Suparno, Ikut Lestarikan Warisan Budaya Melalui Kerajinan Wayang

share on:
Suparno diantara hasil kerajinan tangannya || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Motivasi dan kesungguhan merupakan modal bagi seseorang untuk meraih kesuksesan dalam berkarya. Hal inilah yang diyakini Suparno (49), warga Karangmojo Trirenggo Bantul Kabupaten Bantul. Berkat motivasi dan kesungguhan, ia pun sanggup berkreasi di bidang craft souvenir. Hasil kreasinya memiliki nilai seni dan ekonomi.

Lelaki ramah pemilik TONK Craft Sovenir dan Handy Craft ini, alhasil, ternyata juga relatif bisa meraih kesuksesan berkat motifasi yang kuat, kreatif dan ketelatenannya.

“Saya semula hanya bermodalkan bermotivasi untuk melestarikan budaya wayang dan kaligrafi. Ternyata juga bisa memberikan hasil yang cukup lumayan,” ujar Suparno, pemilik TONK Craft Souvenir dan Handycraft kepada yogyapos.com, di rumahnya yang juga tempat usahanya, RT 02 Trirenggo, Bantul, Jumat (11/9/2020).

Wayang kulit dan kaligrafi, itulah ikon usaha Suparno. Kepiawaiannya membuat wayang dan kaligrafi dilakukan secara otodidak. Semula hanya mengamati perajin lain, lalu mencoba dan terus mencoba berkreasi. Sehingga karyanya memiliki kekhasan. Ia memadukan unsur dominan lem tembah dan pewarnaan prodho emas dalam karya-karyanya.

“Jangan lupa juga, saya sampai sekarang masih terus belajar untuk mengembangkan karya dan usaha ini melalui youtube. Baik itu tentang pengembangan kreasi maupun pemasaran,” selanya,

Kekhasan karyanya ternyata diminati konsmen. Bukan saja dari Bantul, tetapi juga luar kota dan manca negara. Dari pejabat, kolektor, umum dan sebagian seniman. Bahkan ada beberapa petinggi lembaga legislatif DPR RI dan eksutif yang memasannya. “Ada sejumlah politisi pusat misalnya yang memesan lukisan wajah Pak Jokowi,” aku Suparni, bangga.

Suparno mematok harga handycraft bervariasi atau tergantung pada jenis, ukuran dan kualitasnya. Contohnya, wayang kulit sekitar Rp 300.000 per unit, kaligrafi Rp 350.0000 per unit. Demikian pula ragam  untuk pelengkap mahar pengantin dipatok dengan harga yang sama.

“Terus terang nih, saya semula melakukan ini semua karena hobi. Bikin wayang juga karena hobi dan ingin ikut melestarikan budaya nenek moyang. Ya awalnya sebatas memperoleh kepuasan. Tapi ternyata seiring perkembangan waktu malah mendatangkan keuntungan ekonomi. Karenanya saya meneruskan pekerjaan ini,” pungkas Suparno. (Supardi)

 


share on: