Sidang Dugaan Pemalsuan Nilai Ijazah, Pengacara Terdakwa Nyatakan Dakwaan Jaksa

share on:
Tim pengacara terdakwa membacakan eksepsi dihadapam majelis hakim diketuai Adi Satrija Nugraha SH, di PN Sleman, Selasa (3/8/2021) || YP-Agung Dwi Purwanto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Sidang lanjutan perkara dugaan pemalsuan nilai ijazah Yogya Independent School (YIS) terkait dengan terdakwa Spt (40) digelar kembali, di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Selasa(3/8/2021). Dalam eksepsinya, E Hudiyanto SH dan Anton Bayu Samudra SH menyatakan surat dakwaan jaksa Siti Muharjanti SH yang menerapkan Pasal 266 ayat 1 KUHP, tidak jelas atau kabur. Karena menyuruh memasukan keterangan palsu ke dalam akte otentik tidak pernah ada.

Menurutnya, Ijazah Tahun Ajaran 2015/2016 itu asli dan terdaftar di Dinas Pendidikan Provinsi Yogyakarta dan nilai di Ijazah adalah sah serta sesuai dengan SE Kemendikbud RI. Ini juga diperkuat dengan keterangan saksi dan ahli dari Kementrian Pendidikan atau Dinas Pendidikan yang sudah dimintai keterangan dari penyidik kepolisian pada waktu  melakukan pemeriksaan yang dibuat dalam Berita Acura Pemeriksaan (BAP).

“Bahwa untuk menilai ijazah itu otentik atau bukan, Kementerian Pendidikan atau Dinas Pendidikan yang memiliki kewenangan tersebut,” tandasnya di hadapan majelis hakim diketuai Adi Satrija Nugraha SH.

Disamping itu, bahwa Jaksa didalam merumuskan surat dakwaanya hanya merujuk kepada keterangan saksi yang bersumber dari pengakuan saksi korban Erika dengan mengeyampingkan fakta hukum lainnya. Termasuk mengabaikan fakta hukum bahwa tidak ada nila atau ijazah palsu sebagaimana dalam berita acara pemeriksaan (BAP) berdasarkan keterangan saksi ahli.

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, tim pengacara memohon pada majelis hakim berkenan memberikan putusan sela dengan amarnya yakni menerima eksepsi keberatan dari terdakwa. Selain itu juga menyatakan dakwaan penuntut umum terhadap terdakwa batal demi hukum atau tidak diterima dan bukan tindakan tidak pidana namun ruang lingkup perdata.

Seperti diberitakan sebelumnya, jaksa dalam dakwaanya mengunhkapkan bahwa pemalsuan itu bermula keterangan menjelang kelulusan siswa angkatan 2015/2016 belum ada nilai pada mata pelajaran Budi Pekerti, PPKN dan Agama termasuk nila untuk Adelia Monique Kirana Ebener tak yang lain anak dari pelapor Erika.

Menurut jaksa, terdakwa yang menjabat sebagai bendahara menyuruh seorang staf bernama Anna Indian Silvia untuk mebubuhkan nila 80 di masing-masing mata pelajaran tersebut. (Agn/Met)

 


share on: