Tergugat Arisan Online Tak Muncul di Sidang Mediasi, Para Penggugat Kecewa

share on:
Advokat Mahendra Handoko SH memberikan keterangan pers usai sidang mediasi gugatan perbuatan melawan hukum terhadap tergugat GP dan Dt, di PN Bantul, Selasa (22/6/2021) || YP-Ismet NM Haris

Yogyapos.com (BANTUL) - Sejumlah Emak-emak yang menggugat pengembalian uang Arisan Hoki terhadap GP selaku Tergugat I dan Dt Tergugat II, bagai menelaan pil pahit. Pasalnya kedua tergugat kembali tidak hadir dalam mediasi di PN Bantul, Selasa (22/6/2021).

Ini kedua kalinya tergugat tidak menghadiri mediasi. Ketidakhadiran mereka disampaikan kuasa hukumnya, Tatag Swasana SH, lantaran yang brsangkutan terindikasi terpapar Covid-19 dan masih harus menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Klien kami sepulang tugas dari Garut selaku Anggota dewan terndikasi Covid-19, maaf sehingga belum bisa hadir,” ujarnya kepada wartawan usai sidang.

Meski tidak hadir ke sidang mediasi, tapi Tatag menyatakan kliennya bersedia melakukan penyelesaian kekeluargaan. Guna keperluan tersebut pihaknya minta kepada penggugat untuk menyerahkan rekapitulasi kerugian sebagai bukti formil.

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum penggugat Mahendra Handoko menyatakan dalam mediasi di hadapan hakim tunggal pada pokoknya sama-sama menghendaki dilakukan penyelesaian kekeluargaan.

“Dengan adanya itikas penyelesaian kekeluargaan, klien kami ini sekarang tidak perlu membawa poster-poster seperti pekan lalu,” tukasnya di halaman kantor PN Bantul.

Mahendra menegaskan, sebenarnya mengenai kerugian sudah tercantum dalam gugatan. Tapi kalau memang menginginkan rincian lebih lanjut maka akan disertakan. Bahkan rinciannya nanti akan dikuatkan dengan saksi-saksi yang jumlahnya mencapai 30 orang. “Kami punya saksi sesama peserta arisan sekitar 30 orang,” katanya.

Di sisi lain, Mahendra juga membantah mengenai rumor uang Rp 500 juta dari tergugat kepada kliennya. Melainkan yang sebenarnya terjadi adalah uang Rp 200 juta tapi yang sampai ke tangan penggugat Rp 160 juta. Uang Rp 160 juta pun bukan semata-mata untuk penggugat. “Uang Rp 160 juta itu untuk menghidupkan lagi arisan yang sempat 5 kali berhenti, setelah akhirnya memang berhenti total,” jelas Mahendra.

Mahendra kembali mengingatkan, Arisan Hoki dibentuk oleh Tergugat I. Dia adalah owner sekaligus mengikuti arisan tersebut pada April 2020, serta punya kewenangan penuh memilih member yang diizinkan mengikuti room arisan senilai Rp 1 juta sampai Rp 50 juta. Arisan ini semula lancar, tapi memasuki September mulai tersendat dan macet total pada Januari 2021 hingga menimbulkan kerugian bagi penggugat Rp 1.018.492.000. Kerugian material itulah yang sudah dicantumkan dalam gugatan. Tergugat dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum. (Met)  


share on: