tidak hanya menyelesaikan masalah teknis, seperti efisiensi produksi baglog dari limbah serbuk gergaji, tetapi juga membangun fondasi manajemen usaha dan akses pasar yang berkelanjutan. Target kami adalah menciptakan siklus usaha yang efisien, mandiri, dan langsung berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat," ujar Dr Sriyadi.
BACA JUGA:Â Kolaborasi Insed, Baznas dan KBPII Bakti untuk Pendidikan di Kabupaten Tegal
Ia juga menambahkan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari riset-riset terdahulu yang menunjukkan tingkat peningkatan pengetahuan dan kapasitas masyarakat yang signifikan, hingga 95% dalam memanfaatkan limbah gergaji.
Program ini memberikan dampak ganda. Secara ekonomi, pemanfaatan limbah secara langsung menekan biaya produksi dan menciptakan nilai tambah melalui produk olahan seperti keripik dan abon jamur. Hal ini membuka peluang lapangan kerja baru di sektor pertanian dan pengolahan pangan.
Dari perspektif sosial, Puji Qomariyah, Sosiolog dari Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, menjelaskan bahwa program ini berhasil memperkuat modal sosial dan peran perempuan di masyarakat.
BACA JUGA:Â Jumhur Tegaskan 3 Juta Keluarga Besar Buruh KSPSI Tak Ikut Demo 28 Agustus
"Intervensi yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membangun jejaring dan kolaborasi antar pelaku usaha. Pelibatan KWT Rukun Sejati secara aktif dalam diversifikasi produk dan pemasaran telah mendorong peningkatan partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam ekonomi keluarga. Pelatihan kewirausahaan mengubah pola pikir dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen produk jadi yang memiliki nilai jual dan daya saing lebih tinggi. Ini adalah kunci menuju kemandirian ekonomi desa," jelas Puji Qomariyah.
Keberhasilan tahap awal ini tidak lepas dari komitmen kuat masyarakat dan dukungan institusi. Program PMM Tahun ke-1 ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia melalui Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Kedepannya, tim berkomitmen untuk terus mendampingi mitra hingga mampu mengelola usaha agribisnis jamur secara mandiri dan siap bersaing di pasar yang lebih luas. (*/Red)
