Tarwin, Jukir Populer : Rezeki Tidak Kemana

share on:
Tarwin populer di kalanngan pengacara, wartawan, jaksa, anggota hingga hakim || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Bagi Tarwin (60) menjadi juru parkir (Jukir) atau tukang parkir bukan suatu pilihan. Tetapi demi untuk menafkahi keluarga, apapun pekerjaannya harus tetap dijalani dengan ikhlas dan sungguh-sungguh agar dapat mendatangkan ridlo dari Sang Pencipta. Termasuk ketika akhirnya menjadi Jukir.

Sebelum pindah ke DIY, pria paruh baya ini merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai petugas keamanan pada 1984 hingga tahun 2000. Namanya sudah tidak asing dkalangan para penegak hukum, sejak menjadi Jukir kendaraan roda dua maupun roda empat untuk kalangan Advokat, Anggota Kepolisian, Kejaksaan, pegawai Pengadilan Negeri Sleman (PN) dan masyarakat lantaran lokasi parkir yang dikelolanya disediakan khusus bagi tamu yang hendak mengunjungi kantor Pengadilan Negeri di Jl KRT Pringgodiningrat No. 1 Beran, Tridadi, Sleman.

“Sebelumnya saya kerja sebagai sekuriti di Jakarta, menjadi petugas parkir saya jalani sejak tahun 2001sampai dengan 2007. Pertama kali dengan lokasi halaman parkir kantor PLN Sleman,” kata pria asal Kabupaten Kuningan Jawa Barat ini kepada yogyapos.com, Kamis (20/10/2021) di halaman parkir komplek Lapangan Tenis Pemkab Sleman.

Sejak tahun 2007, ungkap dia, dirinya mendapatkan izin resmi dari Perhubungan Sleman untuk mengelola parkir di halaman kantor PN Sleman, namun sekarang pindah ke halaman komplek Lapangan Tenis Pemkab Sleman hingga sekarang.

“Saya selalu bersyukur dan senang menjalani pekerjaan ini (juru parkir), dari sini saya merasa makin banyak teman dan saudara, bertemu dengan rekan wartawan yang akan meliput di PN, ketemu Hakim, Jaksa, Polisi dan masyarakat luas,” ungkap dia bapak dua anak yang akrab dengan jurnalis dari berbagai media massa.

Ia mengaku mulai tinggal di Kabupaten Sleman sejak tahun 1988. Berharap agar penerapan restribusi pada izin parkir yang dikelolanya tetap dapat terjangkau tarifnya.

“Selama ini saya bayar restribusi kurang lebih Rp 200 ribu per bulan. Hari Sabtu dan Minggu libur, kalau hari Jumat biasanya sepi, karena tidak ada jadwal sidang di Pengadilan. Tarif parkir Rp 2 ribu, tapi kadang ada juga yang ngak membayar karena kami sudah akrab. Alhamdulillah sehari bisa dapat Rp 40 ribu hingga Rp 80 ribu,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

Jika Jumat dan Sabtu kondisi parkir tak sepi, tak seperti biasa. Tapi ia tetap beker. Tidak suka ngresula, serta selalu yakin bahwa ‘Rezeki Tidak Kemana’. Buktinya, dalam suasana sepi, apalagi sejak pandemi 

Hingga kini seringkali rezeki menghampiri. “Ujug-ujug ada saja kawan pengacara dan mas-mas wartawan meskipun sekadar numpang lewat tapi ninggalin duit,” akunya, bersyukur. (Opo)

 


share on: