Tim JPU: Tak Ada Novum, Hakim PK Dimohon Menguatkan Putusan Kasasi

share on:
Advokat Deddy Suawadi berkomunikasi secara daring dengan kliennya, Topan Satir SE MM, Kamis (22/10/2020) || YP-Ismet

Yogyapos.com (YOGYA) – Sidang lanjutan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan terdakwa korupsi Topan Satir SE MM, di PN Yogya, Kamis (22/10/2020) berlangsung singkat, dipimpin hakim tunggal Hindratmoko SH.

Dalam sidang tersebut, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Wayan Wahyudisastra  Ernawati SH dan Tri Widhi SH menyerahkan jawabann, yang pada pokoknya bersikap tetap pada dakwaan dan tuntutan, serta sepakat dengan putusan majelis hakim kasasi.

“Kami memohon hakim agar menolak PK,” pinta tim JPU dalam persidangan yang menghadirkan terdakwa secara daring.

JPU menyatakan tak ada novum (bukti baru) dalam PK yang diajukan terdakwa yang mantan Direktur Utama PT Anindya Mitra Internasiional (PT AMI) Yogyakarta itu.

Sebab itu JPU minta hakim untuk menguatkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1372K/Pid-Sus/2017 tanggal 20 Maret 2018 jo Putusan Pengadilan Tinggi Yogyakarta Nomor 5/Pid Sus-TPK/2015/PT.YYK tanggal 24 Juli 2015 jo Putusan Pengadilan Tipikor pada PN Yogya Nomor 10/Pid Sus-TPK/2016/P.Tipikor Yk tanggal 21 November 2016.

Putusan kaasasi MA itu menghukum terdakwa 4 tahun penjara, denda Rp 200.000.000 (subsider 6 bulan) dan Uang Pengganti Rp 439.715.504 (subsider kurungan 1 tahun).

Namun sebagaimana diberitakan sebelumnya (yogyapos.com, 17/10/2020), putusan MA dinilai keliru dalam penerapan hukum. Tuduhan korupsi terhadap terdakwa dengan merealokasiakan anggaran yang dananya bersumber dari Tambahan Modal Pemda DIY sejumlah Rp 3,2 miliar tanpa persetujuan Gubernur DIY sehingga menimbulkan kerugian Rp 856.874.164, itu tidaklah benar.

“Sebab realokasi dana itu dilakukan berdasarkan dan disetujui oleh RUPS,” ujar Koordinator Tim Pengacar terdakwa, Deddy Suwadi SH.

Tambahnya, pada 2006 kinerja 5 program menghasilkan laba sejumlah Rp 3,192 millyar. Sehingga mampu menghindarkan PT AMI dari ancaman kerugian akibat gempa bumi sejumlah Rp 1,722 miliar yang secara korporat pada tahun 2006, PT AMI berhasil mendapatkan keuntungan sejumlah Rp 1,021 milyar sesuai hasil Audit Akuntan Independence.

“Jaksa dalam dakwaannya hanya menghitung kinerja Buffer Stock ditahun 2007 sebagai kinerja atau manfaat kebijakan Realokasi Anggaran. Itu keliru,” jelasnya. (Met)

 

 


share on: