Siti, Jadi Petani Hidroponik Berawal Hobi dan Didukung Suami

share on:
Siti Fadilah di pekarangan rumahnya yang telah disulap menjadi lahan pertanian hidroponik || YP-Agung dwi Purwanto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Ada ragam cara memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah sedemikian rupa untuk usaha produktif, sehingga menghasilkan nilai ekonomi. Salah satunnya menjadikan lahan tersebut sebagai area bertani sayur hidroponik.

Hal itu seperti dilakukan oleh Siti Fadilah yang sejak 2018 menjadi petani sayuran hidroponik. Lahan yang digunakan untuk bertani tak lain adalah pekarangan rumahnya di wilayah Jlegongan RT 1 RW 11, Margodadi, Sayegan, Sleman.

“Daripada pekarangan rumah kurang bermanfaat, maka kami gunakan untuk menanam sayuran secara hidroponik,” ujar Siti Fadilah yang mendapat dukungan dari suaminya, Kardino.

Ibu dari 5 anak ini menunuturkan, awalnya tergerak menjadi petani sayuran hidroponik lantaran hobi bercocok tanam. Tapi saat itu yang ditanam sekadar beragam bunga atau tanaman hias. Inspirasi muncul dari berbagai informasi teman maupun media massa, termasuk medsos.

Sejak itu ia menyiapkan bibit, media tanam dan paralon sebagai perangkat utama. Bersama suami, mulailah menyemai bibit sawi di lembaran sabut gabus yang sudah dibasahi menggunakan air bernutrisi. Setelah 4-5 muncul tunas, segera dipindahkan ke dalam sejumlah pot yang masing-masing telah diberi media tanam tanah sedikit maupun kain vanel dan diletakkan berjejer di atas pipa paralon.

Fungsi kain vanel ini untuk alur penyerap air dari pipa paralon ke dalam pot. Proses demikian boleh dianggap setengah jadi. Tinggal menunggu pertumbuhan hingga 35-40 hari, tanaman pun tumbuh segar dan siap dipanen.

“Uji coba pertama ternyata langsung berhasil, bisa dinikmati keluarga maupun tetangga. Kami menanam lagi dalam jumlah yang lebih banyak,” kenangnya.

Dari keberhasilan itu, Siti melanjutkan hobi tanam ini hingga sekarang. Dari semula cuma beberapa pot, seiring perjalanan waktu hobi tersebut berkembang dan mengarah ke usaha bisnis. Dari semula hasil panen Cuma untuk kebutuhan keluarga dan dinikmati beberapa tetangga, kini dibeli oleh pelanggan dan bakul-bakul.

Lumayan nilai ekonominya, apalagi di masa pandemi. Satu pot dari sebiji sawi yang berhasil dipanen dan siap konsumsi laku Rp 1.500. Dan di pekarangan rumahnya kini berjejer pot-pot yang ditumbuhi ragam sayur yang masa panennya berurutan, sehingga siap dijujuk oleh para pembeli.

“Alhamdulillah, dari hobi sekarang bisa dinikmati secara ekonomi. Jadi, intinya metode tanam hidroponik ini sangat ekonomis medianya, tapi lumayan menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Bahkan hasil tanamnya pun lebih higienis,” ujar perempuan ramah ini, tersenyum. (Agung Dwi Purwanto)

 


share on: