SP3 Kasus Dugaan Pemerkosaan Pegawai di Kemenkop dan UKM Dinyatakan Batal

share on:
Mahfud MD || YP-Ist.Tayangan Youtube Kemenko Polhukam

Yogyapos.com (JAKARTA) - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyatakan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus dugaan kekerasan seksual terhadap NDN pegawai Kantor Kementerian Koperasi dan UKM dibatalkan.

Dengan dibatalkannya SP3, maka konsekuensinya proses hukum terhadap empat tersangka berinisial N, MF, WH dan ZPA kembali berjalan, begitu juga saksinya dianggap terlibat yaitu A, T dan H supaya terus diproses di Pengadilan.

Hal itu menjadi bagian dari hasil rapat bersama tentang kasus pemerkosaan terhadap pegawai Kemenko UKM, yang dihadiri Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban( LPSK), Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskim) Polri, Komisi Polisi Nasional (Kompolnas), Kejaksaan Agung, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementeriam Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), di Kantor Kemenko Polhukam, seperti dilansir InfoPublik, Senin (21/11/2022).

“Alasan SP3 karena pencabutan laporan itu tidak benar secara hukum. Di dalam hukum, laporan tidak bisa dicabut. Kecuali pengaduan dapat dicabut,” tegas Mahfud MD dalam update Kemenko Polhukam.

Menko Polhukam menyatakan tidak ada restorative justice terhadap kejahatan serius seperti pemerkosaan itu. “Tidak ada konsep restorative justice pada kejahatan yang serius. Karenanya, perkara tersebut harus terus dibawa ke Pengadilan,” tegas Mehfud.

Menteri Mahfud menegaskan Mahkamah Agung (MA), Kejaksaan Agung, hingga Polri telah memiliki pedoman terkait restorative justice. “Restorative justice itu bukan sembarang tindak pidana orang mau berdamai lalu ditutup kasusnya. Jelas itu tidak bisa,” jelas Mahfud. (*)

 


share on: