Tugino Istiqomah Tekuni Ban Bekas

share on:
Tugino di bengkel kreasinya || YP-Wahjudi Djaja

USIA sudah merangkak dan mendekati kepala tujuh. Beragam peran kehidupan sudah pernah dilakukan. Tetapi tanggung jawab pada hidup mendorongnya untuk tetap berkarya meski dari barang yang mestinya sudah dibuang.

Lahir di Ngasem Kidul, Plembutan, Playen, Gunung Kidul seolah bukan halangan untuk bisa berkreasi mengembangkan imaji demi kelangsungan hidup keluarga yang amat dia cintai. Tugino, yang setelah menikah berganti nama Harto Diyono tergolong sosok yang menyukai tantangan.

“Saya sudah mulai memproduksi berbagai model sandal ban sejak 40 tahun, Mas. Saat itu saya merantau ke Semarang, dipertemukan dengan orang yang mengolah ban bekas menjadi beraneka kerajinan,” katanya memulai cerita. Saat berusia 26 tahun, sambungnya, sudah bisa membuat sandal, perlengkapan truk, kursi, dan bermacam-macam ganjal atau penguat pada baut kendaraan.

Setelah menikah Tugino memutuskan untuk tidak lagi di Semarang. Ia pindah ke Yogyakarta. Bersama tiga orang teman, ia menyewa rumah di Semaki untuk meneruskan usaha kerajinan dari ban bekas.

“Mereka tidak tahan banting, sehingga saya tinggal sendirian. Saya berusaha membuat sandal ban, tlumpah, sandal kuda, dan theklek untuk dijual di pasar Beringharjo,” tandasnya mengenang.

Sendirian mencari ban bekas lalu mengubahnya menjadi aneka barang kerajinan nampaknya semakin berat dilakukan. Pak Ino, demikian dia sering disapa, akhirnya memutuskan kembali ke Gunung Kidul.

“Dekat anak istri itu membuat hati tentram, Mas. Apalagi disini juga ada beberapa perusahaan bus yang memperbolehkan ban bekasnya saya ambil,” paparnya.

Beragam model sandal ban karya Pak Ino diambil tengkulak kemudian dikirim ke berbagai kota, mulai Yogyakarta, Semarang, Jakarta. Harganya mulai 15 ribu sampai 50 ribu sesuai desain.

“Sehari saya bisa membuat 6 pasang. Saya tidak stok, hanya membuat berdasarkan pesanan. Tenaga saya sudah tidak sekuat dulu, Mas,” jelasnya.

Tinggal di RT 05 Ngasem Kidul Plembutan, ayah dua anak ini merasa bersyukur bisa menghidupi keluarganya dari mengolah ban bekas. Tugino mendirikan bengkel sederhana di tepi jalan desa untuk melanjutkan keahliannya.

“Banyak pemesan maupun pengepul yang datang kesini. Hasil dari usaha ban bekas ini bisa untuk membiayai sekolah dan kuliah anak. Segala sesuatu kalau dikerjakan secara ikhlas, pasti akan meninggalkan bekas, Mas,” katanya penuh filosofis. (Wahjudi Djaja)

 


share on: